Senin, 24 September 2012

Hongkong Pada Suatu Siang







Aneh Nggak, Sih Saya Kagok Menulis


Sudah lama banget saya nggak menulis. Aneh nggak, sih kalau saya kagok menulis. Mengutip sebuah iklan, mana ...mana actionnya? Saya banyak bergerak, tapi menulis justru tengah tumpul. Hiks :(

Bukannya tidak ada yang perlu diceritakan. Cerita saya justru buanyak. Tapi mulai dari mana ya? Ada yang punya usul?


Yogyakarta, 24 September 2012

Rabu, 08 Agustus 2012

Lurik

Sudah tujuh tahun ini saya berkutat dengan lurik. Rajin membeli bahan lurik dan memakainya untuk baju, dompet, tas dan lain-lain. Belakangan lantaran banyak teman yang tertarik,  saya memproduksi dalam jumlah banyak dan menjualnya.

Lurik jaman dulu jelas berbeda dengan lurik sekarang. Dulu pakem warnanya itu-itu saja. Suram,  muram dan menunjukkan kelas bagi abdi dalem yang memakainya. Lain abdi dalem,  lain anak raja atau raja yang mengenakannya. Corak dan warna memiliki  arti yang berbeda. Misalnya, lurik gerimis warna hitam, biasanya dikenakan raja ketika tengah berduka.

Lurik warna biru dikenakan para abdi dalem untuk kelas tertentu. Tapi lurik sekarang warnanya ngejreng nyeter dan lebih meriah. Jaman rupanya membuat pengrajin lurik bertoleransi dengan perubahan jaman. Orang muda bagaimanapun   menjadi pasar yang perlu dilirik pada era sekarang.

Pada tahun 70-an lurik pernah berjaya.  Pengrajin bergairah karena permintaan pasar meningkat. Tercatat di kawasan Krapyak ada 80-an pengrajin lurik tenun yang menggantungkan mata pencaharian mereka dari tenun benang buatan tangan manusia ini. Industrialisasi sekitar tahun 1980 memukul pasar lurik.Mesin pengganti tenaga manusia lebih laku karena murah harganya.



Di kawasan Krapyak itu, dari 80-an pengrajin, tinggal satu yang bisnis lurik-nya masih berdetak. Itupun membayar pengrajinnya dengan ongkos yang sangat murah. Saya sampai tercekat ketika si pengrajin mengaku cumamendapat gaji Rp  488.000 sekitar lima tahun lalu. Waduh. Kok tega ya pemiliknya?Cerita punya cerita, lurik tenun ini mampu bertahan lantaran satu sekolah yakni SMA Tarakanita dan keraton Yogyakarta memesan di sini. Wah, saya jadi berpikir, kalau beberapa sekolah saja memesan lurik di sini, tentu bukan tak mungkin jika akan ada pabrik tenun yang memulai usahanya kembali.

Syukurlah sekitar tiga tahun ini, pengrajin lurik mulai berdetak. Meski mereka menjual dengan harga sangat mahal. Saya memilih menjual tak terlalu mahal, agar ada multiple efeknya. Makin laris, makin ada permintaan. Dengan demikian, pengusaha lurik yang dulu ambruk bisa membuka kembali pabriknya. Apakah mungkin ya? Nah kalau kalian mau lurik tenun ini menjadi aset bangsa. Yuk, membeli lurik.


Yogyakarta, tulisan lama tapi belum diposting.

Sekitar sebulan lalu.


Senin, 16 Juli 2012

Panitia Meditasi

Sebulan ini saya menjadi panitia penyelenggaraan meditasi di Muntilan, Magelang. Panitianya ya cuma saya sendiri. Wong tugasnya ringan. Cuma menerima telepon dari peserta yang ingin ikut, mengirim dan menjawab SMS, mengirimkan email formulir pendaftaran kecalon peserta,  menerima kembali formulir, mencatat siapa yang akan hadir, lalu mengirimkan semua resume kepada pembimbing meditasi, Romo Sudrijanta.

Saya tidak merasa terbebani atau merasa kerepotan. Seperti orang bernafas saja. Otomatis mengirup udara lalu mengeluarkannya. Sampai H-5, peserta sudah mencapai 35. Not bad-lah, mengingat persiapan cuma sebulan kurang. Bisa jadi saya tak terlalu kerepotan lantaran sejak tiga tahun terakhir ini, saya menjadi peserta retret. Jadi sudah tahu gambarannya seperti apa.

Jujur saja, dulu saya kerap ada dalam kepanitiaan berbagai kegiatan. Seminar nasional, retret, acara tahun baru dll. Saking banyaknya saya sampai lupa.  Tapi dulu kayaknya repot banget, sampai lupa waktu, rapat sampai malam hingga dini hari. Tapi hasilnya ya begitu-begitu saja tuh. 

Pada saat bersamaan ini,  saya juga mengadakan arisan beberapa grup. Mengumpulkan dana, menghubungi teman-teman. Herannya kok juga tidak merasa terbebani. Jawabannya, saya memang suka melakukannya dan berada dalam kesadaran. Tidak merasa terbebani. Jadi enjoy saja. 


Yogyakarta, 17 Juli 2012

Pukul 10.53

Selasa, 10 Juli 2012

Jalan kaki dan belanja


kampanye jalan kaki di jogja

Setelah renang, senam, dan jogging, saya dan teman Ela mulai mengaktifkan kaki untuk aktifitas radius  1 kilometer. Kami memulai jalan kaki untuk membeli keperluan belanja. Luma yan  jauh jaraknya. Kira-kira sekilo jauhnya. Jadi pulang pergi dua kilometer. Selain berkeringat, tubuh ini rasanya segar.

Hari-hari sebelumya, kami kemana-mana naik motor. Makan yang jaraknya cuma 300 meter saja kami naik motor. Ada beberapa alasan kami menggunakan kaki. Pertama, dengan naik motor maka  kami telah menyumbang polusi udara. Kedua, boros menggunakan bahan bakar minyak. Menurut data (saya lupa sumbernya), Indonesia cuma punya cadangan minyak mentah  tinggal 23 tahun lagi. Tidak ada salahnya bukan kalau mulai melatih diri berhemat sampai akhirnya negeri ini benar-benar kehabisan cadangan minyak. Ketiga, ini yang menurut kami paling penting, alasan kesehatan. Berjalan kaki menggerakkan hampir seluruh badan. Badan rasanya segar.


Begitu jalan jauh, terasa badan ini lebih lentur. Punggung saya yang biasanya sakit, juga lumayan membaik. Kenapa nggak dari dulu-dulu saya praktekkan ya. Yang paling penting dari semuanyaadalah semoga kami berdua konsisten. Bukan hangat-hangat tai pitik hehhe.

Yogyakarta, 10 Juli 2012

Minggu, 08 Juli 2012

Puding Pepaya

Pernah lihat pepaya didalamnya ada puding?.Wah rasanya enak banget. Saya bisa bikin pudding, tapi yang dikombinasi dengan pepaya belum pernah tahu. Saya temukan puding berbalut pepaya ini di sebuah pesta rakyat Solo. Pesta rakyatnya sederhana. Di sebuah lapangan besar, pengunjung tak begitu berjubel, tapi variasi barang yang ditawarkan beraneka ragam. 

Saya memang paling doyan mendatangi pesta rakyat semacam ini. Pertama, saya rakyat biasa. Kedua, saya bisa mengetahui kreatifitas masyarakat Indonesia dalam  menciptakan ide baru dalam hal  camilan, baju-baju, batik, asesoris.  Ketiga, saya bisa menyantap makanan di sana, sembari ngobrol dengan pemiliknya. Tanya ini, tanya itu. Interaksi semacam ini sungguh mengasyikkan. Ada kekeluargaan di sana, tidak kaku.  Serasa lebih membumi.  Kami antara penjual dan pembeli bisa saling menyapa,  ngobrol ngalur ngidul tentang banyak hal. Pokoknya  asyik ciamik.


Puding pepaya itu dijual sangat murah,  Rp 1500 yang ukuran kecil. Untuk ukuran besarnya,  Rp 2500. Mengapa saya bilang murah? Karena rasa enak yang diberikan tak sebanding dengan harganya. Jadi saya bilang terlalu murah.  Pudingnya warna hijau dengan tambahan santan. Puding jadi tidak begitu enek karena dibaluti pepaya.

Begitu luar biasanya Indonesia ini. Makanan apa saja bisa ditemukan dan dijadikan macam-macam makanan yang punya nilai jual. Tapi dengan kekayaan yang dimiliki ini, kenapa negara ini masih miskin ya? Ah sudahlah...membahas negara miskin dan segala permasalahannya, malah bikin puding jadi tak enak. Mari kita bicara puding saja. :)


Selagi menjajal puding pepaya, pemilik lapak menawari saya minuman teh. "Dijamin enak mbak, tehnya  sangat lain," kata dia. Tuh kan, nongkrong itu bisa kemana-mana dapetnya. Ya ilmu, kenalan baru, dan sajian teh. Saya penasaran. Teh bukannya rasanya begitu-begitu saja. Saya pun menerima satu cangkir teh itu. Begitu saya coba. Alamakjan. Sepertinya itu teh terenak yang pernah saya cicipi  selama ini, deh. Mau tahu rahasianya? Dengan sedikit membujuk, saya minta rahasia teh enak itu. Ternyata ada empat merk teh yang di oplos menjadi satu. Nah, oplosannya apa, "Itu rahasia," kata si ibu. Oke baiklah. Minimal saya cukup tahu sebagian kecil rahasianya. Jadi akan saya praktekkan di rumah.

Entah kenapa dari dulu saya punya mimpi punya restoran sendiri. Siapa tahu ilmu yang saya peroleh hari itu  kelak ada manfaatnya.Misalnya, bisa mencipta teh dengan rasa terbaik hehehe.

Begitu  pulang ke rumah,  ada semangat baru untuk membuat karya. Kalau mereka punya ide segudang, apa ya yang bisa kubuat untuk Indonesiaku. Minimal saya melakukannya untuk siapa saja yang membaca tulisan ini. Iya kan? Hehehe



Yogyakarta, 9 Juli 2012


Puku; 11.33