Apa yang indah indah dari persahabatan? Jawaban saya: jika kita mampu memelihara persahabatan itu ukuran kesadaran. Sejak kecil saya punya sahabat. Seabreg-abreg jumlahnya hingga sekarang. Kata banyak teman, saya tipe orang yang mudah mendapat teman. Mungkin benar. Tapi sejujurnya sahabat saya yang mengerti "jeroan" saya luar dalam tidak lebih dari lima jari.
Nah, belakangan saya mulai berpikir-pikir sahabat yang benar-benar dalam arti sebenarnya bagaimana sih? Dulu sekali saya sangat melekat pada teman-teman saya. Saking melekatnya, saya jadi posesif. Tentu ini tidak sehat. Melalui pasang surut persahabatan beberapa kali, saya tersadarkan satu hal: Sahabat datang dan pergi, seperti debu. Mirip kalau kita punya kekasih, suami, ayah dan ibu. Sama saja. Jadi belakangan ini saya melepaskan kelekatan itu. Lebih enak sih. Dengan siapa saja saya bersahabat, tak ada beban, tak bersekat. Sahabat datang dan pergi itu biasa. Mereka marah pada saya atau bahkan sebaliknya, mereka juga pergi dari kehidupan kita. Jadi tak perlu terlalu melekatinya.
Saya sadar memaafkan seseorang yang melukai
kita butuh waktu sejenak. Begitu pula saya juga sadar kalau kita
memelihara kemarahan kita terlalu lama pada seseorang, kita sendirilah
yang akan terluka, bukan orang lain. Jadi cuma butuh proses untuk kembali seperti biasa. Jika saya ingin menghindari seseorang dalam menjalin persahabatan itu, bukan karena saya benci atau mendendam. Tapi pada saat ini, memang diri ingin menjauh. Itu saja. Saat alam semesta memang mempertemukan, maka sahabat juga akan kembali dekat. Itu saja.
Yogyakarta, 13 Januari 2013
Sabtu, 12 Januari 2013
Kamis, 10 Januari 2013
Lega
Perasaan lega itu, sepeti orang mencari minuman ketika rasa haus menghinggap di terik yang menyengat, lalu menemukan pedagang es kelapa muda. Begitu es kelapa muda diseruput ahhhhh....rasanya lega, rasa haus pun meruap. Seperti itulah perasaan saya tadi malam. Tak mudah mengatakan sesuatu yang berat kepada teman yang menjadi mitra kerja kita selama beberapa saat.
Hingga pada akhirnya mesti lidah kelu kata-kata itu keluar juga. Pamitan.
Yogyakarta 11 Januari 2013
Selasa, 08 Januari 2013
Dikejar Deadline
Terburu-buru. Dikejar deadline, mungkin dalam sebulan mendatang yang akan menjadi sahabat karib saya. Dan lambat laun saya pasti akan terbiasa dengan keadaan yang serba terburu-buru itu. Asosial mungkin juga menjadi bagian dari saya. Penikmat kehidupan mungkin juga makin jauh. Nah itu tadi bayangan saya, persepsi saya.
Beberapa saat kemudian saya sadar. Berdialoglah diri ini. Jangan memikirkan masa depan, jangan ingat masa lalu. Beradalah pada kekinian. Artinya, bisa saja apa yang saya pikirkan, kejadiannya tidak seperti kenyataannya.
Jadi, selamat datang Jakarta. Ibunya kota-kota di Indonesia. I'm coming. Inilah yang akan saya ketahui kelak, apakah diri ini akan sama dengan kedatangannya saya beberapa tahun lalu di Jakarta. Penuh kemarahan, terburu-buru, tidak sabaran, kemrungsung, praduga, persepsi buruk, dan sedikit trauma kecil yang menghantui. Manusia berubah, demikian pula saya. Ada baiknya sementara ini saya mengingat perkataan Budha. Melihat hanya melihat. Mendengar hanya mendengar. Dan semua hal akan baik-baik saja ketika membiasakan diri pada persepsi murni. Yeaaay...
Salam manis dari saya awal tahun yang memikat hati saya.
Yogyakarta, 7 Januari 2012
Catatan Saya Hilang
Entah kenapa, blog yang saya tulis kemarin hilang. Aneh. Ceritanya mau merevisi tulisan yang akan sudah kadung di posting tetapi banyak kata yang terlewat. Eh malahan tulisan Memperbaharui Tahun ilang. Hiks. Aneh. Tapi ya sudahlah. Mungkin ada yang saya tidak ketahui dari aturan blogspot lantaran terlalu lama tidak menulis. Ya wis...semoga tulisan bisa di back hehehhe
Selasa, 01 Januari 2013
Minggu, 28 Oktober 2012
Sepenggal Cerita Dari Lima Negeri (2)
Sebelum melakukan perjalanan, kami memesan tiket lima bulan sebelumnya. Nyocokin waktu dan empat kepala nggak klop-klop. Kristo, ujian skripsi, sementara Dita sudah masuk kuliah. Saya dan Mbak Yosi juga kerepotan menyusun jadwal lantaran kesibukan pekerjaan kami masing-masing.
Tapi begitulah, biar badan topan melanda, perjalanan back packer tetap harus kami teruskan. Mencari tiket melalui internet memang tak mudah. Cari harga tiket yang murah eh...baliknya yang bujubune mahalnya. Begitu terus. Jadi teman-teman yang ingin bepergian bareng-bareng, mencari tiket pesawat juga nggak gampang lho. Padahal kami sudah jauh-jauh hari memburu tiket.
Tapi sebagaimana pengalaman yang sudah-sudah, dewi keberuntungan masih mampir kepada tim nano-nano. Kami mendapat tiket pulang pergi Jakarta-Singapura-Hongkong-Singapura-Yogyakarta dengan harga Rp 2,7 juta. Murah atau nggak? Yang jelas, apa boleh buat harga ini jauh lebih murah ketimbang tiket PP Jakarta-Raja Ampat yang konon bisa Rp 10 juta (pingsan deh). Hiks hikss.... (Raja Ampat adalah lokasi impian saya yang karena kendala kantong belum juga saya singgahi) Merasa bersalah bahwa saya belum menyinggahi beberapa tempat top di Indonesia antara lain Wakatobi, Raja Ampat, Pulau Komodo, dan Pulau Derawan. Namun perasaan bersalah saya terhadap Papua terwakili atas kunjungan saya ke Timika dan Sorong, pulau kepala burung yang letaknya di ujung Timur Indonesia.
Dengan tiket di tangan senyum kami melebar. Urusan ribet pertiketan sudah teratasi. Lima negara sudah ada di pelupuk mata. Untuk semetara kami loncat jingkrak. Yeaaaahhh....
Yogyakarta, 27 Oktober 2012
Jumat, 19 Oktober 2012
Tuhan, Apakah Kau Pernah Jatuh Cinta?
Tentu, saya tidak sedang meratap pada Tuhan. Saya cuma penasaran saja, Tuhan itu kayak apa ya? Dia laki-laki atau perempuan. Kalau dia laki-laki apakah dia banyak memihak kaumnya jika ada yang tertimpa masalah, dan itu melibatkan perempuan. Sebaliknya kalau dia perempuan, apakah dia juga membabi buta cuma memihak kaum hawa, jika berperkara dengan kaum adam.
Saya persempit masalah jika kasusnya soal hubungan cinta antara laki-laki dan perempuan yang berbeda agama, misalnya. Dia berada di pihak siapa ya? Apakah Tuhan punya agama? Kalau punya, agamanya apa ya hehehe. Setelah itu pertanyaan saya selanjutnya, siapa yang Dia bela jika ada yang mengalami masalah kepentok soal beda agama ini. Apakah Tuhan pernah jatuh cinta? Jadi, dengan begitu dia punya pengalaman berada di pihak mana ketika dua orang jatuh cinta berpekara? Ini mungkin pertanyaan bodoh. juga pertanyaan tidak mutu yang seharusnya tidak perlu dipertanyakan. Tapi saya juga berhak sesekali mengajukan pertanyaan maha bodoh ini, kan? Menurut kalian bagaimana?
Yogyakarta, 17 Oktober 2012
Langganan:
Postingan (Atom)





