Siang ini cuaca Yogyakarta panas. Keringat saya bercucuran. Tapi aneh, saya justru sedang bergairah. Sangat bergairah. Ada yang meletup-letup dalam diri ini. Kalau sudah begini rencana, ide mulai menggelinding. Saya mengulum senyum.
Saya sudah kembali. Naga dalam diri saya sudah normal. Siap menyemburkan api-nya.
Hai...saya Bernada Rurit. Mesti hidup tak pernah sempurna, saya percaya, setiap momen apapun yang terjadi sekecil apapun, dia tak pernah sia-sia jika kita menyadarinya.
Episode berikutnya, saya akan bercerita tentang meditasi yang sudah dua tahun ini menjadi nafas hidup saya.
Tunggu ya, sore ini dua keponakan saya yang manis-manis, Cornelia dan Damar akan kembali ke Dili. So saya ingin berpuas-puas dulu bersama mereka.
Dadahhhh....
Yogyakarta, 5 Januari 2012
Rabu, 04 Januari 2012
Selamat Pagi Dunia
Pagi ini saya mulai berbenah kamar. Lebih tepatnya, menyusun kardus-kardus yang belum saya sortir, mana yang layak masuk kamar, mana yang perlu dibuang. Tapi sepertinya saya kehilangan energi. Saya putuskan tidak mensortir barang, tapi semua barang saya masukkan ke dalam kardus.
Toh, saya mau pindah rumah 3-4 bulan lagi. Dan empat bulan bukan waktu yang panjang bukan?
Ada enam kardus. Semuanya saya beri nama dan angka plus isi kardus. Ada enam kardus jumlahnya. Dan saya baru menyadari bahwa enam kardus itu berisi buku dan majalah. Gile...bagaimana mungkin akan dibuang?. Book is my life. Sahabat saya ketika saya kesepian, sahabat saya di perjalanan, sahabat ketika antri di rumah sakit, antri bank. Dan paling penting, buku-buku ini seperti impian saya berpuluh tahun lalu, akan menjadi koleksi perpustakaan pribadi.
Hemm...buat saya, hidup tanpa membaca seperti pacaran tanpa pernah berpagutan...hihiihihi.
Oke...saya putuskan mulai hari ini, hidup 2012 saya di mulai. Bukan pada tahun baru ketika tubuh saya lemah karena muntah-muntah dan lemas selama beberapa hari.
Selamat tinggal masa lalu. Saya tak akan menyisakan setitik pun untuk kenangan. Hari ini selalu tidak sama dengan kemarin. So...Mari, Bernada...kita buat lompatan besar.
Waktunya berkarya untuk dunia. Done...Publish
Yeah
5 Januari 2012 pukul 10.56
Gedung Pusat UGM
Toh, saya mau pindah rumah 3-4 bulan lagi. Dan empat bulan bukan waktu yang panjang bukan?
Ada enam kardus. Semuanya saya beri nama dan angka plus isi kardus. Ada enam kardus jumlahnya. Dan saya baru menyadari bahwa enam kardus itu berisi buku dan majalah. Gile...bagaimana mungkin akan dibuang?. Book is my life. Sahabat saya ketika saya kesepian, sahabat saya di perjalanan, sahabat ketika antri di rumah sakit, antri bank. Dan paling penting, buku-buku ini seperti impian saya berpuluh tahun lalu, akan menjadi koleksi perpustakaan pribadi.
Hemm...buat saya, hidup tanpa membaca seperti pacaran tanpa pernah berpagutan...hihiihihi.
Oke...saya putuskan mulai hari ini, hidup 2012 saya di mulai. Bukan pada tahun baru ketika tubuh saya lemah karena muntah-muntah dan lemas selama beberapa hari.
Selamat tinggal masa lalu. Saya tak akan menyisakan setitik pun untuk kenangan. Hari ini selalu tidak sama dengan kemarin. So...Mari, Bernada...kita buat lompatan besar.
Waktunya berkarya untuk dunia. Done...Publish
Yeah
5 Januari 2012 pukul 10.56
Gedung Pusat UGM
Senin, 02 Januari 2012
Semua pasti berlalu
Apa kabar tahun baru. Malam tahun baru tahun ini kulalui dengan sedih dan gembira. Aku seperti kehilangan cahaya. tapi seperti motto dalam hidupku. Semua hal pasti akan berlalu. Jadi, begitulah. Tidak perlu cemas bukan?
Senin, 19 Desember 2011
Kangen
Kangen nge-blog, tapi ndak punya waktu buat nulis. Sepertinya sampai awal tahun depan blog-ku bakal ndak terisi. Hiks :(
Kangen bbm-an juga ndak punya waktu nggambleh.
arrrrgggggg....kenapa ya waktu cuma 24 jam saja.
Kangen bbm-an juga ndak punya waktu nggambleh.
arrrrgggggg....kenapa ya waktu cuma 24 jam saja.
Rabu, 14 Desember 2011
Melancong Ke Luar Negeri, Jika....
Akhir-akhir ini biro travel jor-joran pasang tarif murah terbang ke luar negeri dan menjual paket-paket murah. Tak mengherankan, masyarakat kita berbondong-bondong ke negara jiran Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Belakangan negara Eropa dan paket wisata rohani ke Jerusalem, juga kian laris manis.
Sah-sah saja sih ke luar negeri. Apalagi pengalaman adalah guru paling berharga. Membuka wawasan membuat seseorang terhindar dari hidup bagaikan katak dalam tempurung. Jika tak ada seseorng yang nendang batok si katak, maka dia tak akan pernah melihat dunia yang begitu berwarna.
Namun jika saya boleh berbagi, alangkah eloknya jika kita merambah dunia luar setelah mencicipi Indonesia yang kaya budaya, bahasa, dan tentu panorama indahnya. Negara kita yang cantik ini tak cuma punya Bali lho.
Ada Padang yang alamnya cantik nian, Tana Toraja yang indah, unik, dan eksotik. Juga Papua, Aceh, dan Lombok yang lautnya begitu biru, bersih, gugusan pulau dimana-mana. Bunaken yang alamakjan pemandangan bawah lautnya sungguh memanjakan mata. Atau Bangka yang pasirnya putih bersih dengan lautnya yang biru belum tercemar. Tak usah jauh-jauh ke pulau-pulau luar, Gunung Kidul di DIY saja, memiliki karst yang hemmmm...elok nian. Belum lagi gua-gua dengan stalaktit stalakmitnya.
Saya lebih bangga mengunjungi Indonesia dari Sabang sampai Merauke ketimbang mengunjungi Singapur atau Malaysia yang miskin sekali pemandangannya. Jika kita saja belum mengenal Indonesia secara utuh, bagaimana mungkin kita bisa bilang luar negeri lebih bagus? Melancong ke saudara kita di kepulauan lain berarti juga ikut menyejahterakan kehidupan masyarakat setemat bukan? Jika kita saling mengunjungi satu sama lain, maka uang jatuhnya ke kita-kita juga bukan?
Jadi, yuk, melancong ke Indonesia dulu. Baru ke luar negeri :)
Yogyakarta, 15 Desember 2011
Sah-sah saja sih ke luar negeri. Apalagi pengalaman adalah guru paling berharga. Membuka wawasan membuat seseorang terhindar dari hidup bagaikan katak dalam tempurung. Jika tak ada seseorng yang nendang batok si katak, maka dia tak akan pernah melihat dunia yang begitu berwarna.
Namun jika saya boleh berbagi, alangkah eloknya jika kita merambah dunia luar setelah mencicipi Indonesia yang kaya budaya, bahasa, dan tentu panorama indahnya. Negara kita yang cantik ini tak cuma punya Bali lho.
Ada Padang yang alamnya cantik nian, Tana Toraja yang indah, unik, dan eksotik. Juga Papua, Aceh, dan Lombok yang lautnya begitu biru, bersih, gugusan pulau dimana-mana. Bunaken yang alamakjan pemandangan bawah lautnya sungguh memanjakan mata. Atau Bangka yang pasirnya putih bersih dengan lautnya yang biru belum tercemar. Tak usah jauh-jauh ke pulau-pulau luar, Gunung Kidul di DIY saja, memiliki karst yang hemmmm...elok nian. Belum lagi gua-gua dengan stalaktit stalakmitnya.
Saya lebih bangga mengunjungi Indonesia dari Sabang sampai Merauke ketimbang mengunjungi Singapur atau Malaysia yang miskin sekali pemandangannya. Jika kita saja belum mengenal Indonesia secara utuh, bagaimana mungkin kita bisa bilang luar negeri lebih bagus? Melancong ke saudara kita di kepulauan lain berarti juga ikut menyejahterakan kehidupan masyarakat setemat bukan? Jika kita saling mengunjungi satu sama lain, maka uang jatuhnya ke kita-kita juga bukan?
Jadi, yuk, melancong ke Indonesia dulu. Baru ke luar negeri :)
Yogyakarta, 15 Desember 2011
Tentang "Musuh"
Beberapa hari ini saya tergelitik dengan kata musuh. Entah musuh dalam selimut, musuh boongan, atau musuh beneran. Siapa yang pernah musuhan? Atau kalaupun bukan musuh siapa yang pernah tidak disukai orng entah tanpa sebab atau karena alasan tertentu? Kalau belum saya acungi jempol. Seringkali musuh dianggap duri dalam daging. Kita bisa tidak nyenyak tidur, memikirkan perkataan-perkataannya atau sesuatu yang dilakukannya. Atau bisa pula ingin balas dendam karena tak terima dengan yang mereka lakukan. Padahal musuh atau orang yang tak menyukai kita, bukan tak berperan untuk penyadaran batin kita lo.
Saya teringat, ketika dai kondang Aa Gym ketika masih ngetop, memberi siraman rohani di salah satu televisi nasional. Topiknya tentang musuh. Terus terang saya masih ingat dengan baik siraman rohani yang cuma berlangsung beberapa menit saja dan ingin saya bagikan di sini. Mungkin tak persis sama, karena saya menggunakan bahasa saya sendiri dan beberapa hal memberikan penambahan di sana sini tanpa mengurangi maksud dan tujuannya.
Dalam siraman rohani itu, dia menyampaikan kita pasti akan berhadapan dengan musuh atau orang yang tidak menyukai kita. Tentu musuh atau orang yang tidak menyukai itu akan melontarkan hal-hal buruk tentang kita ketika berinteraksi dengan mereka. Pasti, kita akan sakit hati ketika mendengarnya. Padahal, menurut Aa Gym, pernyataan, ucapan, lontaran musuh atau orang yang tidak menyukai kita tak selamanya jelek bagi penyadaran diri kita. Mengapa? Karena, orang yang paling jujur menilai kepribadian kita apa adanya, justru biasanya musuh atau orang yang tidak menyukai kita.
Kalau kita punya sahabat, apalagi seiring senada, cenderung sungkan, enggan terus terang, mengatakan apa adanya tentang kita. Umumnya mereka hanya mengatakan hal yang baik-baik saja tentang kita. Bahkan kerapkali ketika jalan kita melenceng pun, dibiarkan saja. Tanpa disadari persahabatan yang tak jujur justru menjerumuskan sahabatnya ke dalam jurang kehancuran.
Seorang musuh atau orang yang tidak menyukai kita karena merasa benci, sebal, dendam, pada kita, maka cenderung akan melontarkan kekurangan-kekurangan kita. Semua yang jelek tentang kita dimuntahkan seperti peluru.
Biasanya begitu sang musuh mengatakan sesuatu tentang kita, maka kita akan marah dan berupaya membalas. Itu manusiawi. Tetapi jika kita merenungkan dan menyadari kembali ucapan musuh tadi, bisa jadi marah kita akan tertunda. Jangan-jangan apa yang mereka sampaikan ada benarnya.
Nah, kadang-kadang peran "musuh" memang dibutuhkan, untuk meneliti batin kita kembali dan mengajak kita masuk ke dalam diri. Bukankah kita seringkali sibuk dengan orang lain, bukannya diri kita? Benarkah yang mereka sampaikan itu? Karena bukankah kita dalam interaksi dengan orang lain kerapkali tidak menyadari batin kita bermasalah dan merugikan orang lain tanpa kita sadari?
Dengan keikhlasan, rendah hati, serta menyadari batin inilah, maka justru suatu saat kita akan merasa berterimakasih dengan "musuh" atau seseorang yang tidak menyukai kita karena telah memberikan penilaian tentang kita jujur, apa adanya. Justru penilaian jujur itu bukan dari sahabat yang kita sayangi. Musuh atau orang yang tak menyukai kita, selalu ada untuk menjaga terus kesadaran kita yang kerap kali "bablas". Melalui salah satu "musuh" inilah "eling" atau sadar itu bersama kita. Sehingga ketika tercerahkan, kita tak lagi menganggap musuh sebagai "musuh". Salam sadar setiap setiap.
Semoga bermanfaat untuk saya dan teman-teman.
Yogyakarta, 19 November 2011
Saya teringat, ketika dai kondang Aa Gym ketika masih ngetop, memberi siraman rohani di salah satu televisi nasional. Topiknya tentang musuh. Terus terang saya masih ingat dengan baik siraman rohani yang cuma berlangsung beberapa menit saja dan ingin saya bagikan di sini. Mungkin tak persis sama, karena saya menggunakan bahasa saya sendiri dan beberapa hal memberikan penambahan di sana sini tanpa mengurangi maksud dan tujuannya.
Dalam siraman rohani itu, dia menyampaikan kita pasti akan berhadapan dengan musuh atau orang yang tidak menyukai kita. Tentu musuh atau orang yang tidak menyukai itu akan melontarkan hal-hal buruk tentang kita ketika berinteraksi dengan mereka. Pasti, kita akan sakit hati ketika mendengarnya. Padahal, menurut Aa Gym, pernyataan, ucapan, lontaran musuh atau orang yang tidak menyukai kita tak selamanya jelek bagi penyadaran diri kita. Mengapa? Karena, orang yang paling jujur menilai kepribadian kita apa adanya, justru biasanya musuh atau orang yang tidak menyukai kita.
Kalau kita punya sahabat, apalagi seiring senada, cenderung sungkan, enggan terus terang, mengatakan apa adanya tentang kita. Umumnya mereka hanya mengatakan hal yang baik-baik saja tentang kita. Bahkan kerapkali ketika jalan kita melenceng pun, dibiarkan saja. Tanpa disadari persahabatan yang tak jujur justru menjerumuskan sahabatnya ke dalam jurang kehancuran.
Seorang musuh atau orang yang tidak menyukai kita karena merasa benci, sebal, dendam, pada kita, maka cenderung akan melontarkan kekurangan-kekurangan kita. Semua yang jelek tentang kita dimuntahkan seperti peluru.
Biasanya begitu sang musuh mengatakan sesuatu tentang kita, maka kita akan marah dan berupaya membalas. Itu manusiawi. Tetapi jika kita merenungkan dan menyadari kembali ucapan musuh tadi, bisa jadi marah kita akan tertunda. Jangan-jangan apa yang mereka sampaikan ada benarnya.
Nah, kadang-kadang peran "musuh" memang dibutuhkan, untuk meneliti batin kita kembali dan mengajak kita masuk ke dalam diri. Bukankah kita seringkali sibuk dengan orang lain, bukannya diri kita? Benarkah yang mereka sampaikan itu? Karena bukankah kita dalam interaksi dengan orang lain kerapkali tidak menyadari batin kita bermasalah dan merugikan orang lain tanpa kita sadari?
Dengan keikhlasan, rendah hati, serta menyadari batin inilah, maka justru suatu saat kita akan merasa berterimakasih dengan "musuh" atau seseorang yang tidak menyukai kita karena telah memberikan penilaian tentang kita jujur, apa adanya. Justru penilaian jujur itu bukan dari sahabat yang kita sayangi. Musuh atau orang yang tak menyukai kita, selalu ada untuk menjaga terus kesadaran kita yang kerap kali "bablas". Melalui salah satu "musuh" inilah "eling" atau sadar itu bersama kita. Sehingga ketika tercerahkan, kita tak lagi menganggap musuh sebagai "musuh". Salam sadar setiap setiap.
Semoga bermanfaat untuk saya dan teman-teman.
Yogyakarta, 19 November 2011
Pagi
Mataku terbuka
Kulihat langit biru
Kurasakan angin menyentuh pipiku
damai...
Kunikmati keindahan alam itu
dari balik jendela kamarku
tapi mulai besok
semua kutinggalkan
Pagiku akan berbeda
Tapi aku percaya
semua kedamaian punya cara sendiri
untuk menyapaku, dimanapun tempatnya
Yogyakarta, 15 Desember 2011
Kulihat langit biru
Kurasakan angin menyentuh pipiku
damai...
Kunikmati keindahan alam itu
dari balik jendela kamarku
tapi mulai besok
semua kutinggalkan
Pagiku akan berbeda
Tapi aku percaya
semua kedamaian punya cara sendiri
untuk menyapaku, dimanapun tempatnya
Yogyakarta, 15 Desember 2011
Langganan:
Postingan (Atom)