Seorang menghubungi saya melalui WA. "Mau ikut nggak, nengok Dul? Entah mengapa saya tertarik ikut. Padahal saya tidak ada rencana untuk mengadakan dialog ini, karena usulan tema soal Dul ditolak. Alasannya sudah basi. Tapi entah insting saya mengatakan kunjungan ini akan berguna.
Nama lengkap sebenarnya Abdul Qodir Djaelani. Dul, 13 tahun, panggilan akrab anak pasangan Ahmad Dhani dan Maia Estiyanti, musikus Indonesia menjadi pemberitaan utama di media nasional. Bukan karena mereka artis, kecuali infotainment yang memang menjadikan artis sebagai komoditas berita. Berita menghebohkan itu karena anak sekecil itu, menyetir kendaraan di tengah malam, habis mengantarkan sang pacar dan menabrak dua mobil berpenumpang penuh. 6 orang tewas seketika, satu orang menyusul.
Publik marah. Bagaimana mungkin orang tua membiarkan sang anak mengendarai mobil sedini itu. Terlebih mobil yang dikendarai senilai hampir miliaran rupiah. Bergelimang harta tapi "salah asuh" begitu bunyi berita yang saya baca.
Saya tiba di RS Pondok Indah menjelang malam. Dul, dirawat di Ruang ICCU. Waktu saya datang, tangan sang pacar tak lepas menggenggam kekasihnya yang tiga tahun lebih muda. Dul jebolan kelas 2 SMP sementara sang kekasih sudah kelas 1 SMA. Dul masih kesakitan. Beberapa kali minta suntikan penahan rasa sakit. Ibunya, Maia masih terlihat berduka. Matanya sembab. Mengenakan baju hitam-hitam, mewakili perasaannya yang masih berduka. Tanpa polesan make up apapun wajahnya tetap cantik. Senyuman nyaris hilang dari wajahnya. Sementara sang ayah Dhani, nyaris tak memperlihatkan rasa duka. Bicaranya ceplas ceplos, tak merasa susah. Biasa saja.
Banyak tamu yang datang. Silih berganti. Artis, aktor, termasuk Rhoma Irama, cang calon Presiden. Ehem, menjenguk Dul. Tiap kali ada yang datang ekpresinya kebingungan. Ahmad Dhani bolak balik mengantar jemput tamu, setelah itu konferensi pers. Salah satu tamu istimewa yang datang malam itu adalah keluarga korban meninggal. Seorang perempuan tua memeluk Maia. Menangis. Seseorang entah siapa membawa kamera video, merekam seluruh kejadian. Saya merekam meski tanpa alat apapun.
Saya menyaksikan peristiwa itu. Saya heran. Benar-benar heran. Tidak ada penilaian. Tidak ada haru, tidak ada kejengkelan. Sebuah peristiwa hanyalah peristiwa. Itu saja.
20 September 2013
Kamis, 19 September 2013
Unik vs Aneh
Ada yang bilang saya aneh. Mungkin betul. Tapi saya menganggap kata pas untuk saya : unik. Kalau itu betul, saya menyadari jika saya unik :) Nah menghadapi orang seperti saya yang unik memang membutuhkan energi besar. Itu jika tak mampu mengimbanginya. Tapi jika selaras dengan keunikan saya, maka tak perlu energi besar untuk menghadapi orang seunik saya hehehe.
Saya sendiri menganggap setiap pribadi unik. Karena itu tak ada orang yang aneh di mata saya. Jadi saya mencoba memahami keunikan itu. Tapi ada hal yang bisa diubah, ada hal yang tak bisa diubah. Itu menyangkut karakter. Nah, ada jenis orang yang bisa mudah berubah karena melatih kesadaran. Itulah yang saya alami selama selama tiga tahun ini.
Tapi makin melatih kesadaran saya jadi teringat guru pembimbing meditasi, Pak Hudoyo Hupudio. Dia bilang orang yang sadar akan terasing dari lingkungan sekitarnya. Tadinya saya tak memahami keterasingan itu. Sampai saya berada di sekumpulan banyak orang. Saya penyendiri, jarang ngobrol basa basi jadilah saya seolah-olah orang yang sombong, tak pandai bersilaturahmi.
Hampir delapan bulan saya bekerja, saya nyaris makan sendirian di kantin. Jujur setiap kali mengedarkan pandangan di kantin yang maha luas itu, saya kerapi menyaksikan, cuma saya yang makan tak berteman. Benar-benar sendirian. Mungkin mereka menganggap saya aneh dan tak punya teman. Padahal saya sadar melakukannya. Saya makan sendiri karena di tengah kesibukan bekerja itu, memerlukan waktu menziarahi batin, meski waktunya singkat. Hanya 20 menit atau maksimal satu jam.
Setelah itu saya melenggang ke kantor, kembali bekerja. Dari diam sesaat itu, biasanya energi saya bekerja lebih besar. Satu lagi, di kantor demi koordinasi lebih baik tim besar kami membuat Whatapps bersama. Tujuannya baik sih. Tapi alih-alih saya menyaksikan lho kok 90 persen obrolannya bukan koordinasi. Tadinya kening saya berkenyit. Tapi akhirnya saya memutuskan, hanya akan menimpali kalau koordinasi pekerjaan saja. Selebihnya, saya pasif saja.
Nah...dengan kesendirian dan pengalaman itu, mungkin benar saya masuk kategori aneh? Mungkin saja. Dan orang sah-sah saja menilai demikian. Nggak ada masalah kok. Buat saya, ketika saya bekerja, maka saya penuh berada di dalamnya. Orang lain pingin bekerja sambil bercanda juga nggak monggo. Saya tak perlu menilainya. Meski pada awalnya, batin saya agak terganggu. Hehehe.
Kemanggisan, 20 September 2013
Saya sendiri menganggap setiap pribadi unik. Karena itu tak ada orang yang aneh di mata saya. Jadi saya mencoba memahami keunikan itu. Tapi ada hal yang bisa diubah, ada hal yang tak bisa diubah. Itu menyangkut karakter. Nah, ada jenis orang yang bisa mudah berubah karena melatih kesadaran. Itulah yang saya alami selama selama tiga tahun ini.
Tapi makin melatih kesadaran saya jadi teringat guru pembimbing meditasi, Pak Hudoyo Hupudio. Dia bilang orang yang sadar akan terasing dari lingkungan sekitarnya. Tadinya saya tak memahami keterasingan itu. Sampai saya berada di sekumpulan banyak orang. Saya penyendiri, jarang ngobrol basa basi jadilah saya seolah-olah orang yang sombong, tak pandai bersilaturahmi.
Hampir delapan bulan saya bekerja, saya nyaris makan sendirian di kantin. Jujur setiap kali mengedarkan pandangan di kantin yang maha luas itu, saya kerapi menyaksikan, cuma saya yang makan tak berteman. Benar-benar sendirian. Mungkin mereka menganggap saya aneh dan tak punya teman. Padahal saya sadar melakukannya. Saya makan sendiri karena di tengah kesibukan bekerja itu, memerlukan waktu menziarahi batin, meski waktunya singkat. Hanya 20 menit atau maksimal satu jam.
Setelah itu saya melenggang ke kantor, kembali bekerja. Dari diam sesaat itu, biasanya energi saya bekerja lebih besar. Satu lagi, di kantor demi koordinasi lebih baik tim besar kami membuat Whatapps bersama. Tujuannya baik sih. Tapi alih-alih saya menyaksikan lho kok 90 persen obrolannya bukan koordinasi. Tadinya kening saya berkenyit. Tapi akhirnya saya memutuskan, hanya akan menimpali kalau koordinasi pekerjaan saja. Selebihnya, saya pasif saja.
Nah...dengan kesendirian dan pengalaman itu, mungkin benar saya masuk kategori aneh? Mungkin saja. Dan orang sah-sah saja menilai demikian. Nggak ada masalah kok. Buat saya, ketika saya bekerja, maka saya penuh berada di dalamnya. Orang lain pingin bekerja sambil bercanda juga nggak monggo. Saya tak perlu menilainya. Meski pada awalnya, batin saya agak terganggu. Hehehe.
Kemanggisan, 20 September 2013
Jumat, 13 September 2013
Sok Tahu dan Pandir
Ada jenis orang yang tahu tapi pura-pura tidak tahu. Ada pula jenis orang yang tidak tahu tapi sok tahu. Nah jenis yang terakhir ini yang repot. Ketika dia ada di depan mata kita, cuma satu kata yang tepat untuk mengatakan bahwa orang ini pandir. Hahaha...Cegluk...
Saya justru terpingkal-pingkal menyaksikannya. Ini hari yang istimewa. Saya menemukan lelucon hari ini, yang akan saya catat dalam sejarah hehehe...
Palmerah, 12 September 2013
Saya justru terpingkal-pingkal menyaksikannya. Ini hari yang istimewa. Saya menemukan lelucon hari ini, yang akan saya catat dalam sejarah hehehe...
Palmerah, 12 September 2013
Rabu, 28 Agustus 2013
Puntung Rokok
Saya tahu, merokok itu hak setiap pribadi. Tapi membuang puntung rokok itu bukan lagi hak pribadi. Ada kepentingan publik yang harus dijaga dengan baik. Puntung rokok berarti terkait dengan sampah, dampak lingkungan, dan nyawa.
Saya sebenarnya enggan sekali menyebut perokok itu tak beradab. Tapi memandangi keseharian mereka; plempas plempus di depan anak kecil tanpa merasa berdosa, dan terakhir membuangnya sembarangan membuat saya mengelus dada. Tak ada kata lain selain menyebut para perokok itu tak beradab.
Beberapa bukti yang menjadi teman akrab saya bisa menjelaskan saat berhadapan dengan puntung rokok dan orang yang mengisapnya. Di tempat saya tinggal ada kolam renang. Setiap hari saya berenang karena alasan kesehatan. Nah, ketika saya berenang, haaapppp....saat saya mengambil nafas, satu buah puntung rokok berada tepat di depan mulut saya dan nyaris masuk mulut. Konsentrasi jadi terganggu dan umpatan di dalam air sempat saya lontarkan. Sudah lima kali saya menemukan puntung rokok di kolam renang.
Pengalaman terjadi di depan kamar sudah. Sudah tak terhitung berapa sekian kalinya puntung rokok nongkring di depan pintu. Dulu, saya pernah meletakkan keset di depan pintu. Pulang kerja keset sudah bolong dan sebuah puntung rokok tergeletak.
Yang teranyar, karena puntung rokok gedung tempat saya bekerja terbakar meskipun tak melalap seluruh areal gedung. Dari cerita driver yang menyaksikan malam itu, ada puntung rokok yang dibuang tepat di atas kasur. Asap rokok sampai di lantai 5. Padahal di sekitar areal gedung sudah ada aturan larangan merokok. Dulu di tempat parkir perusahaan masih menyediakan kursi untuk mereka yang merokok. Ealah...ya itu tadi dasar tak beradab, kursi bolong-bolong dan pot tanaman berisi puntung rokok. Andai tanaman bisa menangis. Lalu muncullan larangan merokok diareal parkir dan dipindah tempat lain.
Kembali ke puntung rokok yang telah membakar sebagian kecil gedung itu, rupanya perusahaan menelusuri pembuang puntung rokok. Mereka mencarinya melalui kamera CCTV. Dan tralala trilili....sudah ketemu pembuang puntung rokok itu. Seorang driver bercerita pada saya yang menyaksikan langsung peristiwa itu, tiga orang di cut alias diputus kerja. Seorang teman menyeletuk, kok nggak pakai SP1 dan seterusnya?
Jawaban saya. "Kalau puntung rokok itu membakar semua gedung dan perusahaan kita bangkrut lalu kita jadi pengangguran, maukah kamu? Dia diam. Saya melanjutkan. "Kalau puntung rokok itu membakar seluruh gedung dan ada orang yang terbakar dan salah satunya, misalnya kamu atau teman kita, meninggal, bisakah kamu menerimanya?Dia diam juga.
Seringkali orang tak sadar dengan apa yang dia lakukan. Bisa jadi pelaku pembuang puntung rokok tidak tahu bahwa sebelumnya dia telah melakukan perbuatan yang merugikan. Misalnya, dia membuang puntung rokok sembarangan di tengah hutan belantara ketika dia mengendarai mobil. Sementara kendaraannya telah melaju, puntung rokok telah membakar hutan. Tahukah dia atas perbuatannya? Pasti dia tidak tahu karena dia sudah berada berapa di radius puluhan atau ratusan kilometer.
Bicara puntung rokok, tak lepas dari si pengisapnya. Saya paling miris menyaksikan orang naik motor sembari plempas plempus di motor. How come? My God. Asap rokok di belakang, berapa banyak orang rugi? Juga kejahatan perokok yang paling mengerikan adalah merokok di ruang publik angkutan umum, bus kota, dan ruang terbuka sementara ada anak kecil di dekat mereka. Tega sekali ya?
Saya tak alergi ada orang merokok. Silakan.Tapi asapnya ditelan sendiri, ya? Jangan merugikan orang.
Kuningan, 27 Agustus 2013
Di sela deadline menulis buku yang lagi mandeg ide
Kamis, 01 Agustus 2013
MRI Itu Mahal Amit-amit Yak
Pinggang saya ternyata ada penyempitan syaraf. Hasil persisnya menurut dr Andreas di stadium 1. Agar hasilnya lebih jelas lagi, dokter syaraf lulusan Universitas Airlangga ini meminta saya MRI.
Saya belum pernah MRI. Jadi saya menganggukkan kepala ketika menerima surat rekomendasi ke RS.
Saya pun segera menghubungi RS tempat saya harus menjalani MRI. Dari informasi teman dan kakak saya, MRI berbiaya Rp 1,6 juta - Rp 2,2 jutaan. Tapi begitu saya hubungi pihak RS ternyata biaya MRI untuk kasus saya lumbun sacral akan menghabiskan Rp 3 jutaan. Wadauwww...MRI itu mahal amit-amit yak, ternyata.
Duh mana saya tinggal beberapa saat lagi menjadi karyawan tetap. Dilema dilema. Saya punya asuransi yang bisa digunakan kalau saya masuk RS pula. Asem asem...Sakit itu mahal teman. Jadi olahraga dan hidup sehat deh.
Salam sehat
Palmerah, 2 Agustus 2013
Saya belum pernah MRI. Jadi saya menganggukkan kepala ketika menerima surat rekomendasi ke RS.
Saya pun segera menghubungi RS tempat saya harus menjalani MRI. Dari informasi teman dan kakak saya, MRI berbiaya Rp 1,6 juta - Rp 2,2 jutaan. Tapi begitu saya hubungi pihak RS ternyata biaya MRI untuk kasus saya lumbun sacral akan menghabiskan Rp 3 jutaan. Wadauwww...MRI itu mahal amit-amit yak, ternyata.
Duh mana saya tinggal beberapa saat lagi menjadi karyawan tetap. Dilema dilema. Saya punya asuransi yang bisa digunakan kalau saya masuk RS pula. Asem asem...Sakit itu mahal teman. Jadi olahraga dan hidup sehat deh.
Salam sehat
Palmerah, 2 Agustus 2013
Rabu, 10 Juli 2013
Sedang Tidak Sehat
Badan saya kurang enak pekan ini. Punggung saya penyebabnya. Juga makanan rujak cingur yang entah bikin saya murus-murus. Alhasil seharian di kantor saya cuma browsing saja mencari materi dan bahan untuk taping dua minggu mendatang. Semoga saja ini hanya sampai akhir pekan saja.
Gawat. Kalau tidak enak badan ini berlanjut hingga pekan depan. Pasalnya minggu depan akan padat. Narasumber banyak yang belum fix. Jadi semoga alam semesta melimpahkan rahmatnya pada saya agar saya sehat.
Ngomong-ngomong, badan ini kurang begitu enak karena sepekan ini saya absen renang. Bukan saya malas. Tapi bulanan yang wajib dijalani perempuan membuat saya mesti absen dulu berenang. Akibatnya punggung ini nyeri sekali. Menjalar ke kepala. Jadi penasaran apa penyebabnya.
Palmerah, 10 Juli 2013
Gawat. Kalau tidak enak badan ini berlanjut hingga pekan depan. Pasalnya minggu depan akan padat. Narasumber banyak yang belum fix. Jadi semoga alam semesta melimpahkan rahmatnya pada saya agar saya sehat.
Ngomong-ngomong, badan ini kurang begitu enak karena sepekan ini saya absen renang. Bukan saya malas. Tapi bulanan yang wajib dijalani perempuan membuat saya mesti absen dulu berenang. Akibatnya punggung ini nyeri sekali. Menjalar ke kepala. Jadi penasaran apa penyebabnya.
Palmerah, 10 Juli 2013
Selasa, 09 Juli 2013
Siang di Salihara Bersama Mas Goen
Senin, 8 Juli 2013 saya menemui Mas Goen di Salihara. Pertemuan yang membekas di hati saya. Kami bicara beberapa hal. Tentu yang akan saya ceritakan soal membuat buku yang kami rencanakan bertahun lalu. Buku tentang Pak Djoko Pekik, pelukis Celeng yang tersohor itu. Harga lukisannya tergolong termahal pada saat itu. Rp 1 miliar. Semula saya hanya mewawancarai Pak Pekik dan beberapa orang di sekitarnya. Tapi saya tidak ingin hanya mewawancara saja. Saya mengutarakan niat saya untuk belajar menulis.
Belajar langsung dari sang suhu, penulis Caping Majalah Tempo tentu akan berbeda rasanya. Mas Goen menyambut keinginan saya. Aih senangnya. Tapi buru-buru saya bilang. "Kalau terlalu ringan, mohon dimaklumi ya, Mas?" Mas Goen bilang,"Justru jangan berat semua. Memang bagian saya sangat berat."
Wah rasanya saya melayang. Senang betul. Saya merutuki diri, kenapa tidak dari dulu saya sampaikan keinginan ini. Kami harus bergegas menuntaskan buku ini. Dan saya sudah menyiapkan diri melekan dan bekerja keras untuk menuntaskan ini.
Semoga alam semesta memberkahi.
Palmerah, 10 Juli 2013
Langganan:
Postingan (Atom)
