Waktu saya jadi reporter, paling sebal kalau dengar komentar orang yang saya wawancarai menjawab begini. "Biasa-biasa saja." Pertanyaann yang saya tujukan kepada mereka kira-kira begini. "Apakah adik (kakak/bapak/ibu) merasa bahagia ketika memenangkan perlombaan ini? Begitu si nara sumber menjawab kata-kata biasa-biasa saja, biasanya saya langsung cemberut. Duh....rasanya pingin saya kruwes bibirnya. Kayak nggak ada jawaban lain saja. Kasar bener saya ya? Tapi cuma omelan di pikiran, kok. Nggak serius he...he...he.
Waktu berlalu. Keadaan sudah berubah. Ketika belakangan ini saya mendengar Jokowi, Gubernur DKI Jakarta sering menjawab kata-kata yang dulu saya benci; biasa-biasa saja- saya sekarang justru tersenyum. Kalau saya ada di sana, pasti pertanyaan saya selanjutnya kepada nara sumber adalah apa makna pernyataan Anda yang biasa-biasa saja itu?
Sudut pandang tentang makna biasa-biasa saja itu, berubah. Terutama sejak saya mengenal bahwa bahagia dan sedih itu sama saja. Berasal dari pikiran. Bahagia dan sedih, sama-sama sumber penderitaan. Biasa-biasa saja, jika direnungkan lebih mendalam mengandung arti semua hal tak perlu lebih tak perlu kurang. Melihat sebagaimana adanya. Jadi ...ya biasa-biasa saja. Coba kalau kita merenungkannya lebih dalam, yang biasa-biasa saja itu membuat batin kita akan terbebaskan.
Tapi dalam hidup kita akan mengalami letupan kegembiraan, kesedihan. Dia datang silih berganti. Letupan kebahagiaan kadang-kadang sering membuat kita merasa euforia. Tapi berapa lama letupan kebahagiaan itu bertahan? Tak lama bukan? Sama halnya dengan kesedihan, rasa frustasi, dan rasa kecewa yang datang silih berganti. Tak pernah menetap lama. Jadi, jika demikian mengapa kita harus melekati kebahagiaan dan kesedihan itu begitu dalam? Dia datang silih berganti. Jadi ya....mengutip kata Jokowi dan narasumber saya dulu. Biasa....biasa saja. :)
Kemanggisan, 16 Oktober 2013
Rabu, 16 Oktober 2013
Senin, 07 Oktober 2013
Berenang di Kedalaman 3,8 Meter
Ini pengalaman baru saya. Berenang di kedalaman 3,8 meter. Selama ini saya cuma berenang di apartemen yang saya tinggali. Dalamnya paling-paling cuma 1,2 meter. Hihi cetek banget ya? TApi cethek-cethek begitu saya bisa bisa mahir berenang di tempat ini lho. Belajar sendiri tanpa bantuan guru renang. Di sini pula saya memraktekkan gaya bebas dan gaya punggung. Cuma satu gaya yang belum saya lakukan gaya kupu-kupu. Jujur, saya merasa cukup bisa menguasai tiga gaya saja bebas, punggung, dan katak.
Ngomong-ngomong soal pengalaman baru ini, begini ceritanya. Ibu angkat kami anak-anak UNAIR, mengajak saya menginap di Hotel Borobudur. Ajakan itu saya terima dengan senang hati. Sembari ngobrol bisa berenang dan berendam. Beliau dokter rehabilitasi medis. Pas banget dengan kondisi tubuh saya yang tengah sakit punggung dan syaraf kejepit.
Renang dan berendam adalah obat paling mujarab untuk sakit saya. Maka berenanglah saya di tempat ini. Kolam renangnya luas dan kedalamannya bervariasi. Mula-mula saya cuma berani menyentuh di kedalaman 1,4 meter. Lalu bergeser ke 1,6 m. Tapi di angka 2,4 meter saya memilih melipir. Hiiii. Seram. Balik lagi di 1,6 m.
Datanglah Dokter Cicil. "Ayo ke yang dalam," katanya. "Saya belum berani, dok," jawab saya. "Mosok kalah ama anak 3 tahun," katanya. Saya terperanjat. Astaga! Benar! Mata saya menatap nanar pada anak kecil di sebelah saya. Ya, ampun. Memalukan. Tapi ditantang begitu, justru muncul keberanian saya. Di kedalaman 3,8 meter, saya pun byuuuuuuur. Berenang di kedalaman 3,8 meter. Woow. Mana pernah saya membayangkannya. Saya bisa. Tidak sulit. Semuanya cuma butuh keberanian. Seperti saat saya memutuskan pindah bekerja. Memilih pekerjaan yang saya sukai dan saya cintai. Memilih meninggalkan teman demi kebaikan bersama. Semua butuh keberanian.
Ah dunia saya makin berwarna. Dan yang terpenting....hidup ini belajar terus menerus. Setuju nggak?
Palmerah, 7 Oktober 2013
Ngomong-ngomong soal pengalaman baru ini, begini ceritanya. Ibu angkat kami anak-anak UNAIR, mengajak saya menginap di Hotel Borobudur. Ajakan itu saya terima dengan senang hati. Sembari ngobrol bisa berenang dan berendam. Beliau dokter rehabilitasi medis. Pas banget dengan kondisi tubuh saya yang tengah sakit punggung dan syaraf kejepit.
Renang dan berendam adalah obat paling mujarab untuk sakit saya. Maka berenanglah saya di tempat ini. Kolam renangnya luas dan kedalamannya bervariasi. Mula-mula saya cuma berani menyentuh di kedalaman 1,4 meter. Lalu bergeser ke 1,6 m. Tapi di angka 2,4 meter saya memilih melipir. Hiiii. Seram. Balik lagi di 1,6 m.
Datanglah Dokter Cicil. "Ayo ke yang dalam," katanya. "Saya belum berani, dok," jawab saya. "Mosok kalah ama anak 3 tahun," katanya. Saya terperanjat. Astaga! Benar! Mata saya menatap nanar pada anak kecil di sebelah saya. Ya, ampun. Memalukan. Tapi ditantang begitu, justru muncul keberanian saya. Di kedalaman 3,8 meter, saya pun byuuuuuuur. Berenang di kedalaman 3,8 meter. Woow. Mana pernah saya membayangkannya. Saya bisa. Tidak sulit. Semuanya cuma butuh keberanian. Seperti saat saya memutuskan pindah bekerja. Memilih pekerjaan yang saya sukai dan saya cintai. Memilih meninggalkan teman demi kebaikan bersama. Semua butuh keberanian.
Ah dunia saya makin berwarna. Dan yang terpenting....hidup ini belajar terus menerus. Setuju nggak?
Palmerah, 7 Oktober 2013
Kamis, 19 September 2013
Dul (bagian 1)
Seorang menghubungi saya melalui WA. "Mau ikut nggak, nengok Dul? Entah mengapa saya tertarik ikut. Padahal saya tidak ada rencana untuk mengadakan dialog ini, karena usulan tema soal Dul ditolak. Alasannya sudah basi. Tapi entah insting saya mengatakan kunjungan ini akan berguna.
Nama lengkap sebenarnya Abdul Qodir Djaelani. Dul, 13 tahun, panggilan akrab anak pasangan Ahmad Dhani dan Maia Estiyanti, musikus Indonesia menjadi pemberitaan utama di media nasional. Bukan karena mereka artis, kecuali infotainment yang memang menjadikan artis sebagai komoditas berita. Berita menghebohkan itu karena anak sekecil itu, menyetir kendaraan di tengah malam, habis mengantarkan sang pacar dan menabrak dua mobil berpenumpang penuh. 6 orang tewas seketika, satu orang menyusul.
Publik marah. Bagaimana mungkin orang tua membiarkan sang anak mengendarai mobil sedini itu. Terlebih mobil yang dikendarai senilai hampir miliaran rupiah. Bergelimang harta tapi "salah asuh" begitu bunyi berita yang saya baca.
Saya tiba di RS Pondok Indah menjelang malam. Dul, dirawat di Ruang ICCU. Waktu saya datang, tangan sang pacar tak lepas menggenggam kekasihnya yang tiga tahun lebih muda. Dul jebolan kelas 2 SMP sementara sang kekasih sudah kelas 1 SMA. Dul masih kesakitan. Beberapa kali minta suntikan penahan rasa sakit. Ibunya, Maia masih terlihat berduka. Matanya sembab. Mengenakan baju hitam-hitam, mewakili perasaannya yang masih berduka. Tanpa polesan make up apapun wajahnya tetap cantik. Senyuman nyaris hilang dari wajahnya. Sementara sang ayah Dhani, nyaris tak memperlihatkan rasa duka. Bicaranya ceplas ceplos, tak merasa susah. Biasa saja.
Banyak tamu yang datang. Silih berganti. Artis, aktor, termasuk Rhoma Irama, cang calon Presiden. Ehem, menjenguk Dul. Tiap kali ada yang datang ekpresinya kebingungan. Ahmad Dhani bolak balik mengantar jemput tamu, setelah itu konferensi pers. Salah satu tamu istimewa yang datang malam itu adalah keluarga korban meninggal. Seorang perempuan tua memeluk Maia. Menangis. Seseorang entah siapa membawa kamera video, merekam seluruh kejadian. Saya merekam meski tanpa alat apapun.
Saya menyaksikan peristiwa itu. Saya heran. Benar-benar heran. Tidak ada penilaian. Tidak ada haru, tidak ada kejengkelan. Sebuah peristiwa hanyalah peristiwa. Itu saja.
20 September 2013
Nama lengkap sebenarnya Abdul Qodir Djaelani. Dul, 13 tahun, panggilan akrab anak pasangan Ahmad Dhani dan Maia Estiyanti, musikus Indonesia menjadi pemberitaan utama di media nasional. Bukan karena mereka artis, kecuali infotainment yang memang menjadikan artis sebagai komoditas berita. Berita menghebohkan itu karena anak sekecil itu, menyetir kendaraan di tengah malam, habis mengantarkan sang pacar dan menabrak dua mobil berpenumpang penuh. 6 orang tewas seketika, satu orang menyusul.
Publik marah. Bagaimana mungkin orang tua membiarkan sang anak mengendarai mobil sedini itu. Terlebih mobil yang dikendarai senilai hampir miliaran rupiah. Bergelimang harta tapi "salah asuh" begitu bunyi berita yang saya baca.
Saya tiba di RS Pondok Indah menjelang malam. Dul, dirawat di Ruang ICCU. Waktu saya datang, tangan sang pacar tak lepas menggenggam kekasihnya yang tiga tahun lebih muda. Dul jebolan kelas 2 SMP sementara sang kekasih sudah kelas 1 SMA. Dul masih kesakitan. Beberapa kali minta suntikan penahan rasa sakit. Ibunya, Maia masih terlihat berduka. Matanya sembab. Mengenakan baju hitam-hitam, mewakili perasaannya yang masih berduka. Tanpa polesan make up apapun wajahnya tetap cantik. Senyuman nyaris hilang dari wajahnya. Sementara sang ayah Dhani, nyaris tak memperlihatkan rasa duka. Bicaranya ceplas ceplos, tak merasa susah. Biasa saja.
Banyak tamu yang datang. Silih berganti. Artis, aktor, termasuk Rhoma Irama, cang calon Presiden. Ehem, menjenguk Dul. Tiap kali ada yang datang ekpresinya kebingungan. Ahmad Dhani bolak balik mengantar jemput tamu, setelah itu konferensi pers. Salah satu tamu istimewa yang datang malam itu adalah keluarga korban meninggal. Seorang perempuan tua memeluk Maia. Menangis. Seseorang entah siapa membawa kamera video, merekam seluruh kejadian. Saya merekam meski tanpa alat apapun.
Saya menyaksikan peristiwa itu. Saya heran. Benar-benar heran. Tidak ada penilaian. Tidak ada haru, tidak ada kejengkelan. Sebuah peristiwa hanyalah peristiwa. Itu saja.
20 September 2013
Unik vs Aneh
Ada yang bilang saya aneh. Mungkin betul. Tapi saya menganggap kata pas untuk saya : unik. Kalau itu betul, saya menyadari jika saya unik :) Nah menghadapi orang seperti saya yang unik memang membutuhkan energi besar. Itu jika tak mampu mengimbanginya. Tapi jika selaras dengan keunikan saya, maka tak perlu energi besar untuk menghadapi orang seunik saya hehehe.
Saya sendiri menganggap setiap pribadi unik. Karena itu tak ada orang yang aneh di mata saya. Jadi saya mencoba memahami keunikan itu. Tapi ada hal yang bisa diubah, ada hal yang tak bisa diubah. Itu menyangkut karakter. Nah, ada jenis orang yang bisa mudah berubah karena melatih kesadaran. Itulah yang saya alami selama selama tiga tahun ini.
Tapi makin melatih kesadaran saya jadi teringat guru pembimbing meditasi, Pak Hudoyo Hupudio. Dia bilang orang yang sadar akan terasing dari lingkungan sekitarnya. Tadinya saya tak memahami keterasingan itu. Sampai saya berada di sekumpulan banyak orang. Saya penyendiri, jarang ngobrol basa basi jadilah saya seolah-olah orang yang sombong, tak pandai bersilaturahmi.
Hampir delapan bulan saya bekerja, saya nyaris makan sendirian di kantin. Jujur setiap kali mengedarkan pandangan di kantin yang maha luas itu, saya kerapi menyaksikan, cuma saya yang makan tak berteman. Benar-benar sendirian. Mungkin mereka menganggap saya aneh dan tak punya teman. Padahal saya sadar melakukannya. Saya makan sendiri karena di tengah kesibukan bekerja itu, memerlukan waktu menziarahi batin, meski waktunya singkat. Hanya 20 menit atau maksimal satu jam.
Setelah itu saya melenggang ke kantor, kembali bekerja. Dari diam sesaat itu, biasanya energi saya bekerja lebih besar. Satu lagi, di kantor demi koordinasi lebih baik tim besar kami membuat Whatapps bersama. Tujuannya baik sih. Tapi alih-alih saya menyaksikan lho kok 90 persen obrolannya bukan koordinasi. Tadinya kening saya berkenyit. Tapi akhirnya saya memutuskan, hanya akan menimpali kalau koordinasi pekerjaan saja. Selebihnya, saya pasif saja.
Nah...dengan kesendirian dan pengalaman itu, mungkin benar saya masuk kategori aneh? Mungkin saja. Dan orang sah-sah saja menilai demikian. Nggak ada masalah kok. Buat saya, ketika saya bekerja, maka saya penuh berada di dalamnya. Orang lain pingin bekerja sambil bercanda juga nggak monggo. Saya tak perlu menilainya. Meski pada awalnya, batin saya agak terganggu. Hehehe.
Kemanggisan, 20 September 2013
Saya sendiri menganggap setiap pribadi unik. Karena itu tak ada orang yang aneh di mata saya. Jadi saya mencoba memahami keunikan itu. Tapi ada hal yang bisa diubah, ada hal yang tak bisa diubah. Itu menyangkut karakter. Nah, ada jenis orang yang bisa mudah berubah karena melatih kesadaran. Itulah yang saya alami selama selama tiga tahun ini.
Tapi makin melatih kesadaran saya jadi teringat guru pembimbing meditasi, Pak Hudoyo Hupudio. Dia bilang orang yang sadar akan terasing dari lingkungan sekitarnya. Tadinya saya tak memahami keterasingan itu. Sampai saya berada di sekumpulan banyak orang. Saya penyendiri, jarang ngobrol basa basi jadilah saya seolah-olah orang yang sombong, tak pandai bersilaturahmi.
Hampir delapan bulan saya bekerja, saya nyaris makan sendirian di kantin. Jujur setiap kali mengedarkan pandangan di kantin yang maha luas itu, saya kerapi menyaksikan, cuma saya yang makan tak berteman. Benar-benar sendirian. Mungkin mereka menganggap saya aneh dan tak punya teman. Padahal saya sadar melakukannya. Saya makan sendiri karena di tengah kesibukan bekerja itu, memerlukan waktu menziarahi batin, meski waktunya singkat. Hanya 20 menit atau maksimal satu jam.
Setelah itu saya melenggang ke kantor, kembali bekerja. Dari diam sesaat itu, biasanya energi saya bekerja lebih besar. Satu lagi, di kantor demi koordinasi lebih baik tim besar kami membuat Whatapps bersama. Tujuannya baik sih. Tapi alih-alih saya menyaksikan lho kok 90 persen obrolannya bukan koordinasi. Tadinya kening saya berkenyit. Tapi akhirnya saya memutuskan, hanya akan menimpali kalau koordinasi pekerjaan saja. Selebihnya, saya pasif saja.
Nah...dengan kesendirian dan pengalaman itu, mungkin benar saya masuk kategori aneh? Mungkin saja. Dan orang sah-sah saja menilai demikian. Nggak ada masalah kok. Buat saya, ketika saya bekerja, maka saya penuh berada di dalamnya. Orang lain pingin bekerja sambil bercanda juga nggak monggo. Saya tak perlu menilainya. Meski pada awalnya, batin saya agak terganggu. Hehehe.
Kemanggisan, 20 September 2013
Jumat, 13 September 2013
Sok Tahu dan Pandir
Ada jenis orang yang tahu tapi pura-pura tidak tahu. Ada pula jenis orang yang tidak tahu tapi sok tahu. Nah jenis yang terakhir ini yang repot. Ketika dia ada di depan mata kita, cuma satu kata yang tepat untuk mengatakan bahwa orang ini pandir. Hahaha...Cegluk...
Saya justru terpingkal-pingkal menyaksikannya. Ini hari yang istimewa. Saya menemukan lelucon hari ini, yang akan saya catat dalam sejarah hehehe...
Palmerah, 12 September 2013
Saya justru terpingkal-pingkal menyaksikannya. Ini hari yang istimewa. Saya menemukan lelucon hari ini, yang akan saya catat dalam sejarah hehehe...
Palmerah, 12 September 2013
Rabu, 28 Agustus 2013
Puntung Rokok
Saya tahu, merokok itu hak setiap pribadi. Tapi membuang puntung rokok itu bukan lagi hak pribadi. Ada kepentingan publik yang harus dijaga dengan baik. Puntung rokok berarti terkait dengan sampah, dampak lingkungan, dan nyawa.
Saya sebenarnya enggan sekali menyebut perokok itu tak beradab. Tapi memandangi keseharian mereka; plempas plempus di depan anak kecil tanpa merasa berdosa, dan terakhir membuangnya sembarangan membuat saya mengelus dada. Tak ada kata lain selain menyebut para perokok itu tak beradab.
Beberapa bukti yang menjadi teman akrab saya bisa menjelaskan saat berhadapan dengan puntung rokok dan orang yang mengisapnya. Di tempat saya tinggal ada kolam renang. Setiap hari saya berenang karena alasan kesehatan. Nah, ketika saya berenang, haaapppp....saat saya mengambil nafas, satu buah puntung rokok berada tepat di depan mulut saya dan nyaris masuk mulut. Konsentrasi jadi terganggu dan umpatan di dalam air sempat saya lontarkan. Sudah lima kali saya menemukan puntung rokok di kolam renang.
Pengalaman terjadi di depan kamar sudah. Sudah tak terhitung berapa sekian kalinya puntung rokok nongkring di depan pintu. Dulu, saya pernah meletakkan keset di depan pintu. Pulang kerja keset sudah bolong dan sebuah puntung rokok tergeletak.
Yang teranyar, karena puntung rokok gedung tempat saya bekerja terbakar meskipun tak melalap seluruh areal gedung. Dari cerita driver yang menyaksikan malam itu, ada puntung rokok yang dibuang tepat di atas kasur. Asap rokok sampai di lantai 5. Padahal di sekitar areal gedung sudah ada aturan larangan merokok. Dulu di tempat parkir perusahaan masih menyediakan kursi untuk mereka yang merokok. Ealah...ya itu tadi dasar tak beradab, kursi bolong-bolong dan pot tanaman berisi puntung rokok. Andai tanaman bisa menangis. Lalu muncullan larangan merokok diareal parkir dan dipindah tempat lain.
Kembali ke puntung rokok yang telah membakar sebagian kecil gedung itu, rupanya perusahaan menelusuri pembuang puntung rokok. Mereka mencarinya melalui kamera CCTV. Dan tralala trilili....sudah ketemu pembuang puntung rokok itu. Seorang driver bercerita pada saya yang menyaksikan langsung peristiwa itu, tiga orang di cut alias diputus kerja. Seorang teman menyeletuk, kok nggak pakai SP1 dan seterusnya?
Jawaban saya. "Kalau puntung rokok itu membakar semua gedung dan perusahaan kita bangkrut lalu kita jadi pengangguran, maukah kamu? Dia diam. Saya melanjutkan. "Kalau puntung rokok itu membakar seluruh gedung dan ada orang yang terbakar dan salah satunya, misalnya kamu atau teman kita, meninggal, bisakah kamu menerimanya?Dia diam juga.
Seringkali orang tak sadar dengan apa yang dia lakukan. Bisa jadi pelaku pembuang puntung rokok tidak tahu bahwa sebelumnya dia telah melakukan perbuatan yang merugikan. Misalnya, dia membuang puntung rokok sembarangan di tengah hutan belantara ketika dia mengendarai mobil. Sementara kendaraannya telah melaju, puntung rokok telah membakar hutan. Tahukah dia atas perbuatannya? Pasti dia tidak tahu karena dia sudah berada berapa di radius puluhan atau ratusan kilometer.
Bicara puntung rokok, tak lepas dari si pengisapnya. Saya paling miris menyaksikan orang naik motor sembari plempas plempus di motor. How come? My God. Asap rokok di belakang, berapa banyak orang rugi? Juga kejahatan perokok yang paling mengerikan adalah merokok di ruang publik angkutan umum, bus kota, dan ruang terbuka sementara ada anak kecil di dekat mereka. Tega sekali ya?
Saya tak alergi ada orang merokok. Silakan.Tapi asapnya ditelan sendiri, ya? Jangan merugikan orang.
Kuningan, 27 Agustus 2013
Di sela deadline menulis buku yang lagi mandeg ide
Kamis, 01 Agustus 2013
MRI Itu Mahal Amit-amit Yak
Pinggang saya ternyata ada penyempitan syaraf. Hasil persisnya menurut dr Andreas di stadium 1. Agar hasilnya lebih jelas lagi, dokter syaraf lulusan Universitas Airlangga ini meminta saya MRI.
Saya belum pernah MRI. Jadi saya menganggukkan kepala ketika menerima surat rekomendasi ke RS.
Saya pun segera menghubungi RS tempat saya harus menjalani MRI. Dari informasi teman dan kakak saya, MRI berbiaya Rp 1,6 juta - Rp 2,2 jutaan. Tapi begitu saya hubungi pihak RS ternyata biaya MRI untuk kasus saya lumbun sacral akan menghabiskan Rp 3 jutaan. Wadauwww...MRI itu mahal amit-amit yak, ternyata.
Duh mana saya tinggal beberapa saat lagi menjadi karyawan tetap. Dilema dilema. Saya punya asuransi yang bisa digunakan kalau saya masuk RS pula. Asem asem...Sakit itu mahal teman. Jadi olahraga dan hidup sehat deh.
Salam sehat
Palmerah, 2 Agustus 2013
Saya belum pernah MRI. Jadi saya menganggukkan kepala ketika menerima surat rekomendasi ke RS.
Saya pun segera menghubungi RS tempat saya harus menjalani MRI. Dari informasi teman dan kakak saya, MRI berbiaya Rp 1,6 juta - Rp 2,2 jutaan. Tapi begitu saya hubungi pihak RS ternyata biaya MRI untuk kasus saya lumbun sacral akan menghabiskan Rp 3 jutaan. Wadauwww...MRI itu mahal amit-amit yak, ternyata.
Duh mana saya tinggal beberapa saat lagi menjadi karyawan tetap. Dilema dilema. Saya punya asuransi yang bisa digunakan kalau saya masuk RS pula. Asem asem...Sakit itu mahal teman. Jadi olahraga dan hidup sehat deh.
Salam sehat
Palmerah, 2 Agustus 2013
Langganan:
Postingan (Atom)
