Rabu, 28 Maret 2012

Menolak Korupsi Ala Anak SMP

Saya sedang mengunjungi keponakan. Dia tinggal di komplek Halim Perdanakusuma. Jarak rumahnya dengan hanggar pesawat yang biasanya digunakan ketika Presiden berkunjung ke luar Jakarta hanya berapa ratus meter saja. Saking dekatnya, kalau pesawat Hercules akan mengudara, suara gelegarnya terdengar sampai rumah. Memekakkan telinga. Ramai betul. Pertama kali berkunjung, saya kaget luar biasa. Mengira ada kebakaran, atau kekacauan massa hehehe. Eh ternyata suara Hercules. Tapi kalau jet atau pesawat Presiden yang mengudara, suara mesinnya tak begitu. Halus...dan jessss...tak berisik seperti hercules. Ada rupa ada harga, kawan :)


Meski diselingi suara yang memekakkan, berada di komplek perumahan ini, serasa masuk ke pedesaan. Komplek maha luas itu dikelilingi pohon-pohon rindang. Di salah satu komplek itu, sebuah pesawat nangkring. Kadang-kadang saya berjalan kaki dan memotret pesawat mungil itu. Menyusuri komplek perumahannya, kita seperti dihempaskan ke lorong waktu, berpuluh tahun silam. Rumah-rumah dengan pintu-pintunya yang tinggi khas bangunan jaman Belanda, langit-langitnya yang tinggi hingga masuk ke dalam rumah, rasanya adem mesti ruangan tak memakai pendingin ruangan. Sesuai dengan warna identitas institusinya, maka warna rumah semua komplek bernuansa kembar. Dominasi warna biru laut yang menentramkan. Suasananya komplek nan sepi ini, membuat saya selalu melupakan tengah berada di rimba metropolitan yang ramai, dikelilingi gedung berbeton, dan pencakar langit. Tentu, saya menyukai suasana menentramkan seperti ini.


Keponakan saya ini, Dita namanya. Keren, manis, dan rada gendut kayak saya hihihi. Celotehnya tentang banyak hal, kadang-kadang membuat kening saya mengerenyit. "Apa ketika seusia dia, saya seperti itu ya," saya membatin. Saya selalu beranggapan, perjumpaan saya dengan banyak orang, seperti kita berada di depan cermin. Orang-orang yang kita temui itu sebenarnya cermin atau bayangan kita, jika kita menyadarainya. Tidak semua karakter tentu saja. Tetapi ada mozaik-mozaik kepribadian kita bisa kita temukan dalam diri orang lain itu. Menjadi anak kecil, orang tua, bahkan orang gila sekalipun. Itu menurut saya lho. Berbeda dengan saya juga ndak papa.


Dita baru kelas 3 SMP. Tubuh bongsornya menyamarkan dia masih anak seragam putih biru hehehe. Sore itu, hujan turun di beranda belakang rumahnya. "Tante, makan empek-empek yuk," katanya. Saya baru bangun tidur setelah seharian melakukan perjalanan jauh. "Yuk." kata saya. Berteman teh, empek-empek itu kami santap berdua. Tiba-tiba dia bertanya pada saya. "Tante wartawan dari media (dia menyebutkan insttusi saya) ya? "Iya, sayang? Kenapa?" tanya saya.


Berceritalah dia pada saya yang membuat sore saya begitu hidup. "Waktu itu, sekolah kami PKL ke sebuah kelurahan. Kami akan belajar di kantor kelurahan tentang banyak hal, membuat KTP, dan lain-lain. Nah ketika akan masuk ruangan, kami diminta absen oleh seorang petugas. Katanya untuk konsumsi bagi teman-teman yang PKL. Si bapak itu minta aku tandatangan banyak-banyak untuk konsumsi. Terus aku bilang. Hak saya kan cuma satu kotak, kalau tandatangan banyak berarti ini namanya korupsi, Pak. Saya nggak mau." Saya menyela, "Waktu kamu bilang korupsi, bapaknya marah nggak? "Bapaknya cuma diam, Tante," katanya. Saya tanya lagi, "Kok kamu tahu itu korupsi?" Dia menjawab dengan tangkas. "Iya dong. Aku kan makan satu kotak, kalau nulisnya lebih dari satu kotak, terus uangnya kan jadi banyak. Pakai duitnya siapa hayo. Korupsi kan? Satu kotak memang cuma Rp 10.000, tapi kalau aku tandatangan 10 kali, berarti jumlahnya Rp 100.000. Kan aku cuma ambil satu kotak, jadi korupsinya Rp 90.000."


Mendengar penjelasannya, saya takjub. Wow...dia masih anak SMP. Bisa menjelaskan dengan gamblang mana korupsi, maka yang bukan. Usai PKL, anak-anak di minta bercerita oleh guru. Ini masih menurut cerita Dita, keponakan saya. Mereka kemudian menyusun laporan. menceritakan kejadian demi kejadian dengan runtut. TApi kepolosan anak-anak ini berbuntut panjang. Ini lantaran cerita soal tandatangan konsumsi itu dikirimkan ke surat pembaca. "Surat pembaca masuk ke dua media, Tante. Tapi punya temenku yang masuk, bukan aku," kata dia sembari menyebut koran nasional yang bukan tempat saya bernaung.


Saya makin bergairah dengan ceritanya. saya pun bertanya lebih lanjut. "Teman yang nulis ke surat pembaca nggak papa tuh. Nggak diapa-apain sama sekolah?" tanya saya. "Dia ditelpon sama asisten Walikota apa gitu. Hari itu juga. Orangnya bilang begini. Ini bener kamu yang nulis ke surat pembaca?" Temenku bilang iya, Pak. "Terus ...terus gimana," tanya saya lantaran kian penasaran ending ceritanya. Tentu saya khawatir anak itu diapa-apakan. "Si asisten itu bilang, terimakasih ya surat pembacanya." Wah...terus terang saya kaget.


Antara percaya nggak percaya. Anak SMP? Bikin surat pembaca? Tentang korupsi kecil-kecilan? Saya seperti tertampar. Malu sekali. Sejujurnya, saya kerap mengalami ini. Tentu saya juga menolak untuk tandatangan seperti dia. Bedanya, saya dan keponakan saya ini, masih sungkan untuk bilang. "Anda korupsi ya, nyuruh saya tandatangan?" Kadang-kadang anak kecil yang polos, tak punya kepentingan, justru paling mudah mengutarakan suara hatinya. Maka, jika anak kecil menyampaikan sesuatu pada kita, maka diamlah, renungkan, saya yakin itu benar. Karena batin mereka polos, jujur. Pulang dari sana, ada semacam harapan baru. Andaikan generasi-generasi sekarang sudah diajarkan untuk jujur, bisa membedakan mana korupsi, mana yang bukan, saya punya harapan negeri gemah ripah loh jinawi ini akan sejahtera. Semoga pemimpin korup yang sekarang ini masih mengelilingi kita, tergerus oleh jaman, dan digantikan oleh jiwa-jiwa bersih. Semoga akan ada banyak Dita-dita lain di negeri ini yang terus mengingatkan pada orang dewasa. "Anda korupsi lho, saya tidak mau."

Jakarta, 28 Maret 2012
Pukul 13.56

Jumat, 23 Maret 2012

Bencana

Sudah beberapa hari ini cuaca di Yogyakarta ekstrim. Mendung beberapa menit, hujan besar, angin kencang, terang lagi. Berlanjut awan menggumpal, angin kencang, hujan deras. Begitu terus. Malahan beberapa hari lalu bumi bergoyang ketika saya bersiap berangkat kerja.


Saya kira kepala saya migrain, tapi kok ranjang bergoyang makin kencang ya. Mesti tahu ini gempa saya cuma tertegun dan membatin. "Oh..gempa." Tidak ada rasa panik, rasa takut. Sikap saya setenang air :) Berbeda sekali ketika bertahun-tahun lalu. Dada berdegup kencang, panik, langsung menghambur keluar ditambah mulut komat kamit berdoa. Perasaan yang sama saya rasakan ketika suatu malam saya mendengar benda-benda beterbangan. Saya kira ada orang bertengkar. Suara angin menderu-deru. Padahal malam itu saya mengenakan earphone karena mendengarkan musik.


Saya keluar kamar. Awan putih tebal berarak, pohon-pohon meliuk-liuk, benda-benda terbanting-banting memperdengarkan bunyi braakkk .... braakkk karena terkena angin. Tapi saya juga heran, perasaan saya juga tenang. Sempat kaget sebentar dengan alam semesta yang berubah "liar", saya kembali masuk kamar sembari berbisik. "Alam semesta, bersahabatlah dengan kami. Janganlah lama-lama mengirimkan angin kencangmu." Entah kenapa malam itu saya tidak bobok gasik. Biasanya jam 21.00 saya sudah molor. Kalau sudah bobok, ibaratnya rumah saya digorong sampai barang habis, bisa nggak kebangun. Hiks. Tapi saya juga heran pada jam-jam tertentu terbangun begitu saja. Lalu terlelap lagi.


 Hari itu, saya baru tahu kalau terjaga hingga tengah malam karena ada angin kencang yang akan datang. Angin kencang itu membuat tiang listrik di dekat tempat tinggal saya melengkung. Selama dua hari berturut-turut listrik di kos mati seharian. Lumayan dahsyat. Toh, semua juga akhirnya berlalu. Angin kencang, gempa, atau bencana lainnya.


Memang sih, untuk menangkap tanda-tanda alam memerlukan latihan. Setiap pagi begitu bangun, saya menyapa alam semesta. Saya selalu menganggap mereka bagian dari diri saya. Lalu diam. Hening beberapa saat. Itu yang terjadi selama dua tahun ini. Ada perasaan tidak enak dengan kejadian yang saya amati belakangan ini. Tapi saya terus berharap dengan "persahabatan" saya dengan alam semesta ini, kalaupun ada bencana, masih terukur. Tapi kalau yang terjadi di luar pemahaman manusia ya sudah. Bencana adalah bencana. Alam semesta punya hukum sendiri.


Menyadari bahwa negara kepulauan kita ini berada dalam ring of fire, maka sudah selayaknyalah kita "sadar bencana" Apalagi saya tinggal di Jogjakarta yang pernah mengalami gempa hebat pada 2006 lalu. Karena itu, persiapan kecil sejak dini mesti kita siapkan. Bukan karena mengharap ada bencana. Tapi "sadar bencana."

Sejak bertahun lalu, terbersit ide sederhana, membuat "tas siap bencana". Tas ini sengaja saya siapkan, jika terjadi apa-apa dadakan, tinggal "menyaut" tas, dan siap evakuasi. Apa isi tas itu? Persediaan tiga hari ke depan. Mulai dari pembalut (penting banget untuk perempuan), peralatan mandi, baju tiga potong plus cd dan bh-nya. Juga senter dan lilin. Saya juga membawa crackers, makanan pengganjal perut. Tiap beberapa bulan sekali, saya ganti. Jangan lupa pula kotak medis seperti obat pusing, panas, tolak angin, dan kalau ada madu di botol kecil. Madu memiliki energi yang cukup besar untuk tubuh.


Tapi sudah beberapa tahun ini gara-gara keseringan pindah kos, saya alpha menyiapkan "tas siap bencana." Nah, mumpung malam ini ingat, di sela-sela menulis blog ini saya buru-buru packing deh. Kenapa saya repot-repot melakukannya? Bagi saya, meminimalisir merepotkan orang lain bagian dari tanggung jawab kita dalam hidup. Jadi, mau ikut menyiapkan "tas sadar bencana"?

Yogyakarta, 23 Maret 2012

 Pukul 7.42 PM

Selasa, 20 Maret 2012

Kagok




Sudah lebih dari sepekan saya tak menulis blog ini. Percaya nggak? Saya kagok. Dari kemarin-kemarin kepikiran, mau nulis apa? Nggak muncul-muncul juga idenya. Heran. Saya makin yakin menulis itu soal kebiasaan. Kalau tidak dilatih dan tidak dibiasakan seperti pisau akan tumpul.

Sahabat-sahabat sudah bertanya-tanya kapan menulis blog? Ada yang sudah mengusulkan tema pula. Hehe. Senang juga. Tapi maaf sahabat tersayang, benar-benar kagok. Mengawalinya rada susah. Tapi saya yakin besok juga akan lancar. Apalagi belanjaan tema saya buanyak banget.

Jangan-jangan karena kebanyakan tema itulah, maka yang sudah ada di kepala jadi menguap. Mengingat saya punya pengalaman kagok, kalau boleh berbagi, bagi teman-teman yang ingin belajar menulis, jangan hawatir untuk memulai. Kalau masih kagok seperti yang saya lalui, itu biasa-biasa saja. Semuanya juga akan terlewati. Menulis itu cuma kebiasaan mengasah. Jadi, yuk menulis.


Yogyakarta, 20 Maret 2012

Pukul 10.17 PM


Senin, 12 Maret 2012

Menggerakkan Sesuatu

Pagi tadi saat  duduk di beranda kamar,  saya memikirkan hal yang mungkin buat teman klise banget. "Apa yang sudah kuberikan untuk Indonesia?". Mungkin orang bisa muntah dengan pertanyaan ini. Tapi jujur baru pagi ini saya kepikiran lagi setelah bertahun-tahun lalu pernah mempertanyakan ini.

Terus terang pikiran ini berangkat dari rencana kenaikan   bahan bakar minyak (BBM) yang rencananya dilakukan bulan April. Saya agak ngeri dengan dampak  rencana kenaikan ini. Meski saya harus akui, BBM kita termasuk paling murah di dunia. Timor Leste yang lebih miskin dari kita saja harga premiumnya sekitar Rp 10.000-an perliternya. Lha kita Rp 4500. Wow. Murah banget. Dan konsumsi terbesarnya untuk orang-orang kaya yang punya mobil lebih dari satu. Jadi, apa kita ini sudah benar memberikan subsidi pada  orang kaya?

Sebagai warga Negara ini, tentu saya merasa terpanggil, apa yang bisa saya berikan untuk Indonesia ya? Tapi mulai dari mana? Saat diri ini tak sadar, monyet dalam pikiran ini meloncat-loncat,  gemas dengan persoalan negara yang tak jauh-jauh dari  korupsi, permainan hukum negeri yang memalukan dll. Perkara hukum lebih mirip opera sabun. Masyarakat disuguhi "tontonan" seolah-olah perkara hukum dan korupsi itu panggung hiburan. Apakah ini hanya by desain saja atau memang  ada sesuatu yang lain, cuma sutradaranya yang tahu. Setelah itu sadar. Diam. Tak bisa berbuat apa-apa lagi.

Saya jadi gemas dengan diri ini. Mulai dari mana? Saya pernah membaca...duh lupa siapa yang ngomong. Kejahatan akan merajalela ketika orang baik diam saja. Bisa jadi saya juga  diam seperti yang lain. Mencari selamat. Menyerahkan segala sesuatu pada pimpinan atau orang-orang tertentu. Tapi mosok sih, kita hidup sekali ini tak bisa memberi sesuatu yang berarti?

Menggerakkan sesuatu, itu  yang saya pikirkan pagi tadi. Tapi untuk sebuah perubahan yang berarti. Saya sudah kepikiran beberapa hal. Sedang menjalankannya, dan sedang merencanakan. Mungkin itu sebuah awal. Yang jelas saya tidak mau hidup saya terkurung di ruangan  3x4 kamar saja. Atau hanya memandangi layar 21 inci pagi, siang, malam. Layar yang tidak bisa kita ajak berdiskusi. Kita hanya menerima informasi apapun yang masuk,  tetapi tak pernah mampu mencernanya dengan dalam. Tak bisa memprotes. Berapa lama pikiran kita diaduk-aduk oleh semua ini. Jadi kapan diam dan melakukan sesuatu? 

Karena alasan menggerakkan sesuatu inilah, kemugkinan saya off untuk beberapa hari untuk menulis blog. Jika memang saya memiliki waktu yang  cukup, mungkin saya akan datang di blog ini. Sebagai langkah awal, yuk kita bergerak. Jangan hanya puas di sebuah kamar berukuran  3x4 saja atau memandangi layar 21 inci saja. Karena hidup yang disadari ada kini dan sekarang ini. :) sekali lagi yuk bergerak.


Yogyakarta, 12 Maret 2012


Pukul  18.12






Sabtu, 10 Maret 2012

Sayur asem

Mestinya Sabtu pagi tadi saya memasak tom yam. Tapi karena ke salon, dan penasaran dengan ratus (spa vagina) saya akhirnya "hooh" saja ketika teman mengajak saya.

Bukan berarti pekan ini saya belum memasak. Justri tiap jam 06.30 saya memasak menu tanpa daging. oseng-oseng kacang jamur kuping dan sayur asem pilihan saya pekan ini.

Untuk resep oseng-oseng kali lain saja ya saya tulis. Saya sedang demen dengan sayur asem. Tapi juga deg-degan  memasaknya. Beberapa kali saya memasak, hiyaaaa...rasanya seperti uyuh jaran (kencing kuda) Saya tentu belum pernah minum kencing kuda....Ihh...jorok. Tapi kiasan untuk menyatakan masakan rasanya tawar ndak enak itu ya seperti itu kayak uyuh jaran.


Berkali-kali saya coba dan berkali-kali pula rasanya ampun-ampunan. Yek...nggak enak. Nah, di Yogyakarta ini, sayur asem yang cuma pas di lidah saya  hanya ada di restoran Lombok Ijo. Duh...enaknya. Meski saya tahu ada MSG-nya. Cuma, saya punya masalah dengan pencernaan. Sejak dua tahun terakhir, perut saya menolak cabe. Bahkan satu biji pun. Kalau sudah kena, saya sampai tidak bisa berjalan lho. Sungguh mengenaskan.

Tapi dasar kapok-kapok lombok, kata orang Jawa, saya masih beberapa kali iseng makan sayur asem di Lombok Ijo. Hingga terakhir karena begitu parahnya, saya sudah benar-benar no way untuk menyantap sayur asem ini. Ya sudahlah. Melet-melet pingin tetap saya tahan.

Tapi saya juga bertekad harus bisa bikin sayur asem kalau rasa kangen sudah sampai ke ubun-ubun. Ibu dan orang yang saya temui bercerita, seseorang belum bisa dikatakan mahir memasak kalau belum bisa bikin sayur asem yang maknyus. Kalau sudah bisa, maka dia lolos jadi tukang masak. Weleh. Masak sih. Sampai saya membuktikan sendiri  frustasi dan trauma memasak sayur asem.

Jadi ketika dua hari lalu saya memutuskan memasak sayur asem, sebenarnya jantung ini dag dig dug.  Oh ya waktu saya di restoran Lombok Ijo saya mencoba merasai semua bumbu yang saya rasakan. Dan inilah perbumbuan sayur asem ala "feeling" saya.


Bahan:

Kemiri 5 buah, bawang putih  3, bawang merah 5, laos bulat tipis tiga, asem, tomat, garam,gula jawa dan gula pasir,dan terasi. Untuk terasi saya pakai merk Fina kiriman teman lawas yang sudah berlalu :) kalau yang suka cabe tinggalkan tambahkan cabe.

Isi sayur asem : kacang tanah, daun so, kacang panjang, jagung manis., jipang.  Boleh menambahkan melinjo dan sayur nangka muda. Sesuai selera.

Semua bumbu ditumbuk dan digongso. Setelah wangi, masukkan air dan semua sayur mulai dari jagung. Udah kelar. Lalu dimana sulitnya. Inilah bedanya memasak sayur asem dan lain-lain yang pernah saya praktekkan. Kombinasi  garam, gula jawa, gula pasir, terasi, dan asem ini memang harus imbang. Bagaimana kuncinya, ya cuma bisa pakai feeling. Tapi ini mungkin tidak berlaku buat teman-teman yang menggunakan penyedap rasa. Saya anti penyedap rasa. Semua masakan yang saya buat, tak satupun menggunakan penyedap rasa.

Nah, dimana sebenarnya kunci enaknya. Saya menduga terasi yang saya tambahkan itu  yang membuat sayur asem saya akhirnya lolos tidak mirip rasa "uyuh jaran" lagi hehehhe. Duh
 senangnya. Saya sampai berteriak-teriak. Lega. Keponakan, penghuni di kos, dan teman saya yang  kebetulan datang mencicipi sayur asem itu. Mereka bilang "Enak." Hihihi. Semoga  jujur benar-benar enak seperti yang saya rasakan.

Mau mencoba  sayur asem? Kalaupun Anda gagal dan mirip "uyuh jaran" paling tidak saya pernah jadi teman kalian. :)


Selamat mencoba


Yogyakarta, 10 Maret 2012

Pukul 7.03 PM






Jagung Keju

Sore ini hujan turun dengan lebatnya. Sebenarnya  saya pingin "melungker" (bobok) setelah seharian bepergian. Lumayan lelah. Saya pandangi hujan dari jendela kamar saya.

Tiba-tiba saya ingat punya jagung manis di kulkas. Wah...kalau direbus enak juga ya. Jagung panas, di luar hujan. Sempurna betul. Biasanya selalu ada yang datang ke kos. Tapi karena hujan, janjian batal deh.

Saya rebus jagung. Sebenarnya enak-enak saja langsung disantap. Tapi saya pingin berbagi resep, siapa tahu ada teman-teman yang pingin.

Kalau kita jalan-jalan ke mall jagung, maka ada gerobak yang menjual jagung manis  dalam cup. Isinya  keju, jagung manis, dan susu kental yang   dijual Rp 7000. Kejunya irit, volumenya pelit. Uhhhh. Nah ini dia jagung ala saya yang pakai keju sesuka hati plus memilih volumenya juga sesuka hati.

Mudah banget cara bikinnya. Merem pun bisa...hihihi.

Cara membuat:

Pertama jagung direbus dulu. Tambahin garam biar agak gurih.  Setelah matang, jagung dipipili. Tangan agak nyonyor juga sih karena masih panas. Nah begitu selesai dipipili, ambil margarin secukupnya. Aduk sampai rata. Campurkan susu putih kental manis, pilih apa saja mereknya. aduk rata lagi. Nah setelah berasa pas, serut keju di atasnya. Boleh diaduk-aduk atau dibiarkan  tetap begitu adanya seperti dalam foto.

Udah deh kelar. Ya amplop enaknya. Mau nambah takut gendut. Hiiiii. Mana di luar hujan masih deras. Surga ini rasanya alamak....

Perhatian: buat yang ingin kurus tidak dianjurkan menyantapnya :) gendut tidak ditanggung.
Waktu membuat : 20 menit termasuk merebus jagung. 

Yogyakarta, 10 Maret 2012

Pukul 18.16

Kamis, 08 Maret 2012

Chatting dan Keganjilan

dokumentasi internet
Beberapa minggu terakhir, saya sungguh mengalami hal yang ganjil. Ini soal chatting. Sebuah pesan masuk cuma satu kata saja. Somse. Saya cuma melihatnya. Maksudnya apa, tujuannya apa. Tidak jelas. Saya biarkan. Kali lain, dia menyapa saya lagi "somse". Saya biarkan. Tapi saya jadi bertanya-tanya, maksudnya apa ya? Saya pun menjawab,"Apa yang mesti disombongkan?" Dia menjawab auk ah gelap. Hihihi. Saya cuma membatin,"oh mungkin dia minta diperhatikan." 


Tentu saya mengenal yang bersangkutan. Kami pernah bertemu dalam rentang waktu cukup lama dan kemudian komunikasi lewat dunia maya saja. Ngakunya sih sungguh mencintai saya. Tapi tindakannya rasanya tidak. Lagi pula kenapa saya mesti percaya ya? Kalau ngobrol dengan saya, agama melulu yang diomongin. Bahwa dia sudah mempelajari semua kitab, bahwa cuma Muslim yang cuma bisa masuk surga. Bahwa Yesus itu bukan Tuhan. Tuhan kan nggak beranak pinak. Saya sungguh mengagumi pengetahuannya. Dia cerdas dan punya banyak wawasan.  Tapi  saya juga bilang itu semua tidak saya butuhkan. Jadi tidak perlu repot-repot memberikan ceramah pada saya.


Kalau iseng saya lagi kumat. Saya bilang begini. "Biarkan Tuhan saya tiga, lima, sepuluh, emang kenapa? Kamu terganggu? Hehehe. Kali lain ada seorang Kristen juga ngaku suka pada saya. Tapi dia juga minta harus pindah agama. "Lho sesama Yesus kenapa harus pindah-pindahan," tanya saya. "Nggak, karena tempatmu menyembah Bunda Maria. Itu musrik." Hehehe. Kanan kena kiri kena deh. Agama yang saya anut ini banyak banget kurangnya ya, sampai orang repot-repot harus terus memelototi kekurangannya dan perlu menyampaikan pada saya. Baik juga sih. Tapi itu juga tidak saya butuhkan.


Ngomong-ngomong, sejak bangku kuliah, saya sering dicekoki yang begini terus. Nggak tahu kenapa? Apa muka saya terlihat perlu dicerahkan sehingga orang harus repot-repot untuk "menyelamatkan" saya ya? Hihihi. Nasib bener deh punya muka kayak gini. Kalian pernah mengalami begitu?


Kembali ke soal chatting. Ada juga teman yang  ngajak chatting. Sopan sih. Apa kabar? Saya biasanya jawab agak panjang. Tapi saya tunggu lama  kok nggak ada balasan. Oh ya sudah. Kali lain dia menyapa saya lagi ,"Apa kabar? Saya cuma diam saja. Karena memang terlewatkan. Masih di waktu lain, dia menyapa lagi, Apa kabar? Saya jawab "Baik." Ndak ada komen lagi. Kali ini saya membatin. "Oh...mungkin memang tipikalnya begitu." 


Tapi selain keganjilan-keganjilan di atas, saya juga punya dua sahabat yang kalau mereka chating bisa bikin saya ngakak berat. Teman saya ini dari Makassar menyapa dengan simbol  :). Saya menyapa hai apa kabar mas. Bla bla. Eh ilang tak berbekas. Saya protes. Dia jawab begini. "Sori Rit. Seperti biasanya, sebelum offline temen2ku tak jawil. Setelah itu tak tinggal mlayu :)." Asem banget nggak sih. Tapi saya ngakak.


Chatting juga datang dari sahabat saya lainnya, dari Surabaya. Dia punya kekhasan menyapa saya "Bernada berirama." Hiihihi. Suka saya. Saya pun menjawab "Hai, bung apa kabar? Tahu nggak jawaban dia apa? "Kon nyopo koyo karo konco sing ra kenal ae. Payah." (Kamu kaya menyapa sama orang tidak kenal saja-terjemahannya begitu) Kaget saya. Beberapa detik kemudian, saya membalas chatting dia. "Hei, cuk, yak opo kabarmu?" Dia menjawab "Hahhaha. Nah gitu dong." Jadi teman-teman, sapaan cuk (dancuk) itu buat wong wetan (Timur) itu mengindikasikan dua hubungan pertemanan yang amat dekat. Maklumlah, saya kini tinggal di  Jogja, kota yang ya begitulah. Halus, mesti ngerti unggah ungguh. Tapi punya teman dari berbagai daerah itu menyenangkan, lho. Juga dengan segala keanehan dan keganjilannya. Ya sudah...memperkaya hidup. 


Yogyakarta, 9 Maret 2012

Pukul 6.47