Sejak bangku SMA saya sudah menderita penyakit maag akut. Kalau sudah kumat, perut melintir-lintir dan bisa dipastikan berhentilah aktifitas keseharian. Mau jalan saja susahnya minta ampun. Beberapa kali, karena maag akut itu, saya masuk rumah sakit.
Dari pengamatan selama ini, ada kunci utama penyakit maag bisa kambuh. Sambal. Menyantap sedikit saja sambal, maka perut ini sudah tidak bisa diajak kerjasama. Karena pengalaman berkali-kali itu, sambal sudah menjadi 'vorbiden" untuk saya. Ketika keinginan memuncak, terbayang infus menempel di tubuh dan sakitnya yang alang kepalang. Sudah agak lama, maag akut ini tidak kambuh. Ini artinya, saya disiplin dan cukup mengerem atau bisa menahan diri untuk tidak bersentuhan dengan si sambal.
Padahal, siapa sih yang tahan tanpa makan sambal? Ini buat yang doyan sambal tentu saja. Tentu saja ini menyiksa. Tapi bagaiamana lagi. Petaka yang telah lama itu, datang justru saat saya sedang mengikuti retret meditasi. Sebagaimana mengikuti retret, maka panitia menyediakan makanan bagi peserta.
Cuaca lumayan adem, makanan yang tersedia enak-enak. Plus selalu ada menu sambal. Sambal memang selalu membangkitkan selera. Hari pertama ketika tersaji, saya cuma melirik saja begitu melihat keberadaannya, air liur terpilin-pilih. Beberapa kali harus menahan ludah saking "kemecer". Tapi ingat infus dan rumah sakit, hadeuh, saya cuma melihat saja.
Hari kedua, godaan mulai menggila, memenuhi isi kepala. Lauk ikan, dengan lalapan sayur yang aduhai, rasanya semaput menahan godaan. Coba nggak coba nggak? Akhirnya saya nggak tahan. Saya cocol, sak ndulit....sedikit saja. Tiga cocolan. Waduh. Kok pedes banget ya. Saya berhenti. Lilitan itu belum terjadi. Tapi saya segera sadar. Diteruskan, bisa bablas ini. Nggak lucu juga lagi retret meditasi saya diungsikan ke rumah sakit.
Beruntung semua tak berlanjut. Saya lolos....Horey...Hari ketiga petaka itu datang juga. Pas saat makan siang, menu yang dihidangkan masih juga lalap-lalapan beserta lauk yang menggoda plus sayur asem. Dari bentuknya saja, saya sudah tahu, rasanya maknyus. Saya dengan cepat bisa melihat sayur asem rasa "uyuh jaran" alias gak nendang dengan sayur asam yang enak. Dugaan saya tepat. Begitu menyendok pertama kali, duh nikmatnya. Mana udara dingin pula. Hari itu semua hal seperti terasa sempurna. Semesta seperti tengah bertepuk tangan.
Tapi ... saya tercekat. Begitu sendokan pertama itu sudah melewati tenggorokan dan sayur asam pindah ke perut, muka saya pucat. Perut saya bereaksi. Saya benar-benar menyadari perasaan tak nyaman itu. Tapi nafsu, keinginan, atau apalah itu lebih kuat memenuhi seluruh kepala. Suntikan, infus, perut melilit-lilit yang sudah-sudah, seperti menguap begitu saja. Yang ada batin bilang. "Duh ini sayur asem enak banget, satu mangkok dihabiskan bikin puas, lega." Saya lanjutkan sayur asem yang nikmat itu. Dua sendokan terlewati. Duh enaknya. Suapan ketiga berlalu. Dan saya sudah tak sanggup lagi meneruskannya. Perut saya melilit-lilit parah dan sakit luar biasa, seketika itu juga. Saya segera menghubungi panitia minta obat milanta cair dan tergolek di tempat tidur. Berjam-jam saya berjibaku dengan rasa sakit seperti yang sudah terjadi sebelumnya. Bedanya, saya sadari perasaan tak nyaman itu. Melebur bersama sakitnya. Memang ajaib. Sakit-sakit yang saya alami sebelumnya bisa recovery lebih cepat dari biasanya.
Lalu, muncullah insight atas peristiwa ini. Dari sambel, sebuah pelajaran muncul secepat kilat. Saya disadarkan sesuatu. Setiap hari, kita dihadapkan pada peristiwa-peristiwa yang seakan-akan mendatangkan kenikmatan tapi di sisi lain juga mendatangkan risiko-risiko. Toh kita abai. Toh, kita menjalaninya. Kita tahu itu tidak benar, tapi tetap menikmatinya. Kita tahu berselingkuh itu bisa menghancurkan hubungan dengan orang-orang terkasih, kita bersedia memilih jalan itu. Kita tahu korupsi itu merugikan orang lain, toh, kita menjalankannya. Kita tahu berutang pada teman dan tidak membayar apa yang mesti kita bayar tapi tidak dilakukan itu merugikan orang lain, tapi toh kita melakukannya. Kita tahu mencurangi orang itu membuat hidup orang hancur, membuat kepercayaan orang terhadap kita nihil, tapi kita mau juga melakukannya.
Perselingkuhan, mencurangi orang, menipu, suap, korupsi, memang "seakan-akan" mendapatkan kenikmatan, euforia, kebahagiaan, tapi semua semu. Kebahagiaan dan kenikmatan yang berujung kesengsaraan, penderitaan buat apa ya?. Memang sih, semua itu pilihan. Kalau mau terus-terusan melilit-lilit, mengaduh-aduh ya tiap hari aja makan sambel. Kalau mau dipenjara, kalau mau keluarga hancur ya monggo saja menjalaninya. Dari sambel dan lilitan di perut yang alang kepalang, saya belajar sesuatu yang berharga, Itu sebabnya kesadaran perlu dilatih. Agar selalu eling.
Palmerah, 16 Oktober 2015
Jumat, 16 Oktober 2015
Rabu, 25 Maret 2015
Cinta Tak Bersyarat, Kasih Tak Terbatas
Ketika kita dihadapkan momen yang menyakitkan, dan berat untuk mengatakan "aku memaafkanmu" sebenarnya bukan orang lain yang sedang kita hadapi. Diri ini, sang aku, sebenar-benarnya sedang berhadapan dengan diri kita sendiri. Ada konflik batin di sana. Pikiran kita terus menanggapi obyek2 yang liar berseliweran dan tentu saja, ego kita menguat, kesadaran melemah.
Saya harus mengakui cukup kesulitan melepaskan beban sakit hati, marah, kecewa dll dalam diri ini ketika sebuah peristiwa menghampiri. Begitu kemarahan itu meledak saya buru2 menutup mata, bukannya menyadari kemarahan itu, melihat kemarahan itu agar lama2 lenyap tapi justru mengingat peristiwa itu, menghidupkan momen2 yang telah lewat yang menambah rasa sakit hati dan kemarahan. Hasilnya, dalam sehari 6-8 kali bermeditasi untuk meredamnya tak menghasilkan apapun. Dia justru kian menyiksa. Tak banyak membantu mengatasinya. Neraka itu ada bersama kita, membelit, mengerangkeng. Rasanya sungguh tidak enak.
Hingga pada satu titik, ketika sudah merasa lelah, ucapan ikhlaskan, maafkan lama2 menjadi suara yang terus bergema menyelimuti kita. Hingga momen tanpa daya upaya itu muncul. Aku menerima disakiti, aku menerima dibohongi, aku menerima apa adanya kamu, aku menerima tidak kamu hargai.
Ketika kepasrahan itu terjadi, menerima sesuatu yang ada di luar dugaan kita, momen cahaya itu muncul. Dia membuat kita terjaga. Sebuah spiritualitas baru muncul. Sang kebajikan menghampiri. Sebuah pengertian baru tentang hubungan antarmanusia. Seperti inilah kasih tak terbatas. Beginilah yang dinamakan cinta tak bersyarat. Dia tak menuntut balas jasa apa2, tak ingin minta dihargai, tak menuntut dicintai. Dia hadir apa adanya tanpa syarat.
Sebuah tangisan hanyalah tangisan. Sebuah pelukan yang erat, hanyalah sebuah pelukan. Dia hadir tak menimbulkan gejolak emosi. Dia begitu tenang...Katakanlah itu kebahagiaan maka itu kunamakan kebahagiaan puncak. Tp bukan bahagia yang selama ini kucecap. Dia berbeda...sungguh berbeda.
Sebuah pemahaman baru menyelinap, mengisi ruang2 yang belum pernah ada sebelumnya. Tiba2 memahami mengapa Bunda Theresa bisa mencintai orang2 lemah, terpinggirkan. Tidak jijik memeluk orang2 yang penuh luka. Mengapa Mahatma Gandhi begitu kukuh dengan Ahimsa-nya. Berjuang tanpa kekerasan.
Kasih tanpa batas, cinta tak bersyarat hanya akan dipahami bagi mereka yang mengalaminya. Dia sungguh2 ada. Dan dia diuji dari sebuah peristiwa bahkan yang membuat langit seakan2 runtuh....
YOGYAKARTA, 21 Maret 2015
Minggu, 01 Maret 2015
Kesendirian dan Kesepian
Kesendirian bukanlah kesepian. Orang sendiri tak selalu sepi. Begitu juga orang berpasangan tak menghindarkan dia dari kesepian. Kata Soe Hok Gie aku tidak takut sendiri. Tuhan juga sendirian. Tapi barangkali karena itu dia menjadi Maha Kuat. Berbahagialah dalam ketiadaan.
Lihatlah batang pohon ini. Dia tegak berdiri. Tumbuh dan berkembang. Kita tidak melihat kapan dia tumbuh besar. Kita hanya melihat pohon itu telah sebesar dan setinggi ini. Seperti kita melihat batin kita, kehidupan kita. Selamat liburan. Saya tetap kerja di akhir pekan. Rutinitas yang mau tidak mau harus dijalani untuk survive.
Jeda
Ada kalanya kita, kamu, saya, dan kalian jeda.
Jeda dari semuanya
Jeda dari persahabatan
Jeda dari pekerjaan
Jeda dari percintaan
Jeda dari rutinitas yang membosankan
Saya ingin jeda
Rasanya hanya pingin diam dan menyendiri
Rasanya keheninganlah satu-satunya jalan keluar
Di mana hanya kesadaran yang melingkupi
Saya butuh jeda,
Jika perlu, butuh waktu yang lama
Jika perlu, butuh waktu yang lama
Palmerah, 1 Maret 2015
Selasa, 23 September 2014
Teh Poci, Bakiak, dan Gula Batu
Setiap melancong saya punya cerita lucu. Cerita kali ini tentang teh poci, bakiak, dan gula batu. Apa hubungannya? Ada. Dalam lawatan saya ke Semarang kami menginap di hotel baru. Katanya bintang lima. Sebagai hotel baru, tentu pihak hotel ingin memberi kesan untuk pelanggannya.
Dan kali ini memang cukup berhasil. Mereka menyediakan teh poci bersama cangkir dan tekonya yang khas itu lengkap dengan gula batunya. Belum pernah saya menginap hotel berbintang yang menyediakan teh poci bersama perangkatnya. Itu pun baru saya ketahui tahu keesokan paginya.
Menjelang petang ketika kami tiba di hotel badan terasa penat. Agak konyol ihwal masalahnya terletak pada jadwal pesawat yang salah. Kami mengira menggunakan penerbangan Garuda pada pukul 7.55 sehingga dengan tergopoh-gopoh kami berangkat dari rumah pukul 05.00. Belum lagi mesti bangun dan persiapan mandi dan lain-lain. Jam weker saya pasang di angka 04.00. Ternyata pesawat kami berangkat pukul 9.35. Hoaaaaa
Karena kelelahan, jadilah saya tidur dari pukul 18.30 hingga bangun jam 05.00. Teman saya rupanya belum bangun. Dia masih melingkar di kasurnya. Saya mengendap-endap. Mencuci muka dan menyelidiki sekeliling ruangan. Saya temukan teh poci lengkap dengan gula batu yang dibungkus plastik. Di sudut ruangan teronggok sandal bakiak yang kerasnya alang kepalang.
Setelah saya mandi dan teman terbangun, saya bilang padanya tersedia teh poci. Dia mengangguk senang ketika dengan senang hati menyeduh air panas dan membuat teh poci. Harum teh wanginya memenuhi ruangan. Segarrrrr. Melihat gula batu yang besarnya sejempol, saya berpikir bagaimana agar mengecilkan agar tak terlampau manis. Tapi saya ingat teh poci memang diberi potongan gula batu yang besar karena si penikmat teh akan mencampurkan air teh begitu mulai habis. Jadi otomatis gula batu akan lebur sampai kecil.
Sembari memandangi bukit di luar dengan aliran sungainya, teh poci saya seruput, Surga serasa di depan mata. Nikmat betul. Pagi ketika waktunya makan, saya bercerita dengan teman yang juga menginap di tempat yang sama. Dia menceritakan soal teh poci yang membuatnya terkesan. Seperti saya, malam-malam dia membuat teh poci. Tapi ada masalah. Gula batu yang besar itu tak sesuai keingiannya. Dia ingin kecil saja karena tak terlalu suka manis. Padahal biarkan saja dan otomatis dia akan lebur bersama teh yang panas.
Teman ini berpikir," Bagaimana caranya gula batu bisa pecah." Pandangannya tertuju pada bakiak di sudut ruangan. Tak kurang akal bakiak dia gunakan sebagai pemecah gula batu. dan berhasil, Gula batu lebur. Kecil-kecil. Saya tertawa terbahak-bahak mendengar ceritanya dengan mimik wajah lucu. Tawa kami begitu keras karena teman sekamar saya sempat berpikiran hal yang sama. Bedanya...dia tidak mengeksekusinya. Hahahaha...
Jakarta, 23 September 2014
Selasa, 25 Maret 2014
Jokowi
Sihir itu bernama Jokowi atau Joko Widodo. Beberapa tahun terakhir dia menghiasi media-media nasional dan populer dengan acara blusukannya. Saya sendiri bertemu langsung dengan Jokowi ketika di Solo sekitar dua tahun lalu. Bersama teman-teman yang lain yang tengah belajar tentang kepemimpinan nasional, kami ingin mengenal dari dekat kepemimpinan Jokowi di Surakarta.
Mengenakan sepatu kets, baju putih, dan celana gelap, Jokowi waktu itu masih menjadi Walikota Surakarta. Selama satu jam bertamu itu, dia menceritakan pengalamannya selama memimpin Solo. Kisah lucu yang saya ingat ketika dia pertama kali menjadi inspektur upacara, saat hari pertama memimpin Surakarta .Ketika komandan upacara melaporkan kepada Jokowi sebagai inspektur upacara, dia heran. "Sudah bermenit-menit kepalanya memegang dahi kanan tanda hormat kok tidak turun-turun juga. Akhirnya karena saya kecapekan, saya turunkan tangan, dan semua peserta upacara grenengan (bercakap-cakap) Usai upacara semua anak buah di lingkungan Pemerintah Kota Surakarta tertawa. "Saya baru tahu kalau yang menurunkan tanda hormat itu saya sendiri." Geeeeerrrrrrr....Kami yang ada di ruangan itu tertawa terbahak-bahak. Begitu cair dan lepas.
Seperti itulah Jokowi. Sederhana dan bersahaja. Tidak berubah. Sama seperti ketika hari Minggu, (23/3) ketika kami tim Kompas TV bertemu dengan Jokowi dalam sebuah undangan makan malah di Restoran Lara Jonggrang.
Perbincangan hangat dan cair. Saya melihat tawa Jokowi begitu lepas, hingga dia terpingkal-pingkal ketika seorang teman menyampaikan cerita ini.
Teman saya : Pak, ternyata sudah ketahuan lho Presiden bonekanya siapa?
Jokowi : Siapa (mimik wajahnya serius)
Teman : Itu yang memeluk teddy bear, pegang boneka.
(Terperanjat sebentar setelah itu tertawa terpingkal-pingkal. Ruangan serasa bergetar)
Jokowi : Kalian itu lho nakal-nakal. Apa saja bisa dibuat. Hahahaha...
Banyak hal yang diceritakan Jokowi. Mulai dari perjanjian Batu Tulis, cawapres yang akan bersanding dengan dirinya, hubungannya dengan Megawati, kisah pencapresan dan pendeklarasian di Rumah Pitung dll. Tentu semua off the record.
Pertemuan sekitar sejam lebih itu pun bubar. Setelah berpamitan, kami meminta Pak Jokowi berfoto bersama. Pak Jokowi memilih foto berlatar belakang Soekarno. "Latar belakangnya ini saja," kata Jokowi sembari menunjuk foto Bung Kanrno. Kami segera mengambil posisi bersama Jokowi. Sayang, karena restoran itu gelap, sementara tidak ada di antara kami yang menggunakan kamera, jadilah foto kami ala kadarnya. Hiks. Tapi Jokowi memang sihir. Baru kali ini saya melihat teman-teman di kantor meminta foto satu per satu. Sihir itu bernama Jokowi.
Kemanggisan, pukul 09.08
27 Maret 2014
Rabu, 12 Maret 2014
Ahok
Ahok atau Basuki Tjahja Purnama adalah sebuah perkecualian. Dia mewakili agama dan suku minoritas di Indonesia, tapi apa yang dilakukannya mewakili keinginan mayoritas rakyat Indonesia, yakni Indonesia bersih, bebas dari korupsi.
Bicaranya meledak-ledak, tanpa tedeng aling-aling. Baginya bekerja di pemerintahan sebuah pengabdian, untuk ibu pertiwi. Maka, orang yang bekerja di pemerintahan jangan pernah bermimpi kaya, kecuali nyolong duit negara. Berkali-kali dia menegaskan, seseorang yang tidak mau dituduh korupsi harus bisa membuktikan kekayaannya.
Malam itu, saya bersama teman Kompas TV, diundang makan malam ke kantornya. Pak Ahok rupanya doyan makan enak. Menu yang dihidangkan wooow meriah banget. Sop buntut, udang, ikan bakar, cap cay, ayam goreng, nasi merah, dan buah segar.Kami sampai kekenyangan. Di sela-sela obrolan itulah Ahok menceritakan banyak hal, yang bikin bulu kuduk saya berdiri. Betapa korupnya pejabat kita. Rasanya saya makin frustasi setelah mendengar ceritamya. Masih adakah titik cerah bagi negeri kita bebas dari korupsi?
Mengapa orang tak bisa mengatakan cukup pada dirinya sendiri? Sampai seberapa lama kekayaan bisa membius seseorang? Di tengah rasa gundah itu, sesaat sebelum pulang saya minta berfoto bersama. Sangat jarang bagi saya untuk meminta foto seorang pejabat. Yang dulu pernah saya lakukan minta foto bersama Wapres Budiono ketika tengah berkampanye. Setelah itu, Pak Boediono benar-benar menjadi Wakil Presdien. Nah, sekarang saya ingin berfoto bersama dengan Pak Ahok. Mungkinkah kursi DKI 1 benar-benar ada di pundaknya? Tapi kadang-kadang kejutan kerap menyertai dalam kegiatan jurnalistik saya. Pak Ahok menawari saya berfoto dengan menduduki kursi kerjanya. Pak Ahok mengambil posisi di belakang saya. Wooow. Teman-teman berkomentar, foto saya mirip pre wedding. Setelah melihatnya, saya pikir-pikir kok benar juga ya? Hahahaha
Palmerah, 12 Maret 2014
Minggu, 02 Maret 2014
Saya Kelelahan
Beberapa hari ini otak ini rasanya panas. Sepertinya saya kelelahan. Mungkin karena terlalu terseret, jadi kesadaran ini melemah.
Pekerjaan beberapa hari ini menumpuk. Saya jadi produser sendirian lagi. Soal konten dan narasumber mungkin tidak terlalu keteteran. Tapi persoalan teknis yang rumitnya setengah mati membuat saya kehabisan energi.
Karena itulah saya harus berhenti. Rehat sebentar. Rabu Minggu depan untunglah saya ke Melaka. Jadi lumayan liburan tiga hari. Cuma pingin bawa baju apa adanya dan tas satu biji.Benar-benar pingin liburan efisien.
Meditasi, makan, dan nongkrong. Untung perginya bertiga dengan teman meditasi. Jadinya bisa meditasi bersama di pinggir sungai deh.
Tak cuma itu saja. Bulan April besok saya juga merencanakan liburan ke Jambi lima hari. Masuk hutan dan liburan di rumah penduduk. Tiket juga sudah saya pesan. Saya bersama sahabat di kantor, Tante Jul. Jambi tempat dulu KKN. Saya masih ingat rasanya pindang patin yang sedapnya auzubillah (sekarang pun masih ngeces). Seperti apa Jambi sekarang?
Nah di bulan Mei, liburan yang isinya tanggal merah semua, saya manfaatkan cuti. Lumayan bisa liburan hampir dua minggu. Saya cari tiket dan yiaaayyy tiket sudah di tangan. Tanggal 21 saya sudah berangkat ke Dili, pulang tanggal 30 Mei. Wooow lama banget ya.
Saya butuh rehat. Itu saja. Saya tahu caranya menyeimbangkan diri. Liburan adalah salah satu caranya.
Palmerah, 2 Maret 2014
Kerja di hari libur itu sesuatu yak.
Pekerjaan beberapa hari ini menumpuk. Saya jadi produser sendirian lagi. Soal konten dan narasumber mungkin tidak terlalu keteteran. Tapi persoalan teknis yang rumitnya setengah mati membuat saya kehabisan energi.
Karena itulah saya harus berhenti. Rehat sebentar. Rabu Minggu depan untunglah saya ke Melaka. Jadi lumayan liburan tiga hari. Cuma pingin bawa baju apa adanya dan tas satu biji.Benar-benar pingin liburan efisien.
Meditasi, makan, dan nongkrong. Untung perginya bertiga dengan teman meditasi. Jadinya bisa meditasi bersama di pinggir sungai deh.
Tak cuma itu saja. Bulan April besok saya juga merencanakan liburan ke Jambi lima hari. Masuk hutan dan liburan di rumah penduduk. Tiket juga sudah saya pesan. Saya bersama sahabat di kantor, Tante Jul. Jambi tempat dulu KKN. Saya masih ingat rasanya pindang patin yang sedapnya auzubillah (sekarang pun masih ngeces). Seperti apa Jambi sekarang?
Nah di bulan Mei, liburan yang isinya tanggal merah semua, saya manfaatkan cuti. Lumayan bisa liburan hampir dua minggu. Saya cari tiket dan yiaaayyy tiket sudah di tangan. Tanggal 21 saya sudah berangkat ke Dili, pulang tanggal 30 Mei. Wooow lama banget ya.
Saya butuh rehat. Itu saja. Saya tahu caranya menyeimbangkan diri. Liburan adalah salah satu caranya.
Palmerah, 2 Maret 2014
Kerja di hari libur itu sesuatu yak.
Kamis, 27 Februari 2014
Mencintai Diam-Diam Itu Indah
Saya punya cinta rahasia. Tentu karena sifatnya rahasia ya identitas orangnya tidak akan saya buka. Mengapa harus merahasiakannya. Karena sesuatu hal yang tidak boleh. Oleh apa? Ya sesuatu hal yang tidak bisa saya ceritakan kepada siapapun. Rahasia perempuan itu sedalam lautan samudera, bukan? Begitulah.
Saya tahu cinta kami tak akan pernah mengikat. Kalau kemungkinan atau suatu saat bersama pun pasti ada keajaiban. Jadi saya memilih mencintainya diam-diam. Dari pengalaman mencintai diam-diam itu, saya menemukan keindahan di sana. Cinta itu berproses, iya. Naik turun. Kadang meletup-letup, kadang penuh gejolak. Kadang ketika kangen menghinggapi dan saya bertanya-tanya sedang apa dia, apakah dia berbahagia, rasa itu memuncak begitu saja. Lalu dia padam dengan sendirinya? Kalau saya ingin diperhatikan, saya menuntut. Kalau sedang asyik dengan diri sendiri, saya lupa dia. Lupa begitu saja.
Tapi lambat laun, seperti bunga, yang semula kuncup, mekar, dan lalu layu, cinta saya dan kami pun demikian. Hingga akhirnya saya memahami rumusan kalimat ini. Mencintai diam-diam itu indah. Asal terukur dan tak berlebihan. Pas saja. Cukup. Itu jauh lebih membebaskan. Saya temukan keindahan itu di sana. Dia ada ketika saya membutuhkan dia, tak harus bertemu fisik. Dan saya ada bersamanya ketika dia juga menumpahkan rindu.
Kadang-kadang saya menyimpulkan sebuah hubungan itu seperti menatap sebuah gelas. Jika kosong, yuk kita isi bersama. Tapi jangan sampai tumpah. Tumpah itu tak ada artinya. Sia-sia belaka. Sesimple itu, sebenarnya. Bagaimana cinta kalian?
Palmerah, 28 Februari 2014
Katanya bonus akhir bulan ini dibagikan...:)
Saya tahu cinta kami tak akan pernah mengikat. Kalau kemungkinan atau suatu saat bersama pun pasti ada keajaiban. Jadi saya memilih mencintainya diam-diam. Dari pengalaman mencintai diam-diam itu, saya menemukan keindahan di sana. Cinta itu berproses, iya. Naik turun. Kadang meletup-letup, kadang penuh gejolak. Kadang ketika kangen menghinggapi dan saya bertanya-tanya sedang apa dia, apakah dia berbahagia, rasa itu memuncak begitu saja. Lalu dia padam dengan sendirinya? Kalau saya ingin diperhatikan, saya menuntut. Kalau sedang asyik dengan diri sendiri, saya lupa dia. Lupa begitu saja.
Tapi lambat laun, seperti bunga, yang semula kuncup, mekar, dan lalu layu, cinta saya dan kami pun demikian. Hingga akhirnya saya memahami rumusan kalimat ini. Mencintai diam-diam itu indah. Asal terukur dan tak berlebihan. Pas saja. Cukup. Itu jauh lebih membebaskan. Saya temukan keindahan itu di sana. Dia ada ketika saya membutuhkan dia, tak harus bertemu fisik. Dan saya ada bersamanya ketika dia juga menumpahkan rindu.
Kadang-kadang saya menyimpulkan sebuah hubungan itu seperti menatap sebuah gelas. Jika kosong, yuk kita isi bersama. Tapi jangan sampai tumpah. Tumpah itu tak ada artinya. Sia-sia belaka. Sesimple itu, sebenarnya. Bagaimana cinta kalian?
Palmerah, 28 Februari 2014
Katanya bonus akhir bulan ini dibagikan...:)
Senin, 10 Februari 2014
Tiga Hal Biar Aman
Bagaimana kita bisa terlepas dan aman dari segala hal di dunia ini. Saya punya tiga hal. 1. Jangan kemaruk. 2. Jangan merugikan orang lain. 3. Berani mengatakan cukup pada diri sendiri.
Saya sudah melewati banyak hal di tempat bekerja. Dan karena tiga resep itu, hidup saya terasa menyenangkan, bebas, nyaman di hati.
Tidak sulit kok. Asal konsekwen. :) Mari hidup seadanya, maka alam semesta akan bersamamu.
Palmerah, 10 Februari 2014
Saya sudah melewati banyak hal di tempat bekerja. Dan karena tiga resep itu, hidup saya terasa menyenangkan, bebas, nyaman di hati.
Tidak sulit kok. Asal konsekwen. :) Mari hidup seadanya, maka alam semesta akan bersamamu.
Palmerah, 10 Februari 2014
Sudah Turun 5 Kilogram
Sudah sebulan ini saya diet. Diet yang alamakjan ...gak yakin deh kalian sanggup. Nggak percaya? Coba lihat menu sehari-hari saya.
Pagi : Makan oatmeal
Siang : Nasi cuma sekitar 7 sendok dengan lauk apa aja tapi besarnya sebesar tiga jari dan sayur.
Nah...ini dia...semua lauk dan nasi itu tidak boleh dimasak dengan minyak. Semuanya dikukus atau direbus
Malam : Hanya sayur, buah atau lauk.
Semua makanan di luar itu tidak bolehlah yauw. Jadi lupakan keju, pizza, macaroni, kue tart dan semuanya yang enak-enak. Waktu itu saya bilang, "Kalau ada godaan, saya akan bilang ke diri ini, aku sudah pernah menyantap makanan itu." Pede banget.
Makanan yang boleh saya santap hanya 1000 gram kalori. Daftarnya sudah disiapkan ahli gizi. Dengan semangat 45 saya memulainya. Tiga hari pertama saya detoks, hanya makan buah dan sayur tok. Haduh lapernyaaaa...Tapi ajaib saya turun 3 kilogram dalam seminggu. Selanjutnya menu yang seperti saya jelaskan di atas.
Dua minggu pertama saya masih kuat. Berikutnya saya mulai towal towel lemper, nyemil kacang goreng, makan lauk yang digoreng.
Alhasil dua minggu pertama saya cuma turun 3 kg satu ons. Busyet. Rupanya saya kena PMS dan nafsu makan saya lumayan hot. JAdi dokter menghibur saya dengan bilang, kalau mens memang tidak normal baik dari hormon, nafsu makan dll.
Baiklah. Karena frustasi saya makan mulai ngawur. Tapi dengan tetap makan nasi seuprit di siang hari.
Begitu palang merah berakhir, saya penasaran melihat timbangan. Ya sudah deh kalau memang turun 3 kilo diterima saja. Dan dengan agak deg-degan saya menimbang. Wooow....takjub. Saya turun 5 kilogram. Wah saya jadi semangat lagi. dua hari kemarin saya masak tanpa minyak goreng sama sekali.
Bisakah bulan depan saya turun 5 kilo lagi. Doakan saya ya? Target saya memang agak mengerikan sih, bisa turun 35 kilogram. semoga bisa.
Palmerah, 10 Januari 2014
Menjelang taping
Pagi : Makan oatmeal
Siang : Nasi cuma sekitar 7 sendok dengan lauk apa aja tapi besarnya sebesar tiga jari dan sayur.
Nah...ini dia...semua lauk dan nasi itu tidak boleh dimasak dengan minyak. Semuanya dikukus atau direbus
Malam : Hanya sayur, buah atau lauk.
Semua makanan di luar itu tidak bolehlah yauw. Jadi lupakan keju, pizza, macaroni, kue tart dan semuanya yang enak-enak. Waktu itu saya bilang, "Kalau ada godaan, saya akan bilang ke diri ini, aku sudah pernah menyantap makanan itu." Pede banget.
Makanan yang boleh saya santap hanya 1000 gram kalori. Daftarnya sudah disiapkan ahli gizi. Dengan semangat 45 saya memulainya. Tiga hari pertama saya detoks, hanya makan buah dan sayur tok. Haduh lapernyaaaa...Tapi ajaib saya turun 3 kilogram dalam seminggu. Selanjutnya menu yang seperti saya jelaskan di atas.
Dua minggu pertama saya masih kuat. Berikutnya saya mulai towal towel lemper, nyemil kacang goreng, makan lauk yang digoreng.
Alhasil dua minggu pertama saya cuma turun 3 kg satu ons. Busyet. Rupanya saya kena PMS dan nafsu makan saya lumayan hot. JAdi dokter menghibur saya dengan bilang, kalau mens memang tidak normal baik dari hormon, nafsu makan dll.
Baiklah. Karena frustasi saya makan mulai ngawur. Tapi dengan tetap makan nasi seuprit di siang hari.
Begitu palang merah berakhir, saya penasaran melihat timbangan. Ya sudah deh kalau memang turun 3 kilo diterima saja. Dan dengan agak deg-degan saya menimbang. Wooow....takjub. Saya turun 5 kilogram. Wah saya jadi semangat lagi. dua hari kemarin saya masak tanpa minyak goreng sama sekali.
Bisakah bulan depan saya turun 5 kilo lagi. Doakan saya ya? Target saya memang agak mengerikan sih, bisa turun 35 kilogram. semoga bisa.
Palmerah, 10 Januari 2014
Menjelang taping
Senin, 03 Februari 2014
Pupus
Saya pernah mencintai dia
Saya juga amat menyayanginya
Tapi semua rasa itu menguap di udara
Pupus sudah semuanya
Meski begitu, saya tetap merasakan kehilangan
Palmerah, 3 Januari 2014
Saya juga amat menyayanginya
Tapi semua rasa itu menguap di udara
Pupus sudah semuanya
Meski begitu, saya tetap merasakan kehilangan
Palmerah, 3 Januari 2014
Senin, 27 Januari 2014
Minggu, 26 Januari 2014
Tentang Melepas Kemarahan
Pernahkah kalian merasa sakit hati karena diremehkan, ditinggalkan, dikhianati, tidak dipercaya, dizalimi dll. Saya pernah doong. Tp waktu pd akhirnya berbicara. Dalam kondisi "jatuh" itu ketika kita tak memberi penilaian apapun, Cukup menyadari rasa sakit itu, keadaan berbalik begitu cepat. Miracle demi miracle, keberuntungan demi keberuntungan menghampiri saya. Jadi saya putuskan tdk akan marah pada apapun dan membiarkan orng marah pada saya smp mentok. Kemarahan hanya akan "membunuhmu" pelan2. Yang rugi hanya kita sendiri.
Palmerah, 26 Januari 2014
Senin, 20 Januari 2014
Menghadapi Orang Sulit
Bagaimana ya caranya menghadapi orang sulit? Saya lagi galau. Pasalnya orangnya sensitif dan gak bisa menerima kritikan. Selalu menuntut ini itu, memaksakan kehendak, kerap mengeluh ini itu, dan seolah-olah dirinya sempurna.
Bagaimana ya caranya menghadapi orang sulit?
Entah. Saya tidak tahu.
Lebih baik diam aja deh. Suka-suka dia. Rasanya sudah lelah menghadapinya.
Palmerah, 20 Januari 2014
Bagaimana ya caranya menghadapi orang sulit?
Entah. Saya tidak tahu.
Lebih baik diam aja deh. Suka-suka dia. Rasanya sudah lelah menghadapinya.
Palmerah, 20 Januari 2014
Kamis, 16 Januari 2014
Tiga Kalimat
Ada
tiga kalimat yang paling saya suka belakangan ini : 1. semua hal pasti
berlalu. 2. kebenaran itu soal waktu. Dia tak pernah salah. 3. Sesulit
apapun hidup, kita pasti akan melewatinya. Seseorang yang menggenggam
masa lalu ibarat keong yang selalu membawa rumahnya kemana-mana. Penuh
beban. Hidup yang berarti ada di sini, sekarang ini.
Rabu, 08 Januari 2014
Hening Pukul 12.00
Sejak Minggu ini, saya dan Aning sahabat saya memutuskan hening bersama di sebuah Gereja paling tidak seminggu sekali. Gereja di kawasan Slipi itu sepi. Ada sebuah gua Maria dengan pohon yang menaunginya. Beberapa kursi berjejer. Teduh oleh rindangnya pohon. Pas sekali untuk hening di sana.
Kantor kami berjarak sekitar 3 kilometer. Jadi memungkinkan kami untuk hening di saat rehat makan siang. Kemarin, kami janjian tepat pukul 12.00 saat matahari tepat di atas kepala. Karena dekat, kami cuma naik angkot. Sekitar 15 menit perjalanan kami sampai di lokasi keheningan. Begitu tiba, kami memejamkan mata. Tiada berkata-kata. Hanya hening saja. Menyadarai pikiran ini dengan pasif, tanpa daya upaya. Sekitar setengah jam, mata kami terbuka. Kami beranjak. Pulang, kembali bekerja. Setengah jam cukup untuk melatih kesadaran.
Kami memulai tahun baru dengan begitu sederhana. Resolusi 2014 yang ingin saya jalani, sadar setiap saat.
Palmerah, 8 Januari 2014
Kantor kami berjarak sekitar 3 kilometer. Jadi memungkinkan kami untuk hening di saat rehat makan siang. Kemarin, kami janjian tepat pukul 12.00 saat matahari tepat di atas kepala. Karena dekat, kami cuma naik angkot. Sekitar 15 menit perjalanan kami sampai di lokasi keheningan. Begitu tiba, kami memejamkan mata. Tiada berkata-kata. Hanya hening saja. Menyadarai pikiran ini dengan pasif, tanpa daya upaya. Sekitar setengah jam, mata kami terbuka. Kami beranjak. Pulang, kembali bekerja. Setengah jam cukup untuk melatih kesadaran.
Kami memulai tahun baru dengan begitu sederhana. Resolusi 2014 yang ingin saya jalani, sadar setiap saat.
Palmerah, 8 Januari 2014
Rabu, 01 Januari 2014
Kenangan Kembang Api dan Tahun Baru
Entah kenapa cerita kembang api dan tahun baru yang pernah saya tulis beberapa tahun lalu menjadi favorit saya. Ini cerita miris sebenarnya. Tapi dari cerita ini saya bisa mentertawakan hidup saya yang belum juga punya pasangan, tetapi tetap bisa bahagia.
Tahun ini, seharusnya saya menonton kembang api di Singapura. Ada partner perjalanan ke sana dan saya hooh-hooh saja. Eh menjelang pemesanan tiket dia membatalkan karena masuk kerja. (duuuh nggak mutu banget sih tuh kantor...) Saya akhirnya menurunkan standar, menonton kembang api di Bundaran HI saja.
Menjelang sore, kepala kok berdenyut-denyut dan badan panas. Pastilah karena urusan kepindahan. Belum lagi malam menjelang saya sudah blek sek...bobo dengan suksesnya. Tahu-tahu bangun sudah tahun 2014. Ya sudahlah. Jadi, sebagai pelipur lara saya buka tulisan ini. Kejadian ini terjadi di Singapura tahun 2002. Perjalanan nekat tapi asyik. Seperti inilah ceritanya.
Masihkah Kalian Punya Sensasi Yang Belum Terwujud?
Saya punya. Mungkin buat orang lain bukan sensasi, tetapi buat saya ‘iya’. Memang sih sensasi saya norak. Tapi namanya juga angan-angan, nggak ada salahnya kan? Siapa tahu mewujud . Pertanyaan itu diajukan oleh salah satu kawan ketika kami “nyangkruk “ bertahun lalu. Sembari menyeruput coklat, minuman kegemaran saya, kami menghabiskan cerita sensasi ini sampai berbusa-busa.
Tadi malam, obrolan sensasi juga terjadi kala saya dan seorang kawan menyeruput coklat. Kali ini saya yang memulainya. Tak jelas bagaimana awalnya, tahu-tahu obrolan sensasi menghangat. Terbersitlah ide menuliskannya dlam note. Nggak penting, mungkin.
Tapi akhir-akhir ini saya mesti banyak menulis guna menciptakan atmosfir menulis setelah saya padamkan selama empat bulan. Apa alasannya, tidak penting untuk diceritakan. Terlebih kawan saya menagih tulisan ini pagi tadi. Wah saya memang perlu diingatkan, biar nggak “nggambleh”. Jadi mari kita bahas sensasi impian saya.
“Saya ingin berciuman dengan orang yang saya cintai di lift yang angka lantainya lebih dari 25,” kata saya kepada dia. Saya berhenti sejenak, menyeruput cuklat bertabur keju di depan saya. Hemmm nikmatnya. Mata teman saya terbeliak. “Hah? Nggak biasa ini?,” katanya. “Ya namanya juga sensasi, pasti agak anehlah,” jawab saya buru-buru. “Sensasinya dimana?,” tanyanya lagi. “Berciuman di lift yang punya lantai di atas angka 25 itu butuh waktu agak lama, lho?. Setidaknya 10 menit bolak balik. Belum lagi kalau di tiap lantai ada yang tiba-tiba masuk. Nah deg-degannya itu yang pasti bikin sensasi tersendiri. Antara menikmati ciuman itu sendiri dan harus berkonsentrasi jika “ting …ting” tanda ada orang masuk. Gugup pastilah, apalagi kalau ketahuan orang.
Teman saya manggut-manggut. Ekspresinya sulit saya ceritakan. Tapi kurang lebih “Wong aneh tenan ki koncoku.” hihihihi. Memandanginya, saya cuma cengar cengir dan mengulum senyum.
Cerita tentang gugup itu sendiri, bukan perkara sederhana untuk saya. Gugup , buat saya adalah sensasi yang menggetarkan. Coba kalian ingat, kapan terakhir kali gugup. Gugup yang saya ceritakan bukan karena ketahuan korupsi lho. Dalam konteks ini, gugup yang sedang saya bincangkan ketika kita sedang bersuka-suka dengan teman, pacaran baru tetapi masih malu-malu, ketemu temen baru, atau ya gugup karena tidak ada alasan. (aih kalau ini nggak mungkin). Pendek kata, getaran kegugupan itu sendiri, sensasinya juga tak terjemahkan. Bikin gagu, jantung berdegup lebih kencang, ngomong salah-salah, atau bertindak juga jadi kacau. Nah, begitulah. “Bikin hidup lebih hidup,” kata sebuah iklan.
Nah, dalam kitannya mewujudkan sensasi itu, percaya tidak, saya pernah sampai mengamati dengan detil, gedung mana saja yang memiliki lantai di atas 25 tingkat. Karena dulu saya tinggal di Jakarta, apalagi kerap melakukan tugas jurnalistik, saya jadi tahu gedung-gedung mana saja yang memiliki lantai di atas 25 tingkat. Jam berapa kantor itu padat pengunjung, jam berapa sela. Benar-benar niat ya?
Tapi seperti cerita bersambung, kisah impian sensasi ini belum berakhir. Bisa ditebak bukan? Saya belum pernah melakukannya, meski saya punya pacar dalam beberapa masa. Ehem.
Sensasi kedua yang ingin saya lakukan adalah bersama yang tercinta menyaksikan kembang api di Singapura. Lalu apa sensasinya? Ini sebenarnya kisah yang sempat saya simpan rapat. Alasannya, sederhana, takut orang punya pikiran yang tidak-tidak. Tapi sudah saya buang persepsi itu karena tidak ada yang perlu ditakutkan.
Kejadiannya tahun 2002. Saya melancong ala backpacker dengan dua sahabat saya Zara dan Siska. Pada waktu itu, saya hanya memberikan budgjet Rp 3 juta dlam perjalanan ke ke tiga negara Singapura, Malaysia, dan Thailand. Selama dua minggu perjalanan itu, keuangan sudah menipis di Thailand. Dua sahabat saya memutuskan naik pesawat dari Thailand ke Indonesia. Saya ngotot tinggal. Alasannya sederhana. Saya ingin membuktikan Rp 3 juta itu bisa nggak sih keliling ke tiga negara?
Saya naik perjalanan darat dari Thailand ke Singapura sendirian. Hehehe cukup heroiklah. Satu malam di bus, bener-bener garing. Dari Singapura perjalanan mestinya berlanjut ke Batam menuju Jakarta dengan pesawat.
Dasar naluri petualangan saya, duit tak sampai Rp 500.000 masih ngotot tinggal semalam di Singapura. Ya…hari itu tanggal 31 Desember, saya menginjakkan kaki kembali di Singapura. Biar agak keren (norak betul) saya pingin bertahun baru di Singapura. Aih…rasanya waktu itu agak keren juga ya kalau pas lagi nongkrong sama teman-teman, ditanya,” Tahun baru kemana?” Lalu saya jawab “Singapura.” Yeksss… ingat itu saya jadi malu. Norak norak. Saya pingin mauk ke got kalau ingat kenorakan itu. hiiii.
Jadi begitulah. Saya memutuskan, biar badai topan melanda, saya harus bertahun baru di Singapura. Pesta kembang api-lah yang menjadi magnitnya. Ini karena saya dengar, pesta kembang api di Singapura keren banget. Kembang api seperti nafas hidup saya. Saya suka sekali. Kesenangannya sulit dilukiskan.
Nah, Inilah awal cerita sensasi itu. Di stasiun MRT Jurong (saya agak lupa) saya melihat bule yang lagi bengong. Tampangnya kelihatan baik. Saya menyapanya. Dia bilang mau cari motel. Keinginan kami sama. Dasar sok tahu, saya bilang, saya punya referensi hotel yang biayanya murah antara lain daerah Tanjung Katong. Ketika kami telepon, hotel penuh semua. Saya memang konyol, malam tahun baru di negeri yang menjadi tujuan wisata, belum pesan hotel. Waduh…saya mulai panic.
Atas rekomendasi dari warga Singapur, kami diminta ke Little India. Di kawasan itu, menurut cerita mereka, ada banyak pilihan hotel yang harganya miring. Dan tibalah kami di hotel, ketika petang menjelang. Begitu tiba di hotel, astaganaga. Saya hampir pingsan. Mahal amat. Jelek amat. Nggak ada pendingin, puanasnya minta ampun, kumuh. Yang bikin saya melotot, kok bisa ya kawasan kayak gini bisa jadi jualan wisatanya Singapura. Halah. Indonesia jauh-jauh lebih asyik dan menarik deh. Saya sudah mau balik badan, cabut dari tempat itu. Tetapi Tobias, nama turis Jerman itu, melarang saya. Dia bilang, “Kan cuma untuk tidur sebentar saja. It’s oke-lah,” katanya.
Dan yaelah astaganaga. Harga kamarnya waktu itu 35 $
dengan kurs Rp 5500. Sial, sial, sial. Bener-bener negara seiprit yang
nggak yeye banget soal kemahalannya. Sebagai perbandingan, saya
menginap di Thailand dan Malaysia dengan tarif Rp 125.000 hotel sudah
AC dan dapat makan pagi. Di Hotel Khaosan Road, kami lebih gila lagi,
nginep Cuma Rp 20.00 semalam, tetapi jauh lebih manusia ketimbang kamar
yang saya masuki di Singapur. Nggondok buanget.
Tobias sendiri juga terlihat kaget dengan tarif untuk hotel sejelek itu. Lantaran si backpacker ini sudah menghabiskan uangnya sebesar Rp 120 juta untuk keliling dunia, maka kondisi keuangannya juga sudah menipis. Singapura adalah tujuan terakhirnya ke Asia. Selanjutnya dia akan mengunjungi Australia dan kembali ke Jerman. Dengan duit yang makin cekak, dia mengatakan harus mengirit perjalanan.
Tak terduga, yang bikin saya melotot, dia berujar pada pemilik hotel. “Boleh nggak saya menginap di atap hotel ini.” Saya terbeliak. Hah edan. Backpacker ya backpacker sih, tapi saya ndak seedan itu, menginap di atas atap. Hiii. Tapi saya diam saja. Jelas saja si pemilik hotel tak memperbolehkan. Tobias garuk-garuk kepala. Hemmm…sedetik kemudian, dia bilang pada saya. “Hemmm…kamu keberatan tidak kalau kita share sewa kamar? Mata saya melotot. Mungkin dia menangkap kecemasan saya. Dia bilang, “Kamu akan baik-baik saja, kita hanya sharing biaya kamar.” Sedetik saya berpikir. Tapi jujur, matanya terlihat baik, dan bukan tipe yang aneh-aneh.
Wadeuww….saya tolah toleh…Gugup….nah gugup memang sensasi yang asyik,kan? Si Tobias bilang, dia akan tidur di lantai kalau memang tempat tidurnya hanya satu, meskipun harga kamar dibagi dua. Hihihihi… Akhirnya saya mengangguk setuju. Ternyata, tempat tidur kami bersusun kayak jaman tanksi perang. Bahannya bukan kayu, tetapi dari besi. Kalau kejedot kepala, lumayan juga tuh. Dan saya bener-benr kejedut malam itu. Tobias mengambil tempat tidur di atas, saya di bawah. Saya yakin aman, karena untuk naik dan turun ke tempat tidur agak susah.
Rupanya Tobias juga ingin menyaksikan pesta kembang api. Begitu tiba di hotel, dia mencari informasi ke Orchard Road. Saya memilih di hotel, mandi, dan istirahat. Tobias datang 2,5 jam kemudian. Rupanya, dia jalan kaki dari Little India. (pantesan lama banget sampai hotel). Lokasi pesta kembang api itu di pinggir laut, Marina Bay. Katanya yang paling ramai dan terbesar pada perayaan Tahun Baru. Dari little India, Tobias mengajak saya jalan kaki. Katanya dekat. Tapi ternyata 1,5 jam perjalanan. Gempor kaki saya. Alamakjan. Jalan sama bule memang doyannya pake kaki.
Dalam hati saya, jangan sampai pulang jalan kaki lagi. Saya bilang ke dia. “Naik taksi deh, saya bayar nggak papa pulangnya.” Tobias cuma tertawa kecil. Dan begitu sampai, lautan manusia sudah memenuhi kawasan Marina Bay. Untung kami tak terlewat gara-gara jalan kaki itu. Seperti yang saya tebak, hampir sebagian besar orang berpasangan. Duduk di pinggir laut, angin cukup kencang bikin saya agak masuk angin. Saking asyiknya ngobrol, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 23.30. Dan ledakan api nan indah itu tibalah….wowww…saya bahkan masih mengingat keindahannya hingga sekarang.
Pesta kembang api yang agak bikin bibir saya menganga adalah pesta kembang api di halaman mall Lippo Karawaci tiap akhir pekan beberapa puluh tahun silam. Tapi alamakjan, kembang api Singapura benar-benar istimewa. Kembang api itu diluncurkan dari tengah laut. Langit bersih…dan siiiiiiiuttttttt duaaarrrr. Bulat bertingkat, ada yang seperti kerucut, ada yang seperti ekor naga. Saya seperti anak kecil yang baru dapat mainan baru. Wow…wow…indah sekali. Seolah-olah sayalah yang menikmatinya sendirian. Saya bahkan lupa ada Tobias di sebelah saya.
Saya benar-benar terhipnotis dengan pesta kembang api itu. Tiba-tiba Tobias berteriak pada saya. “Ini sangat cantik, di negara saya saja, saya belum pernah menyaksikan yang seindah ini,” katanya. Dalam hati saya mengatakan. “Wah syukur deh berarti aku nggak terlalu udik, mengagumi pesta kembang api ini. Dia yang dari negara maju saja terkagum-kagum hihi.” Tobias tak henti-hentinya memotret ke langit bertaburan kembang api.
Setengah jam diluncurkan…dan inilah saat menjelang detik pergantian tahun. “10,9, 8, 7,6,5,4,3,2,1,” teriak massa. Dan kembang api itu meluncur dari tengah laut seperti rentetan mesiu jaman perang. Bersaut-sautan. Ledakan-ledakan api yang membentuk api indah begitu membius saya. Tempik sorak dari lautan manusia terdengar. Happy new year…. Langit Marina Bay terang benderang oleh api yang bermacam-macam bentuknya.
Dan ketika dongakan leher kami terlepas dari langit, segera kami tersadar dengan pemadangan di sekeliling kami. Kami berdua terkurung di antara pasangan-pasangan yang saling berlumatan bibir. Hanya beberapa inci dari tempat kami berdiri. Clap clup clap clup, bercipokan menyambut tahun baru. Mereka mengepung kami dari depan, tengah, belakang. Saya dan Tobias sama-sama getir. Kami berdua sama-sama jengah. Tetapi juga nggak bisa apa-apa. Saya misuh-misuh dalam hati. “Jangkrik, kelamutan kabeh.” Tempat sudah benar, suasana mendukung, malam kian melankolis, tetapi orang di sebelah saya, bukan kekasih, hanya orang asing. Ah, sedih betul, kawan.
Saking gugupnya Tobias dengan pemandangan di sekitar, dia mengulurkan tangannya ke saya. Tapi lebih mirip kayak teletabbies itu lho, yang suka bilang “Berpelukan.” Nah, seperti itulah. Dan saya menyambut pelukan itu. “Bernada, happy new year,” katanya. Matanya yang baik hati itu terlihat tulus. Lalu dia mencium pipi saya. Hihihihi..Tahun baru dengan orang asing, dengan kepungan pasangan berciuman sungguh tak enak, kawan.
Sambil memandang langit dimana kembang api masih muncrat dengan indahnya, saya berucap dalam hati. “Suatu saat saya akan ke sini, menikmati kembang api, di malam tahun baru, berlumatan, jika perlu sampai pagi dengan orang yang tercinta.” Jadi begitulah…sensasi yang saya impikan itu.
Dan hem… bisa ditebak yang kedua kalinya. Impian itu belum terwujud. Sudah beberapa kali mengunjungi Singapura, tetapi tidak tahun baru, juga tidak dengan pacar. Aih….
Ending:
Tapi meski itu pengalaman manis dan getir, setidaknya ada beberapa hal berharga yang bisa saya bagikan. Satu, laki-laki dan perempuan dalam satu kamar, tidak selalu harus “begituan” kata anak muda jaman sekarang. Kedua, tiada taksi, tiada bus malam, apalagi ojeklah yauw (dalam hati saya bersyukur tinggal di Indonesia punya tukang ojek. Sumpah). Malam itu, meski kegembiraan saya begitu berwarna seperti kembang api dan kegetirannya seperti menelan pil pahit, saya tak punya pilihan lain untuk jalan kaki. Hem…1,5 jam. Lengkap sudah malam pergantian tahun itu. Ketiga, percaya tidak, meski kami melewatkan malam tahun bersama, kami sama-sama tak meninggalkan alamat email, nomer telepon, atau apapun itu. Bahkan nama belakang keluarganya saja saya tak tahu sampai sekarang. Jam 3 pagi kami sampai hotel, pukul 05.00 saya mengendap-endap keluar dari hotel. Sebelumnya kami sudah berpamitan. Tobias masih mengantuk. Matanya keriyip-keriyip. Tapi dia masih turun dari tempat tidur, memeluk saya. “Goodbye,” katanya. Saya juga menjawab pendek.”Goodbye.”
Tahun ini, seharusnya saya menonton kembang api di Singapura. Ada partner perjalanan ke sana dan saya hooh-hooh saja. Eh menjelang pemesanan tiket dia membatalkan karena masuk kerja. (duuuh nggak mutu banget sih tuh kantor...) Saya akhirnya menurunkan standar, menonton kembang api di Bundaran HI saja.
Menjelang sore, kepala kok berdenyut-denyut dan badan panas. Pastilah karena urusan kepindahan. Belum lagi malam menjelang saya sudah blek sek...bobo dengan suksesnya. Tahu-tahu bangun sudah tahun 2014. Ya sudahlah. Jadi, sebagai pelipur lara saya buka tulisan ini. Kejadian ini terjadi di Singapura tahun 2002. Perjalanan nekat tapi asyik. Seperti inilah ceritanya.
Masihkah Kalian Punya Sensasi Yang Belum Terwujud?
Saya punya. Mungkin buat orang lain bukan sensasi, tetapi buat saya ‘iya’. Memang sih sensasi saya norak. Tapi namanya juga angan-angan, nggak ada salahnya kan? Siapa tahu mewujud . Pertanyaan itu diajukan oleh salah satu kawan ketika kami “nyangkruk “ bertahun lalu. Sembari menyeruput coklat, minuman kegemaran saya, kami menghabiskan cerita sensasi ini sampai berbusa-busa.
Tadi malam, obrolan sensasi juga terjadi kala saya dan seorang kawan menyeruput coklat. Kali ini saya yang memulainya. Tak jelas bagaimana awalnya, tahu-tahu obrolan sensasi menghangat. Terbersitlah ide menuliskannya dlam note. Nggak penting, mungkin.
Tapi akhir-akhir ini saya mesti banyak menulis guna menciptakan atmosfir menulis setelah saya padamkan selama empat bulan. Apa alasannya, tidak penting untuk diceritakan. Terlebih kawan saya menagih tulisan ini pagi tadi. Wah saya memang perlu diingatkan, biar nggak “nggambleh”. Jadi mari kita bahas sensasi impian saya.
“Saya ingin berciuman dengan orang yang saya cintai di lift yang angka lantainya lebih dari 25,” kata saya kepada dia. Saya berhenti sejenak, menyeruput cuklat bertabur keju di depan saya. Hemmm nikmatnya. Mata teman saya terbeliak. “Hah? Nggak biasa ini?,” katanya. “Ya namanya juga sensasi, pasti agak anehlah,” jawab saya buru-buru. “Sensasinya dimana?,” tanyanya lagi. “Berciuman di lift yang punya lantai di atas angka 25 itu butuh waktu agak lama, lho?. Setidaknya 10 menit bolak balik. Belum lagi kalau di tiap lantai ada yang tiba-tiba masuk. Nah deg-degannya itu yang pasti bikin sensasi tersendiri. Antara menikmati ciuman itu sendiri dan harus berkonsentrasi jika “ting …ting” tanda ada orang masuk. Gugup pastilah, apalagi kalau ketahuan orang.
Teman saya manggut-manggut. Ekspresinya sulit saya ceritakan. Tapi kurang lebih “Wong aneh tenan ki koncoku.” hihihihi. Memandanginya, saya cuma cengar cengir dan mengulum senyum.
Cerita tentang gugup itu sendiri, bukan perkara sederhana untuk saya. Gugup , buat saya adalah sensasi yang menggetarkan. Coba kalian ingat, kapan terakhir kali gugup. Gugup yang saya ceritakan bukan karena ketahuan korupsi lho. Dalam konteks ini, gugup yang sedang saya bincangkan ketika kita sedang bersuka-suka dengan teman, pacaran baru tetapi masih malu-malu, ketemu temen baru, atau ya gugup karena tidak ada alasan. (aih kalau ini nggak mungkin). Pendek kata, getaran kegugupan itu sendiri, sensasinya juga tak terjemahkan. Bikin gagu, jantung berdegup lebih kencang, ngomong salah-salah, atau bertindak juga jadi kacau. Nah, begitulah. “Bikin hidup lebih hidup,” kata sebuah iklan.
Nah, dalam kitannya mewujudkan sensasi itu, percaya tidak, saya pernah sampai mengamati dengan detil, gedung mana saja yang memiliki lantai di atas 25 tingkat. Karena dulu saya tinggal di Jakarta, apalagi kerap melakukan tugas jurnalistik, saya jadi tahu gedung-gedung mana saja yang memiliki lantai di atas 25 tingkat. Jam berapa kantor itu padat pengunjung, jam berapa sela. Benar-benar niat ya?
Tapi seperti cerita bersambung, kisah impian sensasi ini belum berakhir. Bisa ditebak bukan? Saya belum pernah melakukannya, meski saya punya pacar dalam beberapa masa. Ehem.
Sensasi kedua yang ingin saya lakukan adalah bersama yang tercinta menyaksikan kembang api di Singapura. Lalu apa sensasinya? Ini sebenarnya kisah yang sempat saya simpan rapat. Alasannya, sederhana, takut orang punya pikiran yang tidak-tidak. Tapi sudah saya buang persepsi itu karena tidak ada yang perlu ditakutkan.
Kejadiannya tahun 2002. Saya melancong ala backpacker dengan dua sahabat saya Zara dan Siska. Pada waktu itu, saya hanya memberikan budgjet Rp 3 juta dlam perjalanan ke ke tiga negara Singapura, Malaysia, dan Thailand. Selama dua minggu perjalanan itu, keuangan sudah menipis di Thailand. Dua sahabat saya memutuskan naik pesawat dari Thailand ke Indonesia. Saya ngotot tinggal. Alasannya sederhana. Saya ingin membuktikan Rp 3 juta itu bisa nggak sih keliling ke tiga negara?
Saya naik perjalanan darat dari Thailand ke Singapura sendirian. Hehehe cukup heroiklah. Satu malam di bus, bener-bener garing. Dari Singapura perjalanan mestinya berlanjut ke Batam menuju Jakarta dengan pesawat.
Dasar naluri petualangan saya, duit tak sampai Rp 500.000 masih ngotot tinggal semalam di Singapura. Ya…hari itu tanggal 31 Desember, saya menginjakkan kaki kembali di Singapura. Biar agak keren (norak betul) saya pingin bertahun baru di Singapura. Aih…rasanya waktu itu agak keren juga ya kalau pas lagi nongkrong sama teman-teman, ditanya,” Tahun baru kemana?” Lalu saya jawab “Singapura.” Yeksss… ingat itu saya jadi malu. Norak norak. Saya pingin mauk ke got kalau ingat kenorakan itu. hiiii.
Jadi begitulah. Saya memutuskan, biar badai topan melanda, saya harus bertahun baru di Singapura. Pesta kembang api-lah yang menjadi magnitnya. Ini karena saya dengar, pesta kembang api di Singapura keren banget. Kembang api seperti nafas hidup saya. Saya suka sekali. Kesenangannya sulit dilukiskan.
Nah, Inilah awal cerita sensasi itu. Di stasiun MRT Jurong (saya agak lupa) saya melihat bule yang lagi bengong. Tampangnya kelihatan baik. Saya menyapanya. Dia bilang mau cari motel. Keinginan kami sama. Dasar sok tahu, saya bilang, saya punya referensi hotel yang biayanya murah antara lain daerah Tanjung Katong. Ketika kami telepon, hotel penuh semua. Saya memang konyol, malam tahun baru di negeri yang menjadi tujuan wisata, belum pesan hotel. Waduh…saya mulai panic.
Atas rekomendasi dari warga Singapur, kami diminta ke Little India. Di kawasan itu, menurut cerita mereka, ada banyak pilihan hotel yang harganya miring. Dan tibalah kami di hotel, ketika petang menjelang. Begitu tiba di hotel, astaganaga. Saya hampir pingsan. Mahal amat. Jelek amat. Nggak ada pendingin, puanasnya minta ampun, kumuh. Yang bikin saya melotot, kok bisa ya kawasan kayak gini bisa jadi jualan wisatanya Singapura. Halah. Indonesia jauh-jauh lebih asyik dan menarik deh. Saya sudah mau balik badan, cabut dari tempat itu. Tetapi Tobias, nama turis Jerman itu, melarang saya. Dia bilang, “Kan cuma untuk tidur sebentar saja. It’s oke-lah,” katanya.
![]() |
| coba tebak gambar apa hayooo |
Tobias sendiri juga terlihat kaget dengan tarif untuk hotel sejelek itu. Lantaran si backpacker ini sudah menghabiskan uangnya sebesar Rp 120 juta untuk keliling dunia, maka kondisi keuangannya juga sudah menipis. Singapura adalah tujuan terakhirnya ke Asia. Selanjutnya dia akan mengunjungi Australia dan kembali ke Jerman. Dengan duit yang makin cekak, dia mengatakan harus mengirit perjalanan.
Tak terduga, yang bikin saya melotot, dia berujar pada pemilik hotel. “Boleh nggak saya menginap di atap hotel ini.” Saya terbeliak. Hah edan. Backpacker ya backpacker sih, tapi saya ndak seedan itu, menginap di atas atap. Hiii. Tapi saya diam saja. Jelas saja si pemilik hotel tak memperbolehkan. Tobias garuk-garuk kepala. Hemmm…sedetik kemudian, dia bilang pada saya. “Hemmm…kamu keberatan tidak kalau kita share sewa kamar? Mata saya melotot. Mungkin dia menangkap kecemasan saya. Dia bilang, “Kamu akan baik-baik saja, kita hanya sharing biaya kamar.” Sedetik saya berpikir. Tapi jujur, matanya terlihat baik, dan bukan tipe yang aneh-aneh.
Wadeuww….saya tolah toleh…Gugup….nah gugup memang sensasi yang asyik,kan? Si Tobias bilang, dia akan tidur di lantai kalau memang tempat tidurnya hanya satu, meskipun harga kamar dibagi dua. Hihihihi… Akhirnya saya mengangguk setuju. Ternyata, tempat tidur kami bersusun kayak jaman tanksi perang. Bahannya bukan kayu, tetapi dari besi. Kalau kejedot kepala, lumayan juga tuh. Dan saya bener-benr kejedut malam itu. Tobias mengambil tempat tidur di atas, saya di bawah. Saya yakin aman, karena untuk naik dan turun ke tempat tidur agak susah.
Rupanya Tobias juga ingin menyaksikan pesta kembang api. Begitu tiba di hotel, dia mencari informasi ke Orchard Road. Saya memilih di hotel, mandi, dan istirahat. Tobias datang 2,5 jam kemudian. Rupanya, dia jalan kaki dari Little India. (pantesan lama banget sampai hotel). Lokasi pesta kembang api itu di pinggir laut, Marina Bay. Katanya yang paling ramai dan terbesar pada perayaan Tahun Baru. Dari little India, Tobias mengajak saya jalan kaki. Katanya dekat. Tapi ternyata 1,5 jam perjalanan. Gempor kaki saya. Alamakjan. Jalan sama bule memang doyannya pake kaki.
Dalam hati saya, jangan sampai pulang jalan kaki lagi. Saya bilang ke dia. “Naik taksi deh, saya bayar nggak papa pulangnya.” Tobias cuma tertawa kecil. Dan begitu sampai, lautan manusia sudah memenuhi kawasan Marina Bay. Untung kami tak terlewat gara-gara jalan kaki itu. Seperti yang saya tebak, hampir sebagian besar orang berpasangan. Duduk di pinggir laut, angin cukup kencang bikin saya agak masuk angin. Saking asyiknya ngobrol, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 23.30. Dan ledakan api nan indah itu tibalah….wowww…saya bahkan masih mengingat keindahannya hingga sekarang.
Pesta kembang api yang agak bikin bibir saya menganga adalah pesta kembang api di halaman mall Lippo Karawaci tiap akhir pekan beberapa puluh tahun silam. Tapi alamakjan, kembang api Singapura benar-benar istimewa. Kembang api itu diluncurkan dari tengah laut. Langit bersih…dan siiiiiiiuttttttt duaaarrrr. Bulat bertingkat, ada yang seperti kerucut, ada yang seperti ekor naga. Saya seperti anak kecil yang baru dapat mainan baru. Wow…wow…indah sekali. Seolah-olah sayalah yang menikmatinya sendirian. Saya bahkan lupa ada Tobias di sebelah saya.
Saya benar-benar terhipnotis dengan pesta kembang api itu. Tiba-tiba Tobias berteriak pada saya. “Ini sangat cantik, di negara saya saja, saya belum pernah menyaksikan yang seindah ini,” katanya. Dalam hati saya mengatakan. “Wah syukur deh berarti aku nggak terlalu udik, mengagumi pesta kembang api ini. Dia yang dari negara maju saja terkagum-kagum hihi.” Tobias tak henti-hentinya memotret ke langit bertaburan kembang api.
Setengah jam diluncurkan…dan inilah saat menjelang detik pergantian tahun. “10,9, 8, 7,6,5,4,3,2,1,” teriak massa. Dan kembang api itu meluncur dari tengah laut seperti rentetan mesiu jaman perang. Bersaut-sautan. Ledakan-ledakan api yang membentuk api indah begitu membius saya. Tempik sorak dari lautan manusia terdengar. Happy new year…. Langit Marina Bay terang benderang oleh api yang bermacam-macam bentuknya.
Dan ketika dongakan leher kami terlepas dari langit, segera kami tersadar dengan pemadangan di sekeliling kami. Kami berdua terkurung di antara pasangan-pasangan yang saling berlumatan bibir. Hanya beberapa inci dari tempat kami berdiri. Clap clup clap clup, bercipokan menyambut tahun baru. Mereka mengepung kami dari depan, tengah, belakang. Saya dan Tobias sama-sama getir. Kami berdua sama-sama jengah. Tetapi juga nggak bisa apa-apa. Saya misuh-misuh dalam hati. “Jangkrik, kelamutan kabeh.” Tempat sudah benar, suasana mendukung, malam kian melankolis, tetapi orang di sebelah saya, bukan kekasih, hanya orang asing. Ah, sedih betul, kawan.
Saking gugupnya Tobias dengan pemandangan di sekitar, dia mengulurkan tangannya ke saya. Tapi lebih mirip kayak teletabbies itu lho, yang suka bilang “Berpelukan.” Nah, seperti itulah. Dan saya menyambut pelukan itu. “Bernada, happy new year,” katanya. Matanya yang baik hati itu terlihat tulus. Lalu dia mencium pipi saya. Hihihihi..Tahun baru dengan orang asing, dengan kepungan pasangan berciuman sungguh tak enak, kawan.
Sambil memandang langit dimana kembang api masih muncrat dengan indahnya, saya berucap dalam hati. “Suatu saat saya akan ke sini, menikmati kembang api, di malam tahun baru, berlumatan, jika perlu sampai pagi dengan orang yang tercinta.” Jadi begitulah…sensasi yang saya impikan itu.
Dan hem… bisa ditebak yang kedua kalinya. Impian itu belum terwujud. Sudah beberapa kali mengunjungi Singapura, tetapi tidak tahun baru, juga tidak dengan pacar. Aih….
Ending:
Tapi meski itu pengalaman manis dan getir, setidaknya ada beberapa hal berharga yang bisa saya bagikan. Satu, laki-laki dan perempuan dalam satu kamar, tidak selalu harus “begituan” kata anak muda jaman sekarang. Kedua, tiada taksi, tiada bus malam, apalagi ojeklah yauw (dalam hati saya bersyukur tinggal di Indonesia punya tukang ojek. Sumpah). Malam itu, meski kegembiraan saya begitu berwarna seperti kembang api dan kegetirannya seperti menelan pil pahit, saya tak punya pilihan lain untuk jalan kaki. Hem…1,5 jam. Lengkap sudah malam pergantian tahun itu. Ketiga, percaya tidak, meski kami melewatkan malam tahun bersama, kami sama-sama tak meninggalkan alamat email, nomer telepon, atau apapun itu. Bahkan nama belakang keluarganya saja saya tak tahu sampai sekarang. Jam 3 pagi kami sampai hotel, pukul 05.00 saya mengendap-endap keluar dari hotel. Sebelumnya kami sudah berpamitan. Tobias masih mengantuk. Matanya keriyip-keriyip. Tapi dia masih turun dari tempat tidur, memeluk saya. “Goodbye,” katanya. Saya juga menjawab pendek.”Goodbye.”
Tekad 2014
Tahun baru sudah lewat sehari. Lembar baru di mulai. Tidak ada yang berubah dari sekeliling saya juga lingkungan tempat saya tinggal. Yang berubah adalah kesadaran ini. Saya lebih cepat mengetahui batin saya ketika kesadaran ini mulai melemah.
Saya sadar pikiran bersifat dualistik. Saya memang belum bisa memutuskan penuh untuk meninggalkan semua. Saya harus mengakui bahwa saya masih "merasa" harus melanjutkan hidup, dari satu keinginan ke keinginan lain. Well. Saya memilih sesuatu yang berbeda. Yang tidak bisa saya sharekan sekarang. Cukup dalam hati saja. Nanti kelak ketika harus dibuka, saya akan menjelaskan alasan saya yang sesungguhnya.
Tapi pada akhirnya perhentian saya selanjutnya adalah menyebarkan kesadaran bagi semua makhluk di bumi. Sadar setiap saat. Hanya itulah yang ingin saya latih.
Palmerah, 2 Januari 2014
Saya sadar pikiran bersifat dualistik. Saya memang belum bisa memutuskan penuh untuk meninggalkan semua. Saya harus mengakui bahwa saya masih "merasa" harus melanjutkan hidup, dari satu keinginan ke keinginan lain. Well. Saya memilih sesuatu yang berbeda. Yang tidak bisa saya sharekan sekarang. Cukup dalam hati saja. Nanti kelak ketika harus dibuka, saya akan menjelaskan alasan saya yang sesungguhnya.
Tapi pada akhirnya perhentian saya selanjutnya adalah menyebarkan kesadaran bagi semua makhluk di bumi. Sadar setiap saat. Hanya itulah yang ingin saya latih.
Palmerah, 2 Januari 2014
Selasa, 31 Desember 2013
Mengapa Saya Harus Tetap Menulis
Saya kembali ke Riverside lagi. Cottage milik teman saya, Dessy yang semula satu buah sudah beranak pinak menjadi lima. Riverside tak sesepi ketika saya pertama kali datang. Sejak tanggal 23 sampai 3 Januari, semua cottage-nya terisi penuh. Cerita tentang Riverside pernah saya posting di sini. http://tjapoenk.blogspot.com/2012/01/pagi-di-riverside.html
Siapa nyana, tulisan ini menginspirasi seseorang di belahan Jawa Timur, nun jauh dari ujung Timur Jawa. Dessy bercerita, suatu hari kedatangan tamu sepasang suami istri. Keduanya mengaku dari Jember dan membaca informasi Riverside dari blog milik saya. Kata sang pelancong, dia ingin menapaktilasi tulisan itu dan memutuskan menginap di sana.
Tidak ada yang lebih menyenangkan dari seorang penulis selain tulisannya dibaca dan menginspirasi orang lain. Bagi saya itu puncak pencapaian seorang penulis.
Ngomong-ngomong tentang tulisan, beberapa hari lalu, saya berjumpa dengan seorang teman di Facebook. Kami sebenarnya belum pernah berkenalan. Tapi karena sering memberi komentar, saya lupa bahwa kami belum pernah bertemu. Dan, tidak terduga, kami bertemu. Mak bedunduk. Dia bilang, kenal saya melalui tulisan saya di Tempo. Katanya, dia mengikuti tulisan saya di Tempo, media tempat saya bekerja sebelum kantor sekarang. Aih...saya mesam mesem tersipu-sipu malu. Rada bungah juga. Hihihi.
Teman ini juga mengaku menikmati status-status saya di Facebook. Katanya, status saya lucu-lucu. sampai-sampai dia pingin bertemu. "Apakah ketemu orangnya selucu statusnya di Facebook," kata teman ini. Dan saya berharap dia tidak kecewa setelah bertemu saya :)
Beberapa waktu lalu seorang teman juga mengapresiasi blog ini. Suatu hari dia menelpon. Di ujung telepon, kakak kelas semasa di kampus ini menanyakan sesuatu yang bikin saya bungah. "Dik, kok jarang menulis. Mbok menulis lagi. Aku suka tulisanmu," katanya.
Cerita Dessy, dan dua teman ini membuat saya tergugah. Saya harus aktif menulis kembali. Jujur saja, tak selancar dulu. Bekerja di televisi memang mengutamakan visual. Jadi menulis bukan prioritas. Tidak ada sesuatu yang kebetulan dalam hidup ini. Mengapa saya harus tetap menulis sudah jelas. Semesta memberikan tanda kepada saya. "Ayoo kamu harus menulis, itulah duniamu."
Nanti malam tahun baru. Saya menunggu tanda-tanda dari semesta. Kemana saya harus melangkah tahun depan dari berbagai pilihan yang ada di depan mata.
Selamat tahun baru, teman-teman. Teruslah menulis. Menulis adalah terapi jiwa.
Palmerah, 31 Desember 2013
Siapa nyana, tulisan ini menginspirasi seseorang di belahan Jawa Timur, nun jauh dari ujung Timur Jawa. Dessy bercerita, suatu hari kedatangan tamu sepasang suami istri. Keduanya mengaku dari Jember dan membaca informasi Riverside dari blog milik saya. Kata sang pelancong, dia ingin menapaktilasi tulisan itu dan memutuskan menginap di sana.
Tidak ada yang lebih menyenangkan dari seorang penulis selain tulisannya dibaca dan menginspirasi orang lain. Bagi saya itu puncak pencapaian seorang penulis.
Ngomong-ngomong tentang tulisan, beberapa hari lalu, saya berjumpa dengan seorang teman di Facebook. Kami sebenarnya belum pernah berkenalan. Tapi karena sering memberi komentar, saya lupa bahwa kami belum pernah bertemu. Dan, tidak terduga, kami bertemu. Mak bedunduk. Dia bilang, kenal saya melalui tulisan saya di Tempo. Katanya, dia mengikuti tulisan saya di Tempo, media tempat saya bekerja sebelum kantor sekarang. Aih...saya mesam mesem tersipu-sipu malu. Rada bungah juga. Hihihi.
Teman ini juga mengaku menikmati status-status saya di Facebook. Katanya, status saya lucu-lucu. sampai-sampai dia pingin bertemu. "Apakah ketemu orangnya selucu statusnya di Facebook," kata teman ini. Dan saya berharap dia tidak kecewa setelah bertemu saya :)
Beberapa waktu lalu seorang teman juga mengapresiasi blog ini. Suatu hari dia menelpon. Di ujung telepon, kakak kelas semasa di kampus ini menanyakan sesuatu yang bikin saya bungah. "Dik, kok jarang menulis. Mbok menulis lagi. Aku suka tulisanmu," katanya.
Cerita Dessy, dan dua teman ini membuat saya tergugah. Saya harus aktif menulis kembali. Jujur saja, tak selancar dulu. Bekerja di televisi memang mengutamakan visual. Jadi menulis bukan prioritas. Tidak ada sesuatu yang kebetulan dalam hidup ini. Mengapa saya harus tetap menulis sudah jelas. Semesta memberikan tanda kepada saya. "Ayoo kamu harus menulis, itulah duniamu."
Nanti malam tahun baru. Saya menunggu tanda-tanda dari semesta. Kemana saya harus melangkah tahun depan dari berbagai pilihan yang ada di depan mata.
Selamat tahun baru, teman-teman. Teruslah menulis. Menulis adalah terapi jiwa.
Palmerah, 31 Desember 2013
Langganan:
Postingan (Atom)



