Berita itu saya baca tadi siang. Bunyinya cukup mengejutkan. "Tanpa Rusia, kami bisa bekerja," kata Kepala Rumah Sakit Kepolisian Raden Said Sukanto, Brigadir Jenderal Agus Prayitno. "Kami sudah berpengalaman seperti kemarin, tenggelamnya kapal Trenggalek. Tim DNA kami sudah expert," tambahnya. Berita selengkapnya ada di http://www.tempo.co/read/news/2012/05/19/078404774/DVI-Tanpa-Tim-Rusia-Kami-Bisa-Bekerja
Saya mengernyitkan dahi ketika membaca ini. Apa yang melatarbelakangi Indonesia dalam hal ini tim DVI mengeluarkan pernyataan itu? Sebelumnya, pemerintah Indonesia telah membantah "saling sikut" antara Rusia dan Indonesia dalam mengidentifikasi korban Shukoi.
Jelas, pernyataan semacam itu bukan diplomasi yang smooth dalam konteks hubungan antar negara. Padahal biasanya Indonesia cukup hati-hati melontarkan pernyataan. Kok, kali ini "kebablasan"? Tanda tanya terjawab sudah. Siang tadi Rusia memberikan keterangan pers kepada wartawan. Media menerima undangan ini kemarin malam. Bunyinya: “Pihak Rusia akan mengirimkan ke Indonesia reagen kimia yang diperlukan
membantu pelaksanakan kerja bersama pada identifikasi korban kecelakaan."
Apakah pernyataan ini dibuat karena pihak Indonesia sudah mencium rencana ini, yang seolah-olah meremehkan kemampuan Indonesia? Lihat :
http://www.tempo.co/read/news/2012/05/19/058404782/Dalam-Sejam-Rusia-3-Kali-Ralat-Rencana-Konferensi-Pers
Dan mengapa Indonesia cukup berani menyampaikan pernyataan ini? Saya cuma menduga-duga saja. Sudah mahfum bahwa kiblat Indonesia lebih condong ke Amerika. Dan dalam konsteks hubungan bisnis, rencana pembelian 30 shukoi superjet 100 tentu juga bukan uang sedikit untuk Rusia yang tengah menghidupkan industri pesawat penerbangan mereka yang pernah berjaya . Rusia butuh duit, Indonesia butuh pesawat. Jadi, ada simbiosis mutualisme di sana. Tak heran Indonesia "jual mahal" dan emoh diremehkan.
Jadi, kita tunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Saya sih yakin, cerita Shukoi masih akan berbuntut panjang. Setelah korban teridentifikasi, penguburan jenasah, kisah Shukoi akan banyak mengejutkan publik. Akan ada temuan-temuan yang mengejutkan pastinya.
Yogyakarta, 19 Mei 2012
08.08 PM
Sabtu, 19 Mei 2012
Jumat, 18 Mei 2012
Irshad Manji
Seorang teman, dia dosen sekaligus feminis bercerita pada saya. Empat tahun lalu, dia ada dalam diskusi bersama Manji di Pesantren Krapyak. Sebelumnya Mandji sudah ke UGM. Tidak ada ribut-ribut kala itu. Pula tiada FPI. Semua baik-baik saja, mengutip judul lagu Duo Ratu.
Tak ada yang berubah dengan ide dasar yang ditawarkan Manji. "Soal lesbian, soal beriman tanpa rasa takut, sudah dia sampaikan," kata kandidat doktor teman saya ini. Waktu itu kedatangan Mandji promosi untuk bukunya "Beriman Tanpa Takut" yang merupakan buku pertamanya. "Kenapa empat tahun kemudian, bisa seribut ini ya," bertanya-tanya teman ini.
Seperti kita ketahui, FPI membubarkan diskusi di Salihara. Rektor UGM menolak diskusi meskipun empat tahun sebelumnya menerima Mandji. Diskusi bahkan berakhir ricuh di LKiS. Peserta diskusi dan asisten Mandji luka-luka karena diserang kelompok yang menamakan MMI. Diduga MMI dan organisasi Islam lain yang membubarkan acara diskusi buku ini. Penolakan utama mereka, Irshad yang seorang lesbian dinilai memberikan pengaruh buruk untuk Indonesia. Baca juga http://www.tempo.co/read/news/2012/05/04/064401803/Alasan-FPI-Protes-Diskusi-Buku-Salihara
Sebagai mayoritas Muslim terbesar di dunia, kita semua kaget.Seolah-olah wajah Islam begitu keras. Padahal dia tak mewakili sebagian besar masyarakat Muslim. Apa iya itu suara mayoritas Muslim di Indonesia yang lekat dengan kekerasan? Saya tidak yakin.
Saya mencoba menarik benang merah dari peristiwa empat tahun lalu dan sekarang. Pada awal kedatangannya ke Indonesia, perempuan keturunan India-Mesir ini memberikan puja puji. Bahkan puja puji dia sampaikan dalam buku, Allah, Liberty, and Love. Di awal kedatangannya, Manji menyampaikan bahwa Indonesia adalah contoh negara yang toleransinya bagus dan cocok untuk Indonesia yang multikultural.
Tapi menarik juga bahwa setelah mengalami serangan bertubi-tubi itu, akhirnya dia memberikan rilisnya bahwa toleransi di Indonesia sudah berubah. Ada premis major dan kesimpulannya begitu mudah dilakukan. Karena memang kenyataannya demikian. Kekerasan dan penyerangan terhadapnya terjadi. Lihat dan baca pernyataan Manji pasca kedatangannya 4 tahun lalu ke Indonesia.
http://www.tempo.co/read/news/2012/05/10/063402916/Irshad-Manji-Mereka-Pengecut dan http://www.tempo.co/read/news/2012/05/10/063402908/Irshad-Manji-Toleransi-di-Indonesia-Sudah-Berubah
http://www.tempo.co/read/news/2012/05/10/058402855/Irshad-Manji-Syok-Islam-Tak-Seperti-Ini-
Apakah kejadian ini memang sudah "terencana" sejak empat tahun lalu. Bisa Manji menjadi bagiannya, atau dia sekedar alat. Begitu juga FPI, MMI ataupun siapapun organisasi itu. Siapa "bermain" di sini. Saya tak ingin membesarkan kekerasan FPI itu sendiri atau lesbianisme-nya. Jelas saya tidak pernah menyetujui kekerasan. Justru ada yang lebih besar dari sekedar isu lesbianisme dan kekerasan FPI, menyangkut Indonesia. Mosok sih, seorang Mandji bisa sedemikian hebatnya?
Sepertinya sentimen agama atau yang berbau "miring' tentang lesbianisme, gay dicekoki oleh "sesuatu" yang saya cuma bisa menduga-duga untuk membuat masyarakat Indonesia menghabiskan energi untuk ini. Ketidakstabilan negara terus berlangsung. Cap buruk Indonesia sebagai negara yang menyuburkan radikalisme akan mendunia. Iklim investasi akan buruk akibat radikalisme dll.
Sudah jamak saya mendengar celetukan ini. "Pantesan negara kita ini nggak maju-maju karena cuma ribut soal agama melulu." "Lihat negara-negara maju yang sekuler dan kebanyakan orangnya tak beragama seperti Jepang, rakyatnya sejahtera, lebih maju, lebih berabad, dan cukup bersih dari korupsi. Mereka benar-benar memisahkan agama dalam sendi kehidupan mereka."
Indonesia adalah pasar besar karena penduduknya besar. Negara-negara maju jelas punya kepentingan besar agar Indonesia terus "menyusu" pada mereka. Berpikir sejahtera, menjadi negara mandiri, sudah barang tentu tidak akan disukai oleh mereka yang berkepentingan dengan Indonesia. Tapi masalahnya masyarakatnya sendiri lebih suka "ribut" atau gampang tersentil dengan persoalan agama yang selalu disikapi dengan sensitif. Bahkan membuang waktu. Kaum inteletual, para terpelajar masih saja sibuk "jualan" surga adalah monopoli agama tertentu, haram atau halal mengucapkan ucapan selamat bagi umat lain yang merayakan hari keagamaan masih laris manis dan diyakini betul oleh pemeluknya, melarang tempat beribadah bagian dari cara mereka untuk menekan agar agama lain tak berkembang secara kuantitas. Begitu saja terus berlangsung selama bertahun-tahun di negeri ini.
Ironisnya, persoalan kesejahteraan, kemiskinan yang membelit, dan korupsi yang menyangkut akar masalah di Indonesia justru terabaikan. Semua saling tunjuk jari, menyalahkan orang lain. Padahal semua bisa di mulai dari sendiri. Dengan cara sederhana, atau terorganisir. Tapi bagi sebagian orang diam itu emas. Nah, kalau sudah begitu, apakah rela negeri yang kita cintai ini, Indonesia terus-terusan terpuruk.Globalisme sudah di depan mata. Jangan-jangan ketika globalisme sudah terjadi di depan mata kita, masyarakatnya tidak siap, maka cuma jadi penonton di negerinya sendiri. Maukah kita terus-terusan begini?
Sebagai referensi lihat pula tulisan Ade Armando, pengamat media tentang kekerasan agama yang berlangsung belakangan ini.
http://adearmando.wordpress.com/2012/05/16/waisak-manji-lady-gaga-dan-ancaman-muslim-brutal/
Tak ada yang berubah dengan ide dasar yang ditawarkan Manji. "Soal lesbian, soal beriman tanpa rasa takut, sudah dia sampaikan," kata kandidat doktor teman saya ini. Waktu itu kedatangan Mandji promosi untuk bukunya "Beriman Tanpa Takut" yang merupakan buku pertamanya. "Kenapa empat tahun kemudian, bisa seribut ini ya," bertanya-tanya teman ini.
Seperti kita ketahui, FPI membubarkan diskusi di Salihara. Rektor UGM menolak diskusi meskipun empat tahun sebelumnya menerima Mandji. Diskusi bahkan berakhir ricuh di LKiS. Peserta diskusi dan asisten Mandji luka-luka karena diserang kelompok yang menamakan MMI. Diduga MMI dan organisasi Islam lain yang membubarkan acara diskusi buku ini. Penolakan utama mereka, Irshad yang seorang lesbian dinilai memberikan pengaruh buruk untuk Indonesia. Baca juga http://www.tempo.co/read/news/2012/05/04/064401803/Alasan-FPI-Protes-Diskusi-Buku-Salihara
Sebagai mayoritas Muslim terbesar di dunia, kita semua kaget.Seolah-olah wajah Islam begitu keras. Padahal dia tak mewakili sebagian besar masyarakat Muslim. Apa iya itu suara mayoritas Muslim di Indonesia yang lekat dengan kekerasan? Saya tidak yakin.
Saya mencoba menarik benang merah dari peristiwa empat tahun lalu dan sekarang. Pada awal kedatangannya ke Indonesia, perempuan keturunan India-Mesir ini memberikan puja puji. Bahkan puja puji dia sampaikan dalam buku, Allah, Liberty, and Love. Di awal kedatangannya, Manji menyampaikan bahwa Indonesia adalah contoh negara yang toleransinya bagus dan cocok untuk Indonesia yang multikultural.
Tapi menarik juga bahwa setelah mengalami serangan bertubi-tubi itu, akhirnya dia memberikan rilisnya bahwa toleransi di Indonesia sudah berubah. Ada premis major dan kesimpulannya begitu mudah dilakukan. Karena memang kenyataannya demikian. Kekerasan dan penyerangan terhadapnya terjadi. Lihat dan baca pernyataan Manji pasca kedatangannya 4 tahun lalu ke Indonesia.
http://www.tempo.co/read/news/2012/05/10/063402916/Irshad-Manji-Mereka-Pengecut dan http://www.tempo.co/read/news/2012/05/10/063402908/Irshad-Manji-Toleransi-di-Indonesia-Sudah-Berubah
http://www.tempo.co/read/news/2012/05/10/058402855/Irshad-Manji-Syok-Islam-Tak-Seperti-Ini-
Apakah kejadian ini memang sudah "terencana" sejak empat tahun lalu. Bisa Manji menjadi bagiannya, atau dia sekedar alat. Begitu juga FPI, MMI ataupun siapapun organisasi itu. Siapa "bermain" di sini. Saya tak ingin membesarkan kekerasan FPI itu sendiri atau lesbianisme-nya. Jelas saya tidak pernah menyetujui kekerasan. Justru ada yang lebih besar dari sekedar isu lesbianisme dan kekerasan FPI, menyangkut Indonesia. Mosok sih, seorang Mandji bisa sedemikian hebatnya?
Sepertinya sentimen agama atau yang berbau "miring' tentang lesbianisme, gay dicekoki oleh "sesuatu" yang saya cuma bisa menduga-duga untuk membuat masyarakat Indonesia menghabiskan energi untuk ini. Ketidakstabilan negara terus berlangsung. Cap buruk Indonesia sebagai negara yang menyuburkan radikalisme akan mendunia. Iklim investasi akan buruk akibat radikalisme dll.
Sudah jamak saya mendengar celetukan ini. "Pantesan negara kita ini nggak maju-maju karena cuma ribut soal agama melulu." "Lihat negara-negara maju yang sekuler dan kebanyakan orangnya tak beragama seperti Jepang, rakyatnya sejahtera, lebih maju, lebih berabad, dan cukup bersih dari korupsi. Mereka benar-benar memisahkan agama dalam sendi kehidupan mereka."
Indonesia adalah pasar besar karena penduduknya besar. Negara-negara maju jelas punya kepentingan besar agar Indonesia terus "menyusu" pada mereka. Berpikir sejahtera, menjadi negara mandiri, sudah barang tentu tidak akan disukai oleh mereka yang berkepentingan dengan Indonesia. Tapi masalahnya masyarakatnya sendiri lebih suka "ribut" atau gampang tersentil dengan persoalan agama yang selalu disikapi dengan sensitif. Bahkan membuang waktu. Kaum inteletual, para terpelajar masih saja sibuk "jualan" surga adalah monopoli agama tertentu, haram atau halal mengucapkan ucapan selamat bagi umat lain yang merayakan hari keagamaan masih laris manis dan diyakini betul oleh pemeluknya, melarang tempat beribadah bagian dari cara mereka untuk menekan agar agama lain tak berkembang secara kuantitas. Begitu saja terus berlangsung selama bertahun-tahun di negeri ini.
Ironisnya, persoalan kesejahteraan, kemiskinan yang membelit, dan korupsi yang menyangkut akar masalah di Indonesia justru terabaikan. Semua saling tunjuk jari, menyalahkan orang lain. Padahal semua bisa di mulai dari sendiri. Dengan cara sederhana, atau terorganisir. Tapi bagi sebagian orang diam itu emas. Nah, kalau sudah begitu, apakah rela negeri yang kita cintai ini, Indonesia terus-terusan terpuruk.Globalisme sudah di depan mata. Jangan-jangan ketika globalisme sudah terjadi di depan mata kita, masyarakatnya tidak siap, maka cuma jadi penonton di negerinya sendiri. Maukah kita terus-terusan begini?
Sebagai referensi lihat pula tulisan Ade Armando, pengamat media tentang kekerasan agama yang berlangsung belakangan ini.
http://adearmando.wordpress.com/2012/05/16/waisak-manji-lady-gaga-dan-ancaman-muslim-brutal/
Buku dan Keheningan
Dulu saya punya waktu menyediakan membaca buku paling tidak satu minggu satu buku. Bukunya apa saja. Paling tidak,seperti yang telah ada di foto ini. Tapi sekarang kok saya makin payah. Senang beli bukunya tok, tetapi jarang dibaca. Hiks....Ngaku...
Selain terpuaskan karena membaca isi buku itu sendiri, kerap di tengah-tengah jeda saya membayangkan penulisnya. Bagaimana dia meriset, darimana dia memeroleh inspirasi, bagaimana cara dia memeroleh ide atau gagasan.
Dari semua buku yang saya baca, beberapa pengarang besar lekat di pikiran saya. Pramoedya Ananta Toer, Karl May, Sussana Tamaro, Mitch Albom, Joosten Gaarder, dan Paulo Coelho. Setelah saya mengenal dunia keheningan, tahulah saya mengapa para pengarang ini berbeda dengan penulis lainnya. Saya merasakan ada "pengendapan" di sana. Menulis dengan meditatif. Contoh lain bacaan yang terasa sekali ada pengolahan batinnya, adalah Madre karya Dee atau Dewi Lestari. Dee, ternyata dia seorang yogi. Kebetulan pernah bermeditasi di tempat saya melatih meditasi, Vihara Mendut. Ahai. Sayang tidak ketemu. :)
Menulis itu gampang. Itu benar. Tapi menulis yang menghasilkan karya besar, berkualitas, dan jleb...nancep di hati, jelas tidak mudah. Saya juga kepingin. Makanya saya latihan menulis blog dulu. Siapa tahu, kelak nama saya akan dicatat seperti mereka. Ahaiii...siapa tahu ya. Semoga alam semesta turut mendukungnya.
Selain terpuaskan karena membaca isi buku itu sendiri, kerap di tengah-tengah jeda saya membayangkan penulisnya. Bagaimana dia meriset, darimana dia memeroleh inspirasi, bagaimana cara dia memeroleh ide atau gagasan.
Dari semua buku yang saya baca, beberapa pengarang besar lekat di pikiran saya. Pramoedya Ananta Toer, Karl May, Sussana Tamaro, Mitch Albom, Joosten Gaarder, dan Paulo Coelho. Setelah saya mengenal dunia keheningan, tahulah saya mengapa para pengarang ini berbeda dengan penulis lainnya. Saya merasakan ada "pengendapan" di sana. Menulis dengan meditatif. Contoh lain bacaan yang terasa sekali ada pengolahan batinnya, adalah Madre karya Dee atau Dewi Lestari. Dee, ternyata dia seorang yogi. Kebetulan pernah bermeditasi di tempat saya melatih meditasi, Vihara Mendut. Ahai. Sayang tidak ketemu. :)
Menulis itu gampang. Itu benar. Tapi menulis yang menghasilkan karya besar, berkualitas, dan jleb...nancep di hati, jelas tidak mudah. Saya juga kepingin. Makanya saya latihan menulis blog dulu. Siapa tahu, kelak nama saya akan dicatat seperti mereka. Ahaiii...siapa tahu ya. Semoga alam semesta turut mendukungnya.
Kamis, 17 Mei 2012
Doa
dikutip dari http://episodediri.blogspot.com/
Doa itu bagaikan darah yang menghidupi seluruh tubuh. Doa tidak bisa dipisahkan dari gerak kehidupan umat manusia. Sadar atau tidak, manusia punya hasrat untuk menyentuh Realitas Terakhir. Dari sanalah ia berasal, di sanalah akar dan pusat hidupnya, ke sana juga ia akan kembali. Itulah mengapa manusia berdoa.
Orang punya berbagai kebutuhan untuk melangsungkan kehidupannya. Ia membutuhkan kesehatan, keberhasilan, relasi yang baik, rasa aman dan terlindungi, dan sterusnya. Melalui doa, orang berharap mendapatkan apa yang dibutuhkan, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain.
Kadang
orang berdoa memohon sesuatu dan permohonannya dikabulkan dengan
segera, ada yang harus menunggu lama baru dikabulkan. Ada juga yang
tidak dikabulkan, meskipun orang sudah berdoa tak kungjung putus.
Doa bukan hanya ditujukan supaya orang mendapatkan sesuatu yang khusus untuk bertahan hidup. Lebih jauh lagi, doa merupakan perjumpaan dengan Realitas Terakhir itu sendiri. Relitas ini dalam tradisi teisme disebut Allah atau Tuhan. *1
Berdoa dengan iman berarti berpusat pada tuhan, bukan pada aku. Ini yang disebut berserah dan ikhlas menerima apapun yang terjadi pada kita.
Dalam keadaan apapun Anda, resah, galau, takut, marah, diamlah dalam doa, anda tidak perlu lagi bertutur kata yang berpusat pada aku, pada yang aku mau, yang aku inginkan, dan yang menurut pikiranku. Diamlah dan keheningan itu sendiri adalah doa.
**TItik Hening Meditasi--Johanes Sudrijanta, SJ
Doa itu bagaikan darah yang menghidupi seluruh tubuh. Doa tidak bisa dipisahkan dari gerak kehidupan umat manusia. Sadar atau tidak, manusia punya hasrat untuk menyentuh Realitas Terakhir. Dari sanalah ia berasal, di sanalah akar dan pusat hidupnya, ke sana juga ia akan kembali. Itulah mengapa manusia berdoa.
Orang punya berbagai kebutuhan untuk melangsungkan kehidupannya. Ia membutuhkan kesehatan, keberhasilan, relasi yang baik, rasa aman dan terlindungi, dan sterusnya. Melalui doa, orang berharap mendapatkan apa yang dibutuhkan, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain.
Doa bukan hanya ditujukan supaya orang mendapatkan sesuatu yang khusus untuk bertahan hidup. Lebih jauh lagi, doa merupakan perjumpaan dengan Realitas Terakhir itu sendiri. Relitas ini dalam tradisi teisme disebut Allah atau Tuhan. *1
Berdoa dengan iman berarti berpusat pada tuhan, bukan pada aku. Ini yang disebut berserah dan ikhlas menerima apapun yang terjadi pada kita.
Dalam keadaan apapun Anda, resah, galau, takut, marah, diamlah dalam doa, anda tidak perlu lagi bertutur kata yang berpusat pada aku, pada yang aku mau, yang aku inginkan, dan yang menurut pikiranku. Diamlah dan keheningan itu sendiri adalah doa.
**TItik Hening Meditasi--Johanes Sudrijanta, SJ
Rabu, 16 Mei 2012
Menikah Itu (Tidak ) Gampang?
Kadang-kadang saya bersyukur belum menikah. Soalnya, menikah itu masalahnya buanyak booookkk. Hihihi. Kenapa saya bilang begitu? Karena saya kerap dicurhati mereka. Mulai dari masalah ekonomi, cinta memudar, ketidakcocokan karakter, sampai perselingkuhan.
Ternyata menikah itu (tidak) gampang. Sengaja saya lingkari kata tidak karena banyak juga yang menganggap menikah itu gampang. Ada seseorang yang mengatakan pada saya, kalau dia memutuskan cepat-cepat menikah dan menyarankan adiknya juga demikian agar terhindar dari kanker. Kata dia, orang yang kena kanker itu biasanya orang yang single alias belum menikah. Datanya dari mana, tentu dia tidak tahu. Jadi saya anggap datanya ngawur hehhee. Saya justru banyak menemukan orang kanker pada orang yang menikah.
Ada pula yang memutuskan segera menikah meski dua-duanya tidak bekerja. Alhasil semenjak menikah jadi "parasit" untuk keluarga besarnya. Sementara orang yang menjalani hidupnya begitu, merasa baik-baik saja. Gampang, kan menikah itu? Hehehehe.
Suatu hari ada teman datang berurai air mata. Dia sudah diceraikan oleh sang suami. Drama queen pun terjadi. Dia ceritakan masalah sesungguhnya kenapa dia dicerai. Tentu,saya bengong. Karena menit sebelumnya, dia masih tertawa-tawa. Mungkin dia sudah tidak kuat menangung beban. Jadilah dia menangis sembari menceritakan kisahnya. Saya prihatin. Saya tahu dia depresi. Pada dia, saya cuma bisa mengatakan. "Saya tidak bisa memberikan nasihat karena saya belum menikah. Tapi kamu boleh di sini selama yang kamu mau, sampai tenang. Saran saya, diamlah dan jangan bicara."
Selama beberapa jam dia di kamar saya. Mendengarkan musik keras-keras. Saya membiarkan sampai dia tenang. Banyak orang yang butuh pelepasan. Karena dengan begitu dia merasa tidak sendirian. Padahal, jika seseorang menyadari bahwa ketika dia mati pun dia bakal sendirian. Seharusnya dia bisa mengatasi persoalan hidupnya sendiri. Caranya ya diam saja. Menyadari gerak batin. Lama-lama juga lenyap kok semua persoalan. Saya sudah membuktikannya.
Ada lagi, beberapa teman yang bercerita pada saya. Pada pernikahannya, dia merasa hambar. Yang lainnya, karena masalah yang amat krusial. Akhirnya mereka jatuh cinta sama seseorang. Berselingkuh. Saya dengarkan. Kisah cinta "terlarangnya" persis kayak anak SMA jatuh cinta. Sekali dua kali, sampai berkali-kali saya masih sanggup mendengarkan. Tapi tentu saya bukan kotak sampah. Hihihi. Jadi saya nyaris tak menjawab atau tak meladeni kalau mereka bercerita tentang pria atau wanita selingkuhan mereka. Nikmatilah sendiri keruwetan itu dan jangan libatkan saya, teman hehehe. Saya tidak mau terseret lebih dalam.
Sempat, sih saya kepikiran. Melihat pernikahan orang-orang di sekitar saya lengkap dengan permasalahannya, sebenarnya ingin menunjukkan pada saya. "Menikah itu bisa gampang, bisa sulit." Akhirnya, saya berkesimpulan menikah atau tidak semua sama-sama baik. Ada orang menikah bahagia ada juga yang tidak. Ada orang yang tidak menikah dia bahagia, ada juga yang tidak. Sama, kan? Jadi sebelum mengatakan, "Hai, kasian ya dia tidak menikah." Periksa kehidupan pribadi kita masing-masing. Jangan-jangan kalian yang menikah juga perlu dikasihani karena banyak masalah tetapi tak mampu menyelesaikan.
Yogyakarta, 16 Mei 2012
Ternyata menikah itu (tidak) gampang. Sengaja saya lingkari kata tidak karena banyak juga yang menganggap menikah itu gampang. Ada seseorang yang mengatakan pada saya, kalau dia memutuskan cepat-cepat menikah dan menyarankan adiknya juga demikian agar terhindar dari kanker. Kata dia, orang yang kena kanker itu biasanya orang yang single alias belum menikah. Datanya dari mana, tentu dia tidak tahu. Jadi saya anggap datanya ngawur hehhee. Saya justru banyak menemukan orang kanker pada orang yang menikah.
Ada pula yang memutuskan segera menikah meski dua-duanya tidak bekerja. Alhasil semenjak menikah jadi "parasit" untuk keluarga besarnya. Sementara orang yang menjalani hidupnya begitu, merasa baik-baik saja. Gampang, kan menikah itu? Hehehehe.
Suatu hari ada teman datang berurai air mata. Dia sudah diceraikan oleh sang suami. Drama queen pun terjadi. Dia ceritakan masalah sesungguhnya kenapa dia dicerai. Tentu,saya bengong. Karena menit sebelumnya, dia masih tertawa-tawa. Mungkin dia sudah tidak kuat menangung beban. Jadilah dia menangis sembari menceritakan kisahnya. Saya prihatin. Saya tahu dia depresi. Pada dia, saya cuma bisa mengatakan. "Saya tidak bisa memberikan nasihat karena saya belum menikah. Tapi kamu boleh di sini selama yang kamu mau, sampai tenang. Saran saya, diamlah dan jangan bicara."
Selama beberapa jam dia di kamar saya. Mendengarkan musik keras-keras. Saya membiarkan sampai dia tenang. Banyak orang yang butuh pelepasan. Karena dengan begitu dia merasa tidak sendirian. Padahal, jika seseorang menyadari bahwa ketika dia mati pun dia bakal sendirian. Seharusnya dia bisa mengatasi persoalan hidupnya sendiri. Caranya ya diam saja. Menyadari gerak batin. Lama-lama juga lenyap kok semua persoalan. Saya sudah membuktikannya.
Ada lagi, beberapa teman yang bercerita pada saya. Pada pernikahannya, dia merasa hambar. Yang lainnya, karena masalah yang amat krusial. Akhirnya mereka jatuh cinta sama seseorang. Berselingkuh. Saya dengarkan. Kisah cinta "terlarangnya" persis kayak anak SMA jatuh cinta. Sekali dua kali, sampai berkali-kali saya masih sanggup mendengarkan. Tapi tentu saya bukan kotak sampah. Hihihi. Jadi saya nyaris tak menjawab atau tak meladeni kalau mereka bercerita tentang pria atau wanita selingkuhan mereka. Nikmatilah sendiri keruwetan itu dan jangan libatkan saya, teman hehehe. Saya tidak mau terseret lebih dalam.
Sempat, sih saya kepikiran. Melihat pernikahan orang-orang di sekitar saya lengkap dengan permasalahannya, sebenarnya ingin menunjukkan pada saya. "Menikah itu bisa gampang, bisa sulit." Akhirnya, saya berkesimpulan menikah atau tidak semua sama-sama baik. Ada orang menikah bahagia ada juga yang tidak. Ada orang yang tidak menikah dia bahagia, ada juga yang tidak. Sama, kan? Jadi sebelum mengatakan, "Hai, kasian ya dia tidak menikah." Periksa kehidupan pribadi kita masing-masing. Jangan-jangan kalian yang menikah juga perlu dikasihani karena banyak masalah tetapi tak mampu menyelesaikan.
Yogyakarta, 16 Mei 2012
Selasa, 15 Mei 2012
"Tulang Banyak Berbicara"
"Tulang banyak berbicara dalam dunia
antropolog". Itu hasil perbincangan saya dengan Guru besar antropologi
ragawi dari Universitas Airlangga, Surabaya, Profesor Josef Glinka SVD. Saya
menemuinya pada sebuah pagi di Hotel Hyatt Yogyakarta. Dia tengah memasang
alat penetralisir pada rumah dua orang seniman yang memiliki persilangan air di
rumah mereka. Di bagian lain saya akan bercerita khusus tentang ini.
Sayangnya, ilmu antropologi rupanya tak begitu
diminati oleh orang Indonesia. Padahal, kata Pater Glinka, saya biasanya
menyapa begitu, sungguh berguna bagi Indonesia yang mempunyai suka beragam,
peninggalan jaman purba. "Antropologi untuk
mengenal masa lampau Indonesia. ilmu itu patriotis. Karena itu
bukan hanya sekedar tulang belulang. Tapi tulang belulang bisa
bicara," ujarnya. Tak semua ilmu antropologi bicara manusia lampau atau
purba. Antropogi forensik yang lebih khusus dari ilmu
antropologi bahkan berguna untuk pengungkapan kasus-kasus kriminal. Misalnya,
pada suatu hari kepolisian menemukan kerangka
kepala utuh di sebuah parit di Kota Surabaya. Mereka kesulitan menemukan
identifikasi tengkorak tersebut.
Doktor antropolog forensik dari UNAIR, anak buah Pof Glinka, Doktor Toetik
Koesbardiati diminta membantu polisi memecahkan ini. Dialah satu dari doktor
antropolgi forensik berdiploma internasional yang dimiliki Indonesia. “Bayangkan baru ada
doktor antropologi forensik berdiploma internasional di Indonesia,” ujarnya. Satu doktor
forensik lainnya sudah bergelar profesor dari Universitas Gadjah Mada yakni
Prof Etty Indriati. Beruntung saya juga pernah mewawancai Prof Etty. Muda,
cantik, dan lebih dikenal di dunia internasional. Kiprah pendidikannya lebih banyak malang
melintang di universitas terkemuka di luar negeri.
Dari hasil menguji itu, Toetik memperkirakan jasad itu orang asing, tapi untuk meyakinkan temuan ini dia datang kepada
sang guru. “’Kamu lupa. Ambil bolpoin, masukkan ke hidung. Kalau ada
halanganya, maka dia ras asing, kalau
tidak ada maka dari sini,” kata Pater Glinka. Ternyata benar. Keranga itu berasal dari Arab. Dari catatan polisi empat tahun
sebelumnya, ada laporan kehilangan warga Arab. Hemmmm…keren.
Antropologi ragawi dimana Pater Glinka paling "jago" di bidangnya
merupakan ilmu yang memelajari macam-macam manusia khususnya ras
manusia, suku, berdasarkan ciri-ciri fisiknya. Cabang ilmunya antara lain
antropologi forensik. Antropologi ragawi menjadi salah satu ilmu dasar
antropologi forensik. Dengan kemampuan antropologi ragawi yang baik maka
seorang antropolog forensik akan membantu penerapan antropologi forensik
di lapangan. Forensik antropologi
terutama untuk menentukan identitas jasad berdasar bukti yang tersedia, yaitu
menentukan jenis kelamin, perkiraan usia, bentuk tubuh, dan pertalian ras.
Nah, jatuhnya korban Shukoi di Gunung Salak jelas
memerlukan antropolog forensik. Memang antropolog forensik tidak tunggal
bekerja. Bersama ilmu kedokteran mereka bahu membahu mengidentifikasi jenasah
yang hancur lebur. “Tidak ada satupun
kerangka kepala yang utuh,” kata anak
buah Pater Glinka lainnya, Rusyad Adi Suriyanto. “Jasad hangus, hancur, dan
terbuai, tidak ada yang utuh.” Satu-satunya pengidentifikasian jenasah
melalui tes DNA. Hasilnya baru dua minggu
paling cepat. Ratusan dosen, polisi, dokter terlibat dalam pengidentifikasian ini
mengingat jenasah yang tercerai berai.
Mengingat begitu bermanfaatnya ilmu ini, maka
seharusnya putera puteri terbaik Indonesia tergerak hatinya untuk menekuni
bidang ini. Nah, data yang diungkapkan Pater Glinka sungguh mengejutkan saya. Ini ketika saya menanyakan idealnya jumlah doktor dan professor di Indonesia. Beliau
menjawab. “Negara Polandia yang besarnya
se-Pulau Jawa, memiliki 120
profesor antropolog. Sementara Indonesia hanya punya 10-20 antropolog dan hanya dua profesor.” Dua professor antropolog itu adalah Prof Glinka dan Prof Etty.” Satu profesor lainnya yakni Teuku Jacob sudah meninggal dunia.
Sedikitnya minat mereka ke antropologi karena masa
depannya kurang menjanjikan. “Duitnya sedikit dan lapangan kerjanya kurang,”
kata pastor berusia 80 tahun ini. Padahal begitu banyak fosil yang tersebar di seluruh
Indonesia. Penemuan fosil yang didominasi di Jawa ini besar kemungkinan karena
banyak ahli di Pulau Jawa. Dia yakin sekali
fosl, peninggalan purbakala yang
menjawab tentang awal kehidupan manusia di Indonesia masih berserakan di
seluruh wilayah Indonesia. Tentu, Indonesia memerlukan ahli. Kalau tidak
penemuan-penemuan yang ada banyak di bawa ke luar negeri dan kita tinggal gigit
jari, deh.
Semoga saja, kalau ada teman-teman yang membaca blog
ini dan dia belum memutuskan mengambil
jurusan apa, terpanggil di bidang ini. Saya sendiri selama beberapa jam ngobrol serasa mendapat pelajaran 2 SKS. Sangat menarik. Kenapa saya ndak mengambil jurusan ini ya?
Yogyakarta, 15 Mei 2012
Minggu, 13 Mei 2012
Segar dalam 15 Menit
Pernah capek dan ngantuk, sementara pekerjaan belum selesai? Ternyata ada caranya agar terbebas dari ini. Saya dapat ilmu ini dari guru besar Antropolog Ragawi Universitas Airlangga Profesor Glinka SVD. Ini tidak sengaja.Waktu saya menemui beliau ketika sedang di Yogyakarta, dia kelelahan dan pingin istirahat sebentar. "Saya sudah tua, jadi mudah capek," kata guru besar UNAIR berusia 80 tahun ini.
Lalu dia mengajari saya begini. Rurit, tidur tegak lurus. Posisi tangan di samping badan.Mirip orang baris, tetapi tidur. Tanpa bantal. Rileks. Jangan memikirkan apapun. Hanya memfokus di nafas saja. Naik turunnya nafas diikuti. Sekitar 15 menit biarkan proses itu berlangsung. Lalu berhenti. Setelah itu tubuh akan segar lagi dan bertahan 4-5 jam. Setelah saya membiarkan Romo Glinka berbaring, diam selama 15 menit, badannya bugar. Tak tampak ada kelelahan di wajahnya.
Saya sudah praktek dua kali. Ajaib....benar-benar segar dan tubuh tidak terlihat lelah. Wah....terima kasih Prof Glinka. Teman-teman mau mencoba?
Yogyakarta, 14 Mei 20012
Pukul 12.17
Lalu dia mengajari saya begini. Rurit, tidur tegak lurus. Posisi tangan di samping badan.Mirip orang baris, tetapi tidur. Tanpa bantal. Rileks. Jangan memikirkan apapun. Hanya memfokus di nafas saja. Naik turunnya nafas diikuti. Sekitar 15 menit biarkan proses itu berlangsung. Lalu berhenti. Setelah itu tubuh akan segar lagi dan bertahan 4-5 jam. Setelah saya membiarkan Romo Glinka berbaring, diam selama 15 menit, badannya bugar. Tak tampak ada kelelahan di wajahnya.
Saya sudah praktek dua kali. Ajaib....benar-benar segar dan tubuh tidak terlihat lelah. Wah....terima kasih Prof Glinka. Teman-teman mau mencoba?
Yogyakarta, 14 Mei 20012
Pukul 12.17
Langganan:
Postingan (Atom)

