Kamis, 10 Januari 2013

Lega



Perasaan lega itu, sepeti orang mencari minuman ketika rasa haus menghinggap  di terik yang menyengat, lalu menemukan pedagang es kelapa muda. Begitu es kelapa muda diseruput ahhhhh....rasanya lega, rasa haus pun meruap. Seperti itulah perasaan saya tadi malam. Tak mudah mengatakan sesuatu yang berat kepada teman yang menjadi mitra kerja kita selama beberapa saat.

Hingga pada akhirnya mesti lidah kelu kata-kata itu keluar juga. Pamitan.

Yogyakarta 11 Januari 2013

Selasa, 08 Januari 2013

Dikejar Deadline




Dikejar deadline itu enak nggak enak. Enaknya? Mendadak cerdas, mendadak kreatif. Nggak enaknya? Adrenalin terpacu menimbulkan ketegangan. Apa yang di makan jadi hanya sekedar mengisi perut, apa yang di minum sekedar melampiaskan dahaga. Lain tidak.

Terburu-buru. Dikejar deadline, mungkin dalam sebulan mendatang yang akan menjadi sahabat karib saya. Dan lambat laun saya pasti akan terbiasa dengan keadaan yang serba terburu-buru itu. Asosial mungkin juga menjadi bagian dari saya. Penikmat kehidupan mungkin juga makin jauh. Nah itu tadi bayangan saya, persepsi saya.

Beberapa saat kemudian saya sadar. Berdialoglah diri ini. Jangan memikirkan masa depan, jangan ingat masa lalu. Beradalah pada kekinian. Artinya, bisa saja apa yang saya pikirkan, kejadiannya tidak seperti kenyataannya.

Jadi, selamat datang Jakarta. Ibunya kota-kota di Indonesia. I'm coming. Inilah yang akan saya ketahui kelak, apakah diri ini  akan sama dengan kedatangannya saya beberapa tahun lalu di Jakarta. Penuh kemarahan, terburu-buru, tidak sabaran, kemrungsung, praduga, persepsi buruk, dan sedikit trauma kecil yang menghantui. Manusia berubah, demikian pula saya. Ada baiknya sementara ini saya mengingat perkataan Budha. Melihat hanya melihat. Mendengar hanya mendengar. Dan semua hal akan baik-baik saja ketika  membiasakan diri pada persepsi murni. Yeaaay...


Salam manis dari saya awal tahun yang memikat hati saya.


Yogyakarta, 7 Januari 2012







Catatan Saya Hilang



Entah kenapa, blog yang saya tulis kemarin hilang. Aneh. Ceritanya mau merevisi tulisan yang akan sudah kadung di posting tetapi banyak kata yang terlewat. Eh malahan tulisan Memperbaharui Tahun ilang. Hiks. Aneh. Tapi ya sudahlah. Mungkin ada yang saya tidak ketahui dari aturan blogspot lantaran terlalu lama tidak menulis. Ya wis...semoga tulisan bisa di back hehehhe















Selasa, 01 Januari 2013

Memperbarui Tahun

Yah....postingannya ilang. Ajaib. Mau nulis  ulang dah ndak mood. Huhuhu

Minggu, 28 Oktober 2012

Sepenggal Cerita Dari Lima Negeri (2)




Sebelum melakukan perjalanan, kami memesan tiket lima bulan sebelumnya. Nyocokin waktu dan empat kepala nggak klop-klop. Kristo, ujian skripsi, sementara Dita sudah masuk kuliah. Saya dan Mbak Yosi juga kerepotan menyusun jadwal lantaran kesibukan pekerjaan kami masing-masing.

Tapi begitulah, biar badan topan melanda, perjalanan back packer tetap harus kami teruskan. Mencari tiket melalui internet memang tak mudah. Cari harga tiket yang murah eh...baliknya yang bujubune mahalnya. Begitu terus. Jadi teman-teman yang ingin bepergian bareng-bareng,  mencari tiket pesawat  juga nggak gampang lho. Padahal kami sudah jauh-jauh hari memburu tiket.

Tapi sebagaimana pengalaman yang sudah-sudah, dewi keberuntungan masih mampir kepada tim nano-nano.  Kami mendapat tiket pulang pergi Jakarta-Singapura-Hongkong-Singapura-Yogyakarta dengan harga  Rp 2,7 juta. Murah atau nggak? Yang jelas, apa boleh buat harga ini jauh lebih murah ketimbang tiket PP Jakarta-Raja Ampat yang konon bisa Rp 10 juta (pingsan deh). Hiks hikss.... (Raja Ampat adalah lokasi impian saya yang karena kendala kantong belum juga saya singgahi)  Merasa bersalah bahwa saya belum menyinggahi beberapa tempat top di Indonesia antara lain Wakatobi, Raja Ampat, Pulau Komodo, dan Pulau Derawan. Namun perasaan bersalah saya terhadap Papua  terwakili atas kunjungan saya ke Timika dan Sorong, pulau kepala burung yang letaknya di ujung Timur Indonesia.

Dengan tiket di tangan senyum kami melebar. Urusan ribet pertiketan sudah teratasi. Lima negara sudah ada di pelupuk mata. Untuk semetara kami loncat jingkrak. Yeaaaahhh....


Yogyakarta, 27 Oktober 2012 


Jumat, 19 Oktober 2012

Tuhan, Apakah Kau Pernah Jatuh Cinta?



Tentu, saya tidak sedang meratap pada Tuhan.  Saya cuma penasaran saja, Tuhan itu kayak apa ya? Dia laki-laki atau perempuan. Kalau dia laki-laki apakah dia banyak memihak kaumnya jika ada yang tertimpa masalah, dan itu  melibatkan perempuan. Sebaliknya kalau dia perempuan, apakah dia juga membabi buta cuma memihak kaum hawa, jika berperkara dengan kaum adam.                                                                                                              
Saya persempit masalah jika kasusnya soal hubungan cinta antara laki-laki dan perempuan yang berbeda agama, misalnya. Dia berada di pihak siapa ya? Apakah Tuhan punya agama? Kalau punya, agamanya apa ya hehehe. Setelah itu pertanyaan saya selanjutnya, siapa yang Dia bela jika ada yang mengalami masalah kepentok soal beda agama ini. Apakah Tuhan pernah jatuh cinta? Jadi, dengan begitu  dia punya pengalaman berada di pihak mana ketika dua orang jatuh cinta berpekara? Ini  mungkin pertanyaan bodoh. juga pertanyaan tidak mutu yang seharusnya tidak perlu dipertanyakan. Tapi saya juga berhak sesekali mengajukan pertanyaan maha bodoh ini, kan? Menurut kalian  bagaimana?


Yogyakarta, 17 Oktober 2012





Sepenggal Cerita dari Lima Negeri (1)



Pengembaraan saya tahun ini berlabuh di lima negara. Hongkong, Macau, Senchen sebenarnya  ketiganya di bawah pemerintah Republik Rakyat China, namun memiliki otoritas sendiri. Tiga wilayah itu memiliki mata uang sendiri dolar hongkong, pataca, dan rimimbi. Dua negara  lainnya yang saya singgahi, apa boleh buat Singapura dan Malaysia yang sudah kerap saya kunjungi..

Mengapa saya memilih negara itu? Kecuali Senchen, empat negara itu  tak memerlukan ijin visa. Ini lantaran negara kita sudah memiliki MoU dengan negara itu. Nah, khusus untuk Senchen, kita bisa masuk ke negara itu dengan mengurus ke kantor imigrasi mereka. Prosesnya tidak begitu lama, kira-kira satu jam dengan membayar biaya sekitar Rp 250.000, jika dikurskan dalam rupiah.

Teman perjalanan yang saya pilih kali cukup berwarna. Dita, anak kuliahan berumur 19 tahun. Dia bepergian dengan ibunya Yosi, berusia 45 tahun, dan Kristo berusia 23 tahun. Saya sendiri 30-an tahun. Asyik, kan, jika melihat komposisi nano-nano tim ini? Dalam cerita perjalanan nanti akan saya ceritakan nano-nanonya tim baik dari kesukaan memilih makanan, memutuskan transportasi, hingga kesukaan me milih obyek wisata yang kami singgahi. Lumayan seru, deh!