Badan saya kurang enak pekan ini. Punggung saya penyebabnya. Juga makanan rujak cingur yang entah bikin saya murus-murus. Alhasil seharian di kantor saya cuma browsing saja mencari materi dan bahan untuk taping dua minggu mendatang. Semoga saja ini hanya sampai akhir pekan saja.
Gawat. Kalau tidak enak badan ini berlanjut hingga pekan depan. Pasalnya minggu depan akan padat. Narasumber banyak yang belum fix. Jadi semoga alam semesta melimpahkan rahmatnya pada saya agar saya sehat.
Ngomong-ngomong, badan ini kurang begitu enak karena sepekan ini saya absen renang. Bukan saya malas. Tapi bulanan yang wajib dijalani perempuan membuat saya mesti absen dulu berenang. Akibatnya punggung ini nyeri sekali. Menjalar ke kepala. Jadi penasaran apa penyebabnya.
Palmerah, 10 Juli 2013
Rabu, 10 Juli 2013
Selasa, 09 Juli 2013
Siang di Salihara Bersama Mas Goen
Senin, 8 Juli 2013 saya menemui Mas Goen di Salihara. Pertemuan yang membekas di hati saya. Kami bicara beberapa hal. Tentu yang akan saya ceritakan soal membuat buku yang kami rencanakan bertahun lalu. Buku tentang Pak Djoko Pekik, pelukis Celeng yang tersohor itu. Harga lukisannya tergolong termahal pada saat itu. Rp 1 miliar. Semula saya hanya mewawancarai Pak Pekik dan beberapa orang di sekitarnya. Tapi saya tidak ingin hanya mewawancara saja. Saya mengutarakan niat saya untuk belajar menulis.
Belajar langsung dari sang suhu, penulis Caping Majalah Tempo tentu akan berbeda rasanya. Mas Goen menyambut keinginan saya. Aih senangnya. Tapi buru-buru saya bilang. "Kalau terlalu ringan, mohon dimaklumi ya, Mas?" Mas Goen bilang,"Justru jangan berat semua. Memang bagian saya sangat berat."
Wah rasanya saya melayang. Senang betul. Saya merutuki diri, kenapa tidak dari dulu saya sampaikan keinginan ini. Kami harus bergegas menuntaskan buku ini. Dan saya sudah menyiapkan diri melekan dan bekerja keras untuk menuntaskan ini.
Semoga alam semesta memberkahi.
Palmerah, 10 Juli 2013
Kamis, 04 Juli 2013
Meluncurkan Buku The Children of War
Lega dan senang. Dua kata sudah cukup untuk menyatakan perasaan saya setelah buku The Children of War diluncurkan. Buku ini merupakan ide Forum Silaturahmi Anak Bangsa yang datang dari berbagai anak korban konflik di Indonesia. Saya beruntung terlibat di dalamnya. Proses pembuatannya ....woooow. Berliku. Semula saya hanya menjadi proof reader. Tapi meningkat menjadi editing....lalu ikut menulis meskipun hanya beberapa judul saja. Maka jadilah buku itu milik tim, bukan saya pribadi.
Saya belum sanggup membuat buku tunggal. Kalaupun ada yang tengah saya siapkan adalah sesosok yang sangat saya kagumi. Dan buku itu belum jadi. Aihhhh kapan ya? Tapi meski begitu, senang rasanya sudah menuntaskan buku itu. Tokoh-tokoh di dalamnya itulah yang membuat saya bersedia menjadi bagian tim. Bayangkan! Banyak sejarah terserak yang belum banyak diceritakan dari keluarga pelaku peristiwa 1965, pemberontakan DI/TII, PSI, dll. Iam lucky girl. Berkarya itu impian saya. Jika buku itu menginspirasi banyak orang alangkah senangnya.
Dan... Rabu, 3 Juli 2013, peluncuran buku itu berlangsung di Gedung MPR Nusantara 5. Pembahasnya, pengamat politik dan militer Salim Said, Jenderal (Purn) Luhut Panjaitan, Baskara T Wardaya SJ, Sidharto Danusubroto (hanya beberapa jam setelah hadir di peluncuran, dia menjadi Ketua MPR) dan dimoderatori Budiarto Sambaz. Tamu undangan yang direncanakan hanya 150 orang membludak menjadi 230-an orang.
Acara sukses dan semua orang berbahagia. Saya terharu. Untuk Indonesia yang lebih baik, semoga silaturahmi anak-anak korban konflik ini menjadi nafas bagi rakyatnya. Seseorang yang sudah selesai dengan dirinya akan mencapai pembebasan. Dendam, luka, pada akhirnya akan pupus.
Palmerah, 5 Juli 2013.
Saya belum sanggup membuat buku tunggal. Kalaupun ada yang tengah saya siapkan adalah sesosok yang sangat saya kagumi. Dan buku itu belum jadi. Aihhhh kapan ya? Tapi meski begitu, senang rasanya sudah menuntaskan buku itu. Tokoh-tokoh di dalamnya itulah yang membuat saya bersedia menjadi bagian tim. Bayangkan! Banyak sejarah terserak yang belum banyak diceritakan dari keluarga pelaku peristiwa 1965, pemberontakan DI/TII, PSI, dll. Iam lucky girl. Berkarya itu impian saya. Jika buku itu menginspirasi banyak orang alangkah senangnya.
Dan... Rabu, 3 Juli 2013, peluncuran buku itu berlangsung di Gedung MPR Nusantara 5. Pembahasnya, pengamat politik dan militer Salim Said, Jenderal (Purn) Luhut Panjaitan, Baskara T Wardaya SJ, Sidharto Danusubroto (hanya beberapa jam setelah hadir di peluncuran, dia menjadi Ketua MPR) dan dimoderatori Budiarto Sambaz. Tamu undangan yang direncanakan hanya 150 orang membludak menjadi 230-an orang.
Acara sukses dan semua orang berbahagia. Saya terharu. Untuk Indonesia yang lebih baik, semoga silaturahmi anak-anak korban konflik ini menjadi nafas bagi rakyatnya. Seseorang yang sudah selesai dengan dirinya akan mencapai pembebasan. Dendam, luka, pada akhirnya akan pupus.
Palmerah, 5 Juli 2013.
Buku The Children of War
Info Buku
Buku : “The Children
of War”
Penerbit : Penerbit Buku Kompas, Juni 2013
Tim Penyusun: Nina Pane, Stella
Warouw, Bernarda Triwara Rurit
Pernahkah membayangkan orangtua kita saling membunuh karena
perbedaan ideologi, saling bermusuhan karena situasi politik? Sejarah kelam Republik
ini telah menggoreskan luka begitu dalam bagi orang-orang yang terlibat. Sebut
saja, tragedi 30 September 1965, pemberontakan DI/TII, pemberontakan PRRI/Permesta,
Gerakan Aceh Merdeka, dan lain-lain. Perasaan terhina, dendam, benci, takut,
menjadi pergumulan setiap pribadi. Beberapa orang di antaranya mengalami trauma
psikologis. Pertanyaan pun berseliweran di kepala. Pihak yang orangtuanya
dibunuh penasaran bagaimana caranya dibunuh? Oleh siapa? Sementara pihak yang
tertuduh menjadi pembunuh juga penasaran, benarkah orangtuanya menjadi otak pembunuhan
itu?
Judul buku ini diilhami
dari sebutan terhadap anak-anak korban Perang Dunia I & II secara universal
yaitu the Children of War. Buku “The Children of War” merupakan buku
pertama yang menceritakan bersatunya anak-anak korban perang dari orangtua
mereka yang berbeda ideologi di Indonesia. Di antara mereka adalah putra-putri
Pahlawan Revolusi, putra-putri tokoh PKI dan PSI, putra-putri para tokoh
pemberontak seperti Kartosuwiryo dan Daud Beureuh.
Kisah-kisah yang mengharu biru di dalam buku ini dibuka oleh
pertemuan perdana Nani Sutojo puteri Mayjen TNI (anumerta) Sutojo Siswomihardjo
dan Sugiarto putera “Jenderal Merah” Brigjen Supardjo. Anak dua jenderal yang
mula-mula canggung ketika bertemu inilah yang membuka jalan bagi terwujudnya perdamaian.
Tentu tidak mudah mempertemukan mereka. Melalui para tokoh dari organisasi
Pemuda Panca Marga (PPM), dua orang tak
saling mengenal ini bertemu dan berbicara tentang keresahan mereka mengenai
dendam, luka lama, dan semangat menyuarakan kata damai. (halaman 3)
Maka sekitar tahun 2000 dilakukan “gerilya perdamaian” dengan
menghubungi anak-anak yang masih ”dikuasai” perasaan dendam dan mudah dibakar
emosinya, agar mau duduk bersama dengan anak-anak dari pihak yang
”berseberangan”. Tidak mudah mengajak pihak-pihak yang “berseberangan” untuk
mau duduk bersama dan berdialog. Ada yang hingga beberapa kali diundang baru
bersedia datang, ada yang masih terus menolak. Namun dengan kesabaran dan
itikad untuk bersama- sama ”menghapus luka lama” dan saling ”menghilangkan
dendam”, mereka yang sudah mau duduk bersama dan berdialog bersepakat untuk
membentuk wadah yang dinamakan “Forum Silaturahmi Anak Bangsa” (FSAB) dengan
motto “Berhenti Mewariskan Konflik, Tidak Membuat Konflik Baru”. Gerakan moral
ini diawali dari panggilan jiwa anak-anak Pejuang yang gundah gulana bahwa
bangsa Indonesia berada dalam bahaya perpecahan bila masih berada dalam
”tawanan” konflik masa lalu, yang menjadi seperti api dalam sekam yang setiap
saat mudah terbakar.
Buku ini sayang untuk dilewatkan karena cerita-cerita terserak
dari para putera-puteri tokoh yang saling berseberangan ini menjadi bagian
sejarah bangsa Indonesia. Banyak kisah yang ada di dalam buku ini tak akan
dijumpai dalam buku-buku lain maupun liputan media. Sebut saja kisah mantan
Kepala Staf Teritorial Mabes TNI Letjen (Purn) Agus Widjojo. Dalam subjudul “Agus Widjojo dan Kisah Sepatu
Lars”, Agus Widjojo menceritakan
peristiwa malam “penjemputan” sang ayah di Jalan Sumenep 17. Dari penuturannya,
kita akan dibuat terharu ketika seorang remaja berusia 17 “dipaksa” menghadapi masa depan tanpa sang
ayah, setelah sebelumnya pada usia 5 tahun, Agus Widjojo sudah ditinggal oleh
ibu kandungnya. (halaman 59) atau kisah Svetlana Nyoto, puteri Nyoto yang
memilih tak memiliki sahabat agar jati dirinya tak terungkap. (halaman 126).
Tentu saja FSAB bukanlah akhir. Rekonsiliasi yang bisa
menggulirkan gerakan nasional negeri ini belumlah mencapai kata final. FSAB
sebagai institusi tengah bergerak menuju muara itu, meskipun jalan berliku akan
dialami sama seperti ketika FSAB dibentuk. Rekonsiliasi tidak dapat diwujudkan
hanya melalui tuntutan kepada pihak lain, karena rekonsiliasi sebenarnya
diawali dengan pembukaan diri sendiri. Tanpa kemauan dan kemampuan tersebut tak
akan ada proses penyembuhan, sebagai syarat menuju rekonsiliasi. Apabila
sebuah proses rekonsiliasi dilakukan secara benar dan objektif, diyakini bahwa
pelajaran yang dapat dipetik bukanlah berpihak pada satu pihak tertentu untuk
mengatakan pihak yang mana yang benar dan pihak yang mana yang salah, tetapi
pelajaran tersebut diharapkan akan mengungkapkan sisi kelemahan dari kehidupan
kebangsaan yang memungkinkan kesalahan dilakukan oleh berbagai pihak yang
membuka jalan bagi terjadinya konflik.
Lao Tzu, ahli filsafat terpopuler dari China mengatakan
jika seseorang ingin berada dalam batin yang damai, maka dia hidup di saat ini.
Sebaliknya, jika dia terus memelihara kesedihan, dia hidup di masa
lalu. Apa yang dikatakan Lao telah menembus batin anak-anak korban konflik ini.
FSAB inilah perwujudannya.
Jumat, 14 Juni 2013
Berbenah Ruangan Itu Menyenangkan
Sudah dua bulan ini saya tinggal di apartemen. Sejak menempatinya, hobi baru saya berbenah-benah. Lumayan berkeringat dan menyenangkan. Saya merasakan keasyikan ketika memutar pernak pernik ini, membeli ini itu, mengubah tata letak ruangan sampai merasa puas. Heemmmm....ini seperti kita melukis. Mengambil tema apa dan menambah ini itu ketika gambar terasa tidak sreg. Rasanya menyenangkan. Badan bugar dan puas bisa menikmati hasil penataan kita.
Karena tempat tinggal saya kecil cuma 33 meter persegi tentu tidak terlalu sulit membenahi rumah. Cuma saking kecilnya juga kadang-kadang bingung meletakkan penataan di sana sini. Hiiiii...Jeratan batman-nya karena merasa kecil, seringkali saya meletakkan barang di sana sini. Lama kelamaan kok jadi berantakan. So...biar selalu terlihat rapi, saya punya jurus ampuh agar rumah terlihat rapi.
1. Jangan sekali-sekali meletakkan suatu barang di tempat tidak semestinya. Secara psikologis kita akan menumpuk satu demi satu. Lambat laun menggunung dan enggan membenahinya lagi
2. Mulailah merapikan ruangan dari satu tempat saja. Fokuskan berbenah di sana. Begitu satu tempat sudah rapi bergeser ke lokasi lain. Pasti deh lambat laun akan rapi di segala sudut
3. Belilah barang yang fungsional saja. JAngan sekali-kali beli barang yang nggak perlu. \
Segitu dulu aja ah.
Palmerah, 14 Juni 2013
Karena tempat tinggal saya kecil cuma 33 meter persegi tentu tidak terlalu sulit membenahi rumah. Cuma saking kecilnya juga kadang-kadang bingung meletakkan penataan di sana sini. Hiiiii...Jeratan batman-nya karena merasa kecil, seringkali saya meletakkan barang di sana sini. Lama kelamaan kok jadi berantakan. So...biar selalu terlihat rapi, saya punya jurus ampuh agar rumah terlihat rapi.
1. Jangan sekali-sekali meletakkan suatu barang di tempat tidak semestinya. Secara psikologis kita akan menumpuk satu demi satu. Lambat laun menggunung dan enggan membenahinya lagi
2. Mulailah merapikan ruangan dari satu tempat saja. Fokuskan berbenah di sana. Begitu satu tempat sudah rapi bergeser ke lokasi lain. Pasti deh lambat laun akan rapi di segala sudut
3. Belilah barang yang fungsional saja. JAngan sekali-kali beli barang yang nggak perlu. \
Segitu dulu aja ah.
Palmerah, 14 Juni 2013
Kamis, 13 Juni 2013
Menghibur Diri
Pagi tadi bangun tidur, kepala saya berat sekali. Saya harus menenangkan diri. Diam. Hening. Cukup lama. Mungkin sekitar sejam. Lalu saya tertidur lagi. Karena bangun sebelumnya jam 16.00. Ketika mata saya terbuka lagi, pagi sudah mulai terang tanah. 5.30. Saya mulai meditasi untuk kedua kalinya dan untuk waktu yang lama. Saya tengah menghibur diri.
Kemarin hari yang berat. Dua nara sumber yang dipastikan datang, membatalkan karena kunjungan kerja. Yap. Saya harus kecewa empat kali dengan anggota DPR. Paling parah Rachel Maryam, dari Partai Gerindra itu membatalkan datang hanya sejam sebelum acara di mulai. Sumpah serapah saya pada waktu itu. Sampai-sampai saya berdoa semoga dia tidak pernah terpilih lagi jadi wakil rakyat.
Satu nara sumber Bima Arya juga orang partai membatalkan empat jam sebelumnya. Padahal keberadaan dia sebagai nara sumber utama. Dia tak hadir maka taping berbiaya ratusan juta rupiah batal. Saya tak kehilangan akal. Saya SMS ke dia, kalau dia tak hadir atau mencarikan pengganti, maka saya dipecat dari tempat saya bekerja dan syuting berbiaya ratusan juta rupiah jadi tanggung jawab saya. Entah manjur entah tidak, dia akhirnya meminta kolehnya Viva Yoga untuk hadir. Ahhh thanks Mas Yoga. Anda menyelamatkan acara saya.
Saya menyumpah-nyumpah kesekian kalinya. Orang-orang itu tidak punyakah etika? Jika mereka memang tidak bisa mengapa tidak menolak sejak awal? Lalu kemarin, puncak dari kekesalan saya terhadap wakil rakyat itu. Dua narasumber tidak bisa karena kunjungan kerja. Itu memang hak mereka. Tapi juga jangan salahkan saya kalau sumpah serapah dan kutukan-kutukan keluar dari mulut saya yang jahat.
Dan saya tumbang. Kepala saya berdenyut-denyut, leher saya mengeras dan punggung saya seperti terbakar. Sempat terlintas jangan-jangan saya bisa stroke karena kemarahan saya yang meledak. Saya buru-buru cari tukang pijit. Dikerik dan diurut. Luar biasa hasil kerikan itu. Hitam. Sampai-sampai bibi tukang pijat berdecak beberapa kali. Kepala, leher saya nyut-nyutan semua.
Wowww kemarahan itu teman, percayalah energi yang begitu buruk untuk diri kita sendiri. Bukan orang lain yang merasakan. Kita sendiri. Kalau saya boleh mengatakan neraka itu seperti apa, saya rasa inilah neraka yang sebenarnya. Bukan di awang-awang. Dia hadir dalam keseharian kita ketika batin kita terseret terhadap suatu masalah.
Dua jam setelah meditasi melalui dua tahap, merasakan batin yang terseret, merasakan frustasi, saya mulai mengamati kegagalan saya, kemarahan saya, menyalahkan orang lain, dan batin yang terus berseliweran. Naik turun naik turun. Menyadarinya. Tidak mulus. Sampai akhirnya mereda pelan. Berkecamuk lagi. Saya hanya mengamatinya. Setelah itu, berangsur-angsur nyut-nyut di kepala saya mereda. Demikian pula, leher. Punggung saya yang rasanya terbakar juga berangsur hilang.
Tiba di kantor saya berdandam. Memandangi muka saya. Saya perlu rileks. Saya perlu menghibur diri. Dan saya pun menulis blog. Tentu, masalah di depan saya belum tuntas. Begitu saya mengakhiri tulisan ini. Saya akan memburu nara sumber lagi. Tentu dengan sudut pandang yang berbeda. Ah ... benar. Menulis adalah terapi jiwa. Percayalah...kalian perlu mencobanya.
Palmerah, 14 Juni 2013
Kemarin hari yang berat. Dua nara sumber yang dipastikan datang, membatalkan karena kunjungan kerja. Yap. Saya harus kecewa empat kali dengan anggota DPR. Paling parah Rachel Maryam, dari Partai Gerindra itu membatalkan datang hanya sejam sebelum acara di mulai. Sumpah serapah saya pada waktu itu. Sampai-sampai saya berdoa semoga dia tidak pernah terpilih lagi jadi wakil rakyat.
Satu nara sumber Bima Arya juga orang partai membatalkan empat jam sebelumnya. Padahal keberadaan dia sebagai nara sumber utama. Dia tak hadir maka taping berbiaya ratusan juta rupiah batal. Saya tak kehilangan akal. Saya SMS ke dia, kalau dia tak hadir atau mencarikan pengganti, maka saya dipecat dari tempat saya bekerja dan syuting berbiaya ratusan juta rupiah jadi tanggung jawab saya. Entah manjur entah tidak, dia akhirnya meminta kolehnya Viva Yoga untuk hadir. Ahhh thanks Mas Yoga. Anda menyelamatkan acara saya.
Saya menyumpah-nyumpah kesekian kalinya. Orang-orang itu tidak punyakah etika? Jika mereka memang tidak bisa mengapa tidak menolak sejak awal? Lalu kemarin, puncak dari kekesalan saya terhadap wakil rakyat itu. Dua narasumber tidak bisa karena kunjungan kerja. Itu memang hak mereka. Tapi juga jangan salahkan saya kalau sumpah serapah dan kutukan-kutukan keluar dari mulut saya yang jahat.
Dan saya tumbang. Kepala saya berdenyut-denyut, leher saya mengeras dan punggung saya seperti terbakar. Sempat terlintas jangan-jangan saya bisa stroke karena kemarahan saya yang meledak. Saya buru-buru cari tukang pijit. Dikerik dan diurut. Luar biasa hasil kerikan itu. Hitam. Sampai-sampai bibi tukang pijat berdecak beberapa kali. Kepala, leher saya nyut-nyutan semua.
Wowww kemarahan itu teman, percayalah energi yang begitu buruk untuk diri kita sendiri. Bukan orang lain yang merasakan. Kita sendiri. Kalau saya boleh mengatakan neraka itu seperti apa, saya rasa inilah neraka yang sebenarnya. Bukan di awang-awang. Dia hadir dalam keseharian kita ketika batin kita terseret terhadap suatu masalah.
Dua jam setelah meditasi melalui dua tahap, merasakan batin yang terseret, merasakan frustasi, saya mulai mengamati kegagalan saya, kemarahan saya, menyalahkan orang lain, dan batin yang terus berseliweran. Naik turun naik turun. Menyadarinya. Tidak mulus. Sampai akhirnya mereda pelan. Berkecamuk lagi. Saya hanya mengamatinya. Setelah itu, berangsur-angsur nyut-nyut di kepala saya mereda. Demikian pula, leher. Punggung saya yang rasanya terbakar juga berangsur hilang.
Tiba di kantor saya berdandam. Memandangi muka saya. Saya perlu rileks. Saya perlu menghibur diri. Dan saya pun menulis blog. Tentu, masalah di depan saya belum tuntas. Begitu saya mengakhiri tulisan ini. Saya akan memburu nara sumber lagi. Tentu dengan sudut pandang yang berbeda. Ah ... benar. Menulis adalah terapi jiwa. Percayalah...kalian perlu mencobanya.
Palmerah, 14 Juni 2013
Senin, 03 Juni 2013
Kepercayaan
Apakah jadinya ketika kalian bersahabat bersama-sama sekian puluh tahun. Hampir 20 tahun. Dan mendapati kenyataan bahwa sahabat Anda tak mempercayai Anda? Sementara kalian begitu memercayai dia begitu dalam?Saya mengalaminya. Dan tersadar pada sebuah pagi. Saya sempat terpana. Sakit iya. Tapi akhirnya saya legowo. Ya sudah. Dan detik itu juga saya putuskan berbalik arah. Saya tak akan menoleh lagi padanya. Saya hanya menganggapnya teman biasa. Tak ada yang istimewa. Saya sudah tidak kecewa lagi. Saya merasa lebih bebas sekarang. Pada akhirnya semua teman sama saja. Tidak ada yang lebih, tidak ada yang kurang. Semua sama. Feel free like a bird hehehe :)
Jakarta, Palmerah, 3 Juni 2013
Langganan:
Postingan (Atom)