Kamis, 31 Mei 2012

Kisah Kepahlawanan yang Terlupakan

Shukoi, secara pribadi membuka mata saya tentang sebuah profesi langka. Tiga ahli antropolog forensik yang cuma dimiliki Indonesia sangatlah minim. Semoga saja tulisan ini mengetuk pintu bagi putra putri Indonesia untuk berkecimpung disana.

http://www.tempo.co/read/news/2012/05/28/173406574/Kisah-Pengumpul-Puzzle-Jenazah-Korban-Sukhoi

Rabu, 30 Mei 2012

Miss Untung

Kalau ada orang paling beruntung di dunia ini, mungkin saya salah satunya :) Lantaran kerap memeroleh keberuntungan, keluarga memanggil saya  Miss Untung. Miss Untung plesetan dari tokoh Donald Bebek si Untung yang beruntung terus. Saya protes, habis namanya jelek amat sih.  Mbok diganti Miss Lucky biar agak keren. Tapi ya sudahlah. Apa arti sebuah nama.


Keberuntungan saya yang paling kentara dan kerap terjadi adalah mendapat tiket murah dan selalu memerolehnya dalam situasi sulit apapun. Karena kerap traveling dan selalu dadakan, maka nyaris pembelian tiket di limited edition alias pada hari H. Kalau hari biasa sih, oke-oke saja. Tapi hari besar Lebaran, Natal, dan liburan sekolah. Alamak, mana tahan. Susah banget. Sebenarnya dengan kartu pers sedikit memberi peluang saya mendapatkan tiket. Tapi mana mau saya. Hiii seram.


Nah, triknya biar dapet tiket, datang pada hari keberangkatan. Saya nyaris tak pernah gagal mendapatan tiket, liburan padat sekalipun. Tapi sejak sistem online seperti sekarang ini memeroleh tiket kereta api makin ajaib. Kayak kita berjudi. Mengandalkan keberuntungan.  Seperti dua pekan lalu. Saya antri setengah jam sebelum keberangkatan. Petugas bilang tiket habis. Waks...saya pucat. Pasalnya esok paginya, saya mesti  ke luar negeri. Tiket pesawat sudah di tangan. Gimana dong. Saya rundingan dengan keponakan yang mengantar.  Paling pahit, saya naik kereta tengah malam.


Iseng-iseng...saya kembali lagi. Tapi pemesanan di loket sebelahnya. Eh...ada lho. "Tinggal satu tiket eksekutif," ujarnya. Ajaib, kan. Selamatlah saya. Keberuntungan menyertaiku :)

Naik pesawat terbang juga ada triknya. Kalau jauh-jauh hari pesan memang lebih murah pada saat sekaraang. Tapi beberapa tahun lalu nggak begitu.  Pernah kakak saya dan teman pesen pada hari yang sama. Dengan jam dan tujuan yang sama mereka memeroleh tiket lebih mahal, berbeda sampai ratusan ribu. Hahaha. Tapi gara-gara keberuntungan itu, keluarga jadi menyerahkan urusan pertiketan kepada saya. Hiks hiks...

Keberuntungan lain, soal mengejar nara sumber. Entah kenapa untuk urusan ini saya mendapat banyak sekali keberuntungan. Saking banyaknya, sampai saat menulis ini jadi lupa. Tapi begini, hal yang paling saya ingat adalah ketika beberapa kali saya telat datang ke acara. Teman-teman wartawan lain sudah pulang, tapi acara belum kelar. Manyun deh saya. Sendirian. Tolah toleh. Kayak anak ayam kehilangan induknya.

Tapi kantor kami jelas tak membolehkan kloning (minta berita dari wartawan lain). Terpaksa, saya menunggu nara sumber yang sudah ngendon di kantor. Eh di tengah-tengah menunggu acara itu, ada narasumber yang paling ditunggu informasinya datang ke kantor itu. Misalnya kepala BIN (Badan Intelijen Negara, Panglima TNI  atau orang yang sedang berkasus saat itu seperti Mulyana W Kusuma. Weittss...tergopoh-gopoh saya mengacungkan tape dan mewawancarai ini itu. Besoknya, headline deh karena cuma saya sendiri yang mendapat informasi itu...Hahahhaa....Manyun berbuah keberuntungan.


Keberuntungan lain yang bikin teman-teman lain "ngiri" adalah dapat mendapat doorprize dan hadiah. Untuk urusan satu ini, entah kenapa  jidat saya seperti ditempeli "penerima doorprize" Hehehe. Mengapa saya bilang beruntung untuk urusan ini? Saya punya saudara dan banyak teman yang jangankan jam tangan,kamera, televisi, kulkas, mendapat kaos pun tidak pernah kebagian. Dia bercerita, kantornya pernah  ulang tahun. Hadiah bejibun mulai dari motor, voucher menginap di hotel, kulkas, kamera. "Saking banyaknya hadiah, peluaag orang untuk mendapat satu banding satu,"katanya. Saking ingin memeroleh hadiah dia sampai  merapal "mantra"  dari rumah. Dia memang dapat, tetapi cuma pulsa Rp 50.000. Dia  pun mencak-mencak. Hihihi. 


Nah, apa yang saya dapat? Memang sih mobil dan rumah belum. Ohhhh...semoga suatu saat nanti saya mendapatkannya. Tapi puyeng bayar pajaknya nggak ya? Dari kamera, jam tangan, voucher sampai kulkas pernah saya dapatkan. Tapi ada nggak enaknya juga llho mendapat doorprize barang besar. Ketika orang sudah pamitan pulang dan melenggang kangkung...saya disibukkan diri cari angkutan bawa doorprize pulang. Hiks...


Saya mengaku tak memiliki keistimmewaan lebih. Otak biasa-biasa saja, kekayaan biasa-biasa aja malah masuk kategori miskin hihihi. Satu-satunya keistimewaan yang saya miliki ya selalu memeroleh keberuntungan dan mendapat banyak keajaiban setiap hari. Tentu tidak menggantungkan diri pada keajaiban dan keberuntungan semata. Itu namanya bunuh diri. Biasanya begitu saya bangun pagi, meditasi, membuka pintu kamar, saya pandangi seluruh alam semesta. Saya berucap. Beruntungnya saya setiap hari. Sungguh hidup yang saya syukuri


Yogyakarta, 31 Mei 2012


Senin, 21 Mei 2012

Nongkrong

Nongkrong itu paling asyik buat saya. Bisa nggambleh sejontor-jontornya. Obrolan mulai dari   membicarakan kehebatan teman juga diri sendiri pastinya :) Tapi porsi terbanyak biasanya pastilah membicarakan diri sendiri. Aku begini, aku begitu. Masa sekolah dan masa kuliah, banyak saya habiskan dengan nongkrong. Nggambleh sampai dini hari. Tentu saya tak menyesal waktu itu.

Tapi kini berbeda. Saya termasuk orang yang pemilih kalau nongkrong. Biasanya saya bersedia, jika ada tugas liputan atau karena kami memiliki kesamaan visi, membuat karya. Ketika nongkrong pun, saya bisa 90 persen menjadi pendengar, bisa 90 persen mendominasi pembicaraan. Bisa pula 50-50. Begitu pulang, saya evaluasi. Pertemuan berikutnya keadaan bisa berbalik dari sebelumnya yang terjadi.

Nongkrong kalau cuma nggambleh benar-benar saya kurangi. Sekali dua kali sudah cukup. Kalau berlebihan, saya melekat dan akan terus tinggal bersamanya, segera saya sadari. Saya akan menarik diri dulu. Menetralisirnya. Bukan karena saya tak cocok dengan teman nongkrong atau tak suka karakter orang itu. Sama sekali bukan. Sesuatu yang nyaman dan enak itu membuat kita melekat dan terseret di dalamnya. Kalau sudah begitu, saya akan  sulit  mengawalinya kembali, menziarahi batin.  Bukankah batin yang membebaskan itu membuat kita lepas dari penderitaan?





Minggu, 20 Mei 2012

Punya Teman Berolahraga

Pagi saya hari ini  lebih bergairah. Saya jogging kembali. Yihaaa...Maksudnya dengan jarak yang cukup jauh. Keliling kampung. Tahun-tahun sebelumnya saya rajin berjogging. Setiap pagi 1-2 jam. Tidak pernah sakit dan  tubuh benar-benar terjaga staminanya.Jogging berhenti karena orang mabuk menabrak saya dari belakang. Saya tidak bisa beraktifitas selama enam bulan.

Teman baru saya berolahraga, Ela, baru pindah kos. Dia senang olahraga. Wah saya juga. Cuma kadang sering kena penyakit males karena tiada teman. Padahal dulunya juga sendiri. Jadinya saya lebih suka bergerak-gerakdi beranda tempat tinggal saya. Tapi manalah berkeringat? sambilmenggerak-gerakkan tubuh, kami bikin jadwal olahraga. Ini jadwalnya.

Senin : jogging
Selasa: renang
Rabu  :senam
Kamis dan seterusnya mengikuti jadwal sebelumnya.

Jadi mulai hari ini pagi saya bertambah aktivitas. Bangun-meditasi-olahraga
Sehat itu tidak mahal. Saya sudah membuktikannya. Jadi apa salahnya saya memulai lagi dari sekarang. Sehat dengan cara yang murah.

Nb: saya punya sepeda. sudah dua tahun tak saya gunakan sejak saya beli. Mungkin hari  Sabtu atau Minggu, jadwal saya untuk bersepeda ya? Siapa mau menemani saya?

Nb lagi : saya punya pelatih renang baru...xixixi. Kalau sampai nggak bisa kebangetan :)


Salam sehat

Yogyakarta, 21 Mei 2012

Pukul 07.43


 

Pagi

Irabere-Dili Timorleste


Apa yang lebih indah dari pagi? Ketika orang tak bergegas, tak terengah-engah. Waktu melambat. Hening....

Tentang Film Korea


foto ist Ratih Pratiwi Anwar
Tahun lalu saya mewawancarai  Ratih Pratiwi Anwar, Peneliti Pusat Studi Asia Pasifik Universitas Gadjah Mada dan kepala divisi riset dan pengembangan  Pusat  Studi Korea UGM. Menarik bahwa Korea begitu seriusnya menggarap industri film sampai menjadi kiblat beberapa negara-negara tetangganya.

Tak cuma industri filmnya saja yang berkembang, tetapi juga industri fashion, elektronik dll. Yang menarik, klinik-klinik kecantikan ala Korea kini bertebaran di Thailand. Lebih lengkapnya simak wawancara berikut ini. Sebagian wawancara sudah pernah dimuat di Koran mingguan Tempo.



1.      Sejak kapan persisnya demam Korea melanda Indonesia? Melalui film
atau musik?

Tepatnya tidak bisa bisa dipastikan. Tetapi demam itu secara bertahap.
 Pada tahun 2003 ketika saya menuliskan tetntang tulisan  “menengok
sinetron di negeri Ginseng. Waktu itu sinterton Korea hanya sedikit
ditonton padahal  film Korea layak ditonton. Jadi inti tulisan dalam
blog saya pada waktu itu mengapa tidak menonton?

Fenomena ‘demam Korea’ ini terjadi sejak beberapa sinetron Korea yang
ditayangkan sebuah stasiun televisi swasta mampu menghibur dan menarik
perhatian pemirsa dari berbagai usia dan kalangan. Hal tersebut
mengindikasikan bahwa Indonesia tak luput dilanda gelombang budaya pop
Korea atau terkenal sebagai hallyu wave.

Istilah hallyu muncul pertama kali di Cina untuk menyebut ekspansi
budaya pop Korea Selatan ke Asia yang terjadi sejak akhir dekade
1990an. Bahkan di Cina ada istilah hahanzu untuk menjuluki mereka yang
‘tergila-gila’ pada film, sinetron, musik pop dan selebriti Korea.
Setelah sukses di Cina, Jepang, Taiwan, Singapura dan Vietnam pada
awal 2000-an, budaya pop Korea tersebut kini telah menyebar dan makin
populer di negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia.  Indonesia
negara yang agak belakangan karena lokasinya tak sedekat Jepang, China
dan lain-lain.


Di Indonesia, selain dari maraknya penayangan sinetron dan film Korea
di televisi, hallyu banyak ditemukan di gerai-gerai VCD dan DVD.  Jika
industri film Korea mulai bangkit lagi sejak tahun 1999, sinetron
Korea yang di negeri asalnya lazim disebut mini series baru melejit
tahun 2002. Awalnya, sebuah sinetron melodrama ‘Winter Sonata’ yang
diproduksi bersama oleh Korea dan Jepang mendapat sambutan luar biasa
oleh pemirsa di kedua negara. Sinetron ini juga telah ditayangkan di
Indonesia tahun 2002 lalu, tapi pemirsa Indonesia baru benar-benar
terpikat oleh beberapa sinetron Korea yang ditayangkan di layar gelas
tahun 2005, di antaranya ‘Memories of Bali’ dan ‘Full House’ yang
bahkan ditayangkan ulang.





2. Apa yang membuat budaya dan gaya hidup Korea diminati
(karakteristik mode rambut, pakaian, makanan, (musik dan film:
benarkah cuma tampak tampan dan cantik? Kualitas musiknya)? Apa
bedanya dengan Jepang dan Mandarin?


Sinetron Korea memang layak ditengok karena dari perkembangannya ada
beberapa hal yang dapat ditarik manfaatnya. Mengapa sinema elektronik
Korea bisa booming dan diterima secara luas di negara-negara Asia?
Sinetron yang kebanyakan diproduksi oleh stasiun radio dan televisi di
Seoul tersebut mempunyai kualitas di atas rata-rata. Jalinan ceritanya
dan dialog-dialognya berhasil menyentuh emosi pemirsa (baik pria
maupun wanita) dari berbagai lapisan usia. Didukung oleh sinematografi
yang sempurna, soundtrack yang romantis, pemilihan pemain-pemain
(casting) yang pas, akting aktor dan artisnya yang terkesan sangat
alami, serta dengan latar belakang suasana keindahan musim dan
pemandangan alam di Korea menjadikannya tontonan yang manis di mata
maupun di hati.


Bandingkan dengan Indonesia. Artisnya juga tidak kalah cantik bukan?
Tetapi kualitas acting mereka lebih baik.  Sinetron Korea juga
memiliki keunggulan komparatif yang menjadikannya unik dibandingkan
sinetron-sinetron produksi negara-negara Asia Timur lainnya. Jika
sinetron Taiwan dan Jepang terkesan berorientasi untuk generasi muda,
Jepang bahkan  lebih condong ke Barat untuk pembuatan filmnya,
sementara  sinetron Hongkong  hampir dibumbui darah dan kekerasan,
maka sinetron Korea lebih mengangkat nilai-nilai hidup orang Asia,
dengan cerita yang sederhana dan mempunyai kemiripan dengan kisah
hidup pemirsanya sehari-hari.  Bahkan film Korea mampu memadukan
cerita gangster berpadu dengan komedi.  Indonesia, misalnya, kalau
mengangkat film action hanya melulu action, tidak berpadu dengan
komedi. Pendek kata genre film Korea itu beragam.  Nilai tradisonalnya
ada, budaya, dan kearifan lokalnya juga masuk.


3. Benarkah Hallyu merupakan strategi pemerintah Korea untuk
menyebarkan kebudayaan Korea di seluruh dunia? Apa saja yang dilakukan
pemerintah?


Benar. Dan memang Korea sudah mulai menyebar ke seluruh dunia. Sebagai
contoh, di China sayabaca artikel, ada klinik kecantikan yang bisa
mengubah wajah mereka  mirip  orang Korea. China sampai mendatangkan
ahli kecantikan asal Korea untuk  ini.  Waktu saya ke Thailand juga
ada klinik kecantikan  yang menjanjikan seseorang bisa  mirip dengan
pujaan hatinya di Korea.

Pemerintah  Korea tampaknya sengaja melakukan penyebaran kebudayaan
melalui film-film mereka.  Dan ini memang alat diplomasi secara
efektif tidak harus melalui  perang, tetapi diplomasi melalui budaya.
Inilah yang patut menjadi referensi  Indonesia.


Film Korea sendiri baru benar-benar diterima oleh warganya sekitar
tahun 2000  ketika  film SHIRI menjadi box office di negaranya. Inilah
yang menjadi tonggak kebangkitan film Korea di negaranya. Film asing
yang semulai merajai  bisokop di Korea  bergeser. Orang Korea menonton
film  mereka sendiri. Bisa dibilang  film ini bisa membangkitkan
nasionalisme  warga Korea. Inilah yang perlu dilakukan Indonesia.


Berapa lama Korea menyiapkan ini hingga akhirnya film mereka diterima
di seluruh dunia? Dan seberapa serius mereka menyiapkan ini?


Sejak tahun 1973. Memang butuh proses panjang. Sekitar 27 tahun. Tapi
apa yang dicapai dari keseriusan mereka dalam menggarap  film itu tak
hanya menyebarkan kebudayaan Korea saja, tetapi dari film itu mereka
mengenalkan produk-produk Korea ke pasar-pasar luar. Misalnya dalam
film, selalu memperlihatkan produk buatan mereka Hyundai, hanphone LG,
Samsung dll. Ini pasar ekonomi yang strategis bagi pemerintah Korea
untuk mengenalkan produk-produk mereka ke dunia luar. Dan strategi itu
berhasil. Perusahaan multinasional ikut terlibat  aktif dengan
produser film dan pekerja film. Nah, inilah yang seharusnya dilakukan
oleh perusahaan terlibat dalam film-film di Indonesia.


Sama seperti yang dilakukan oleh pemerintah Korea, maka Indonesia juga
perlu mendorong iklim yang baik bagi kalangan insane perfileman.


Bukankah pekerja  film semisal, Garin Nugroho, Mira Lesmana, Riri Reza
sudah mulai mengangkat film Inodnesia yang berkualitas baik?

Ya memang, terutama cerita yang membangkitkan nasionalisme sudah
banyak digarap oleh para sineas Indonesia.


Tapi apakah nasionalisme saja sudah cukup? Bukankah selain mengangkat
tema nasionalisme, lebih dari itu, film Korea mampu membuat warga
belahan dunia lain melirik produk-produk mereka yang artinya
menumbuhkan perekonomian  Korea itu sendiri? Apakah tidak sebaiknya
film menjadi  pintu masuk bagi Indonesia untuk menarik  negara lain
menggunakan produk Indonesia, seperti yang dilakukan Korea?


Itu sebabnya  pemerintah harus  aktif mendukung para pekerja  film
ini. Nasionalisme memang sudah bagus, tetapi jika melalui film bisa
menggairahkan perekonomian di Indonesia, kenapa tidak dilakukan?
Contoh pemerintah Korea akan sangat giat  memperkenalkan  film mereka
melalui pekan-pekan film Korea di universitas-universitas. UGM sendiri
pernah melakukan itu dan disponsori oleh pemerintah Korea.

Kedua, mereka mendorong gairah film Korea itu melalui   lomba menulis
scenario. Artinya  pemerintah Korea serius mencari  penulis scenario
yang baik untuk menghasilkan   cerita yang menarik.

Dan ini yang paling bagus, pemerintah  Korea mendirikan 40 institusi
film, ada departemen  statistic film yang mempublikasikan  film-film
merek melalui satu tahun annual report, membuat studio-studio film.
Jadi pemerintah Korea memang sangat serius menggarap perfilmen mereka.


Korea memerlukan waktu sekitar 27 tahun sehingga filmnya sekarang
mendunia. Belum ada kata terlambat untuk Indonesia. Seorang pengamat
mungkin bisa memangkaslamanya prose situ misalnya menjadi 15 tahun.
Jadi Indonesia harus memulainya dari sekarang.

 Benarkah banyak kemudahan (subsidi) yang diberikan kepada seniman dan
budayawan untuk itu? Berapa anggarannya?


Kalau soal anggaran persisnya saya tahu. Tapi yang jelas, seperti yang
saya ceritakan tadi, pemerintah Korea sangat mendukung  perfilman di
negaranya.


 Peran swasta dalam penyebaran budaya dan gaya hidup Korea?


Ada melalui produk multinasional seperti Hyundai, LG, Samsung yang
berproduksi. Perusahaan  swasta mendapat iklan dari produk-produk itu,
sementara pekerja film bisa mendapat dana utuk pembuatan karya film
itu sendiri.


 Apa yang bisa dipelajari dan diakomodasi Indonesia dari strategi Demam Korea?

Tak ada salahnya jika pemerintah Indonesia dan produsen sinetron
belajar dari Korea dalam hal mengangkat citra negara di luar negeri
dengan memajukan sinetron nasional. Sebab lewat kemajuan dan ekspansi
sinetron dan produk budaya lainnya (dengan kualitas yang bagus
tentunya), Korea Selatan mampu mengangkat image positif mereka yang
sebelumnya tidak begitu dikenal di tingkat regional dan internasional.
Departemen Luar Negeri Korea sangat giat mempromosikan produk budaya
pop Korea di tingkat internasional karena menyadari film dan sinetron
dapat berfungsi sebagai alat diplomasi. Nyatanya hallyu berperan besar
memperbaiki hubungan dengan Vietnam yang retak akibat keterlibatan
Korea Selatan di Perang Vietnam serta membantu mendekatkan masyarakat
Jepang dan Korea yang negaranya sampai saat ini masih saling
berkonflik tentang skeejarah perang.

Film, Musik, dan Sepakbola

Apa yang membuat orang atau massa berkumpul di dunia dengan senang hati di era teknologi ini? Bukan paksaaan, tetapi keinginan dari tiap pribadi. Ada tiga hal yang menonjol dari pengamatan saya dalam tiga atau empat tahun terakhir yakni film, musik, dan sepakbola. Jika Anda mampu menguasai tiga hal ini maka Anda memenangkan massa fanatik yang "setia" pada Anda.


Pengamatan ini berangkat dari kegelisahan partai-partai yang mengeluhkan tentang massa yang sulit dikumpulkan mereka. "Kalau tidak ada gizinya, mereka tidak mau berangkat," kata seorang anggota partai pada saya waktu itu. Kala itu, setahun sebelum pemilihan Presiden dan wakil rakyat. Tentu, gizi yang di maksud dia uang saku, uang operasional untuk ikut menyemarakkan acara-acara partai seperti kampanye, sosialisasi.


Pada kesempatan lain saya mengobrol dengan  seorang penggerak massa yang punya massa  sungguh luar biasa. Dari ceritanya pada saya,  dan sungguh saya bisa membuktikan di lapangan, dia sanggup membawa massa hingga puluhan ribu orang. Tentu, tidak gratisan. Perlu ratusan juta untuk mendatangkan mereka. Bener, kata orang jaman sekarang. "Ndak ada fulus, semua nggak jalan."
Jogja pernah menjadi lautan massa karena peranan dia. Saya tahu partai dan siapa yang memakai, tetapi nggak etislah kalau saya sebutkan disini.


Kembali ke soal pengamatan tadi, film, musik, dan sepakbola sungguh masih punya magnit bagi anak-anak muda jaman sekarang. Anak muda  era dunia virtual, digital, jejaring sosial. Ibaratnya, teknologi adalah Tuhan baru bagi anak-anak muda. Tak mengherankan, film-film Indonesia dibanjiri penonton. Juga film-film luar negeri. Film, termasuk FTV di televisi kenapa disukai? Karena di film orang terlihat begitu sempurna. Sungguh berbeda dengan dunia nyata. Mereka butuh hiburan. Yang melihat semua yang ada di dalamnya cantik, ganteng, kaya raya, sempurna. Mirip dunia jejaring sosial, virtual yang semuanya tak nyata. Suka tidak suka orang membutuhkan impian, ilusi untuk menenangkan permasalahan hidup. Dari film mereka butuh tokoh panutan, ideal, yang harapannya bisa ditemukan dalam dunia nyata.


Seperti film, musik pun demikian. Semua musik di televisi tak pernah sepi penonton (Yayaya...meski saya tahu ada sebagian besar penonton bayaran). Ratingnya terus bertahan. Buktinya, sudah bertahun-tahun  acara musik tak pernah hilang dari acara televisi.  Kontes musik, roadshow, hampir tiket habis terjual. Jarang ada yang merugi.  Pendek kata, entah mereka membayar, atau gretongan (baca gratis) tetap saja dibanjiri pengunjung. Pada musik, seseorang membutuhkan pelepasan, jingkrak sana jingkrak sini. Mereka juga ketemu sang idola yang aduhai indah nian. Seksi, cantik, ganteng, wangi.


Hemmm...sepakbola....Siapa yang tak tahu massa bola. Massanya fanatik dan rela melakukan apa saja demi bola. SPSI sampai ribut berkepanjangan jelas bukan tanpa alasan.  Memperebutkan "tahta" bukan hanya sekedar fulus, tetapi lebih dari itu ada "sesuatu" yang direbut dari massa fanatik bola. Bisa mengarahkan ke politik dan bercabang kemana-mana :)


Saya tak akan terlalu menyoroti musik dan sepakbola. Sengaja film yang akan saya bahas karena ada beberapa hal yang cukup menggelitik saya. Industri film di Indonesia mulai bergairah di awali dengan film Ada Apa dengan Cinta besutan Sutradara Mira Lesmana dan Riri Reza. Meledaknya film untuk anak muda bergaya populer itu membuktikan  pasar Indonesia ternyata lumayan menjanjikan. Lantas, muncullah  film-film bermutu Indonesia yang kerap  menang di kancah internasional. Keplok untuk Indonesia.


Sekitar lima tahun lalu,  muncullah film Denias besutan sutradara  Johni de Rantau dan diproduseri Arie Sihasale. Arie Sihasale-lah yang membuka keran film berbau nasionalime, patriotisme di era sekarang hingga muncullah film Garuda di Dadaku dan film-film berbau nasional lainnya. Menarik bahwa ada pihak yang sadar   "merekrut" anak-anak muda di era sekarang melalui pendekatan film. Ini pilihan yang tak mungkin dihindari lantaran anak-anak muda jaman sekarang tak mudah dicekoki nilai nasionalisme, patriotisme, ke-Indonesia-an melalui pelajaran di sekolah. Masuk melalui film tentulah sangat mudah. Contoh, dalam film Denias, ada tokoh tentara, Kopasus yang diperankan Arie sangat jauh dari kesan sangar. Penggambaran TNI yang dalam sehari-hari kita  kenal orang yang sangat disiplin, tegas, galak, digambarkan begitu humanis.


Maka, jangan heran jika setelah ini film-film Indonesia akan dibanjiri tema-tema seperti yang telah dijelaskan di atas. Jaman berubah. Teknologi berubah. Manusianya pun berubah. Tak ada salahnya kita meniru Korea yang sukses membangun industri film dalam kurun 27 tahun. Dari film, Korea berkibar dan menjadi kiblat dalam dunia fashion.  Industri otomotif dan teknologi yang nyaris tenggelam oleh kejayaan Jepang kini  mulai di lirik oleh negara-negara lain. Begitu pula klinik kecantikan yang kiblatnya ke Korea. Denyut perekonomian negeri Gingseng itu pun bergerak. Mereka memulainya dari film. Indonesia punya pasar besar. Jumlah penduduk besar. Mengapa kita tak memulai dari film untuk mensejahterakan rakyatnya? Juga musik yang belakangan ini mulai digarap serius oleh Korea.

Yogyakarta, 19 Mei 2012


03.27  PM