Selasa, 14 Februari 2012

Pengkhianat

pohon di dili
Pernah ditabrak orang dari belakang? Saya kerap diseruduk kendaraan dari belakang. Saat itu saya sedang lari pagi ketika seorang  mabuk, menabrak dari belakang. Braakkkk...Suara dentumannya keras. Saya bahkan sempat teriak. "Ada bom." Sedetik kemudian saya baru sadar, itu bukan bom. Saya terpental, motor si pemabuk  menimpa saya.Enam bulan saya tidak mampu duduk bersila.


Kali lain, ketika lampu merah tengah berhenti di perempatan Slipi, Jakarta. Saya bahkan sedang mengirim gambar ke facebook melalui  Blackberry, ketika mendengar dentuman keras sekali. BB saya terpental, saya terjerembab. Posisi saya yang  di depan memang tak apa-apa. Tapi ketika saat melihat ke belakang, moncong besi itu sudah masuk ke mobil kami, mendekati tubuh kakak saya. Kaca belakang jelas pecah. Bodi belakang ringsek. Tiga mobil di depan kami terseruduk mobil. Begitulah kecelakaan  beruntun yang saya alami setahun lalu. Bahkan ketika mobil berhenti, tak melakukan aktivitas apapun.


Analogi saya tentang pengkhianatan seperti serudukan mobil atau mobil dari belakang. Lukanya lebih sakit ketimbang saat bertabrakan  kedua belah pihak sama-sama "saling' menabrak. Tentu bagi yang ditabrak dari belakang lebih sakit. Perlu waktu lama untuk menyembuhkan luka kecelakaan itu. Begitu pula pengkhianatan itu.Tapi apakah tidak bisa sembuh? Karena motto saya semua hal pasti akan berlalu, maka saya tidak pernah berlama-lama menggenggam luka. Menggenggam masa lalu itu seperti keong yang selalu membawa  rumah kemana-mana. Penuh beban. Buat apa? Toh, masa lalu tidak bisa dikembalikan.


Saya sempat punya pacar, kedua orang tua sudah berkenalan pula. Jarak jauh membuat dia berkhianat dengan perempuan lain. Hehehe. Padahal  sebelumnya dia pernah bilang  "Saya tidak akan menikah dengan siapapun kecuali kamu." Hahaha waktu itu saya ngakak. Saya jawab,"Saya tidak pernah percaya dengan omongan gombal." (catat ya buat nama muda yang mabuk asmara, namanya lidah  tak bertulang jadi ya begitu deh). Dan benar saja. Kejadian. Saya memutus dia hanya melalui telepon. Dadah...Dan tak lagi menoleh ke belakang. Belakangan ketika putus, kian terang benderang attitutenya sungguh memalukan. Upss...ndak perlu diceritakan  malah jadi bergunjing (terkekeh).


Tapi sejak itu, dia tak pernah berhenti mengajak saya kembali, bahkan menanyakan hal terakhir, masih mau menikah dengan dia atau tidak? Tidak berapa lama dia mengatakan itu, saya mendengar dia sudah menikah dengan perempuan itu, hasil perselingkuhan  dengan saya ketika kami berpacaraan. Hahahha...Saya ngakak lagi. Heran dengan kelabilannya. Tapi ya sudah, saya hormati keputusannya.


Saya kira cerita sudah usai begitu dia menikah.  Saya pun  sudah punya kekasih hati lain. Eh...ternyata dia malah lebih aktif menelpon saya. Permintaan facebook sampai sembilan kali saya tolak.  Dari  perkataan halus sampai perkataan  kasar sudah saya  upayakan agar dia tak perlu menelpon-nelpon lagi. Masa lalu ya masa lalu. Apalagi belakangan saya menyadari  bahwa saya ternyata tidak benar-benar mencintainya, jadi apa lagi yang perlu dibicarakan?  Dia bilang "Kangen ngobrol." Yiaaaaa...Saya ngakak lagi. Begitu saya membuka pintu masuk  obrolan itu, dia akan terbelit pada pengkhianatan  berulang. Kali ini  jelas yang diakhianati  istrinya, bukan? Saya pun  ikut-ikutan  mengkhianati istrinya. Hehehe. Benar, nggak? Sempat juga sih terlintas di kepalanya. Istrinya tahu tidak  ya, kalau suaminya "gatel". :)


Dari pengalaman beberapa teman, dan hasil diskusi saya dengan pemuka agama, perselingkuhan terjadi bukan dengan orang baru. "Tapi 90 persen  dengan mantan pacar," kata si pemuka agama yang  sering konsultasi denga umatnya. Lha...kalau saya tidak mau  berurusan dengan dia lagi, itu bukan karena saya masih sedih, tetapi menjaga agar pengkhianatan tak  terulang. Saya juga merasa layak menjaga jarak berteman dengan dia, lelaki yang  tak bisa memegang kata-katanya. Seseorang yang tak lagi memiliki kejujuran dalam dirinya, tak konsisten dengan ucapannya, dia sudah kehilangan segalanya.Harga dirinya. Dia memang hidup, tetapi sebenarnya dia sudah "mati". Kecuali dia mengubah hidupnya lebih baik. 


By the way, permintaan  pertemannya di facebook akhirnya saya terima lho. Hihihi. Tentu, saya berharap dia membaca tulisan ini juga. ;) Tapi kalau dia masih saja "gatel",  menurut kalian, saya apakan orang  seperti ini? 


Yogyakarta, 15 Februari 2012.

Pukul  7.56

Senin, 13 Februari 2012

Perjalanan 20 Menit

cupcakes valentine kiriman Ariyanti Puspodewi
Sabtu,(10/1) lalu  saya pingin liputan.Acaranya mungkin  remeh temeh untuk orang lain, tapi bagi saya nggak. Open house pendaftaran  sekolah  SD dan SMP Tumbuh Yogyakarta. Ada pentas seni yang bukan pentas seni sembarangan. Siswa berkebutuhan khusus berkolaborasi dengan siswa non berkebutuhan khusus. Wah, seperti apa ya?


Sekolah ini unik konsepnya. Sekolah museum karena berada di dalam kompleks Jogja Nasional Museum. Pemrakarsa sekolah ini menganggap seni, budaya, dan kreatifitas  bagian dari proses belajar mengajar. Tujuannya menyiapkan pribadi yang peka akan perubahan. Apa lagi uniknya? Siswa berkebutuhan khusus seperti retardasi mental, autis, melakukan kegiatan belajar mengajar bersama dalam satu kelas. Kok bisa? Lain kali saya akan bercerita tentang sekolah ini.


Saya justru ingin menceritakan perjalanan saya dari rumah ke sekolah itu. Karena lokasinya cukup jauh, saya ingin menyadari perjalanan ini. Biasanya lebih dari radius 5 kilometer saya malas bepergian. Tapi kali ini tidak. Saya mengendarai motor pelan, saya memperhatikan motor yang ada di depan saya. Toko dan  lapak di  kanan dan kiri jalan.  Serobotan kendaraan  dari kanan dan kiri, justru bikin saya tersenyum sendiri. O...begitu itu ya..kalau saya berkendaraan terburu-buru itu. Mirip orang kesetanan. Saya kerap melakukannya :)


Ketika berhenti di lampu merah, angka menunjukkan angka 2, orang-orang di belakang saya merangsek maju. Angka 2 berarti dua detik lagi lampu berwarna hijau, tanda jalan. Lagi-lagi ada orang dari belakang tak sabaran merangsek ke depan, mendahului antrian di depannya. Saya tetap tertawa. Oh begitu itu to...kalau ada orang tak sabaran. Saya tersenyum karena saya juga pernah melakukannya. Hihihi.Dari sisi sebelah lainnya,  saya mendengar tin...tin...tin...orang memencet klakson. Tak sabar ingin segera melaju, sementara ada banyak kendaraan yang antri di depannya. Memangnya, memasukkan  gigi tidak butuh waktu, atau memberi kesempatan orang di depannya untuk jalan lebih dulu tidak butuh waktu? Huh...Saya rada nggondok.Tapi terus sadar, saya nggondok. Berpikir lagi,  memencet klakson itu sungguh-sungguh  mengganggu orang lain dan bikin orang lain jengkel. :)


Kembali saya melanjutkan perjalanan. Dengan kecepatan 30 km per jam, saya kembali melaju. Saya melihat udara cerah. Langit  cumulus indah nian siang itu. Bahagia. Saya menyadari kebahagiaan yang meletup ini. Belum tuntas menikmati awan, saya melihat  kulit jeruk, sampah plastik di buang di tengah jalan. Pastilah orang tak mengenal iba membuang sampah di sini. Mereka tidak tahu ada tukang sapu yang mesti bersusah payah membersihkannya jika ada sampah berceceran. Apakah saya tidk pernah buang sampah di jalan? Terus terang, kalau itu sampah organik, saya  memang membuang sampah di ruang terbuka misalnya kulit jeruk, buah apel. Buat saya sesuatu yang dari alam mesti kembali ke alam. Biar menyuburkan tanah, itu alasannya. Tapi bukan berarti saya buang ditengah-tengah jalan protokol. Biasanya saya menunggu melewati  pekarangan kosong atau lahan terbuka.


Sampailah saya di pemberhentian berikutnya. Di depan saya sudah ada mobil dan motor.  Saya melihat sekeliling. Tiba-tiba busssss...asap rokok menempel di muka saya. Saya terbatuk. uhuk ...uhuk... Nafas saya sesak. Orang di depan mengendarai motornya sembari merokok. Belum lagi kelar, busss...lagi. Ada orang merokok di sebelah saya. Buru-buru kaca helm saya tutup rapat. Tapi tak ada gunanya.  Saya terkepung asap rokok dari dua pengendara di depan dan sebelah saya. Kali ini saya misuh-misuh. Jelas dia tidak tahu karena muka tertutup helm. Saya seperti ada di ruangan sempit tak punya cahaya dan tak ada ventilasi. Saya marah. Motor saya mundurkan sedikit untuk menghindari asap itu. Orang di sebelah saya memandangi  dengan aneh. Sekian detik kesadaran saya hilang, berganti dengan  marah-marah. Beberapa detik kemudian saya menyadari kemarahan itu. Obyek di luar tidak bisa kita ubah. Jadi yang bisa saya lakukan memandangi waktu yang menyusut. 5,4,3,2,1...Hijau....Saya terbebas dari  neraka asap di perhentian lampu merah, ruang terbuka, di langit cerah yang mestinya bebas polusi asap rokok.


Tapi meski hijau berlalu,  kemarahan masih menyeret saya. Sembari mengendarai motor, saya berpikir-pikir kok bisa ya ada orang-orang tolol yang tidak mempedulikan orang lain. Apa ndak berpikir kalau percikan api bisa mengenai mata orang di belakangnya, menyebabkan orang sengsara. Apakah si plempas plempus itu tidak berpikir kalau satu saat  dia melamun karena merasa nikmat betul dengan rokoknya dan braaak....dia menabrak orang. Apa si perokok di jalan ini tahu kalau  orang lain kesal, marah, membuat orang tidak nyaman akan perbuatanya?Deegg...sadar lagi....Saya kembali menyadari naik motor. Memegang setir.


Saya tiba di lokasi  dengan  waktu 20 menit. Saya memarkir kendaraan. Menarik nafas. Berpikir lagi.  Jika seseorang melatih kesadarannya dari saat ke saat, pastilah, Afriyani tak harus membunuh 9 orang dalam sekejab. Jika dia sadar bahwa saat  memutuskan menelan obat, berarti akan menimbulkan dampak yang fatal tak hanya dirinya tetapi juga orang lain, pastilah dia tak jadi melakukan. Jika dia sadar bahwa setelah minum obat dan  tidak tidur semalamanan, maka seharusnya dia tidak menyetir mobil, tentu tak akan  ada nyawa yang melayang.


Saya teringat wejangan Bante Panyavaro, Kepala Vihara Mendut saat membuka meditasi. Begini kata Bante. Ada sebagian orang menganggap meditasi itu hanya untuk orang bermasalah. Hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri. Di satu sisi benar. Tapi meditasi juga secara langsung bermanfaat untuk orang lain. Orang  yang bermeditasi, mereka yang melatih kesadaran, hanya akan berhenti di pikiran ketika ada sesuatu yang ingin dilakukan. Misalnya  ingin korupsi.  Seorang meditator, yang telah melatih kesadarannya, hanya  akan berhenti di pikiran saja, tidak jadi melakukan.


Pikiran saya kembali berjalan.  Sempat kembali kepada si perokok yang plempas plempus di lampu merah tadi.  Semoga rokok tak membuat dia melamun dan harus menabrak orang hanya gara-gara merokok sembari mengendarai motor. Ketika kesadaran saya muncul kembali....saya tersenyum geli. Pikiran kita itu benar-benar seperti monyet. Melompat ke sana ke mari. Sadar. melompat. Sadar lagi. Melompat lagi. Tapi yang ingin saya bagikan disini adalah perjalanan 20 menit yang biasanya terasa  capek sekali, tidak saya rasakan. badan tetap segar. Dalam  20 menit perjalanan gembira, geli, marah, nggondok datang silih berganti.  Saya melangkah ringan ke tempat berlangsungnya acara. Tentu akan saya ceritakan dalam tema yang lain.



Yogyakarta, 14 Februari 2012

Ahai ini hari Valentine ya. Selamat Valentine bagi yang merayakan. Bagi yang melarang dan menganggap ini haram...saya juga tidak akan mengucapkan Valentine hehehe.

Minggu, 12 Februari 2012

Selingkuh

Ini topik  sensitif, meski sebenarnya dekat dengan keseharian kita.  Entah dia sendiri yang jadi pelaku, sang teman yang selingkuh, atau saudara yang selingkuh. Entah dilakukan sembunyi-sembunyi atau telanjang. Entah mengakui dirinya selingkuh,  munafik mengakuinya, atau tidak sadar melakukannya. Tergantung pribadi masing-masing, sih.

Kalau Angie dan Anas Ubaningrum di iklan dengan muka  serius bilang "Katakan tidak pada korupsi,", begitu juga saya. "Katakan tidak pada perselingkuhan." Itu berpuluh tahun silam. Ketika saya masih naif. Kata buku The Secret, seseorang yang mengawali kata jangan atau tidak justru dia tengah mengerjakan sesuatu dari kebalikannya. Sebab hukum alam itu tarik menarik.  Tadinya saya nggak percaya. Tapi kok ya dalam banyak hal, harus saya akui kejadiannya benar adanya.


Maka ketika ada seorang teman bilang begini:  saya nggak setuju, apapun alasannya, mau keluarga harmonis atau tidak itu bukan alasan melegalkan CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) alias perselingkuhan, saya cuma tertawa.  Persis nasihat saya berpuluh tahun lalu kepada banyak teman. Dalam perjalanannya, saya menyadari ini,  ada suatu peristiwa yang tidak bisa dikendalikan, tidak bisa kita kontrol. Kita tidak meminta, tetapi dia hadir. Ada pula yang kita sengaja mencarinya.


Jadi, untuk sikapnya yang bilang "Tidak, pada perselingkuhan." persis seperti  Angie  yang bilang  "tidak pada korupsi, tetapi belakangan yang ngomong melakukan, saya  cuma bisa bilang, semoga saja seumur hidup, dia tidak pernah  mengalaminya. Karena saya percaya hukum alam itu mutlak kok. Ada yang di atas, ada yang di bawah. Ada hitam, ada putih. Seperti roda, hidup berputar terus.  Kita tidak pernah tahu ke depannya bagaimana, di atas atau di bawah. Jangan-jangan saja kita tidak pernah terjebak urusan ini, karena memang tidak ada lelaki atau perempuan yang datang pada kita. Atau si cewek naksir, cowoknya nggak.Si cowok naksir, perempuannya nggak. Nah, ketika dua-duanya saling  jatuh cinta, apa iya bisa lolos?  Hihihihi.


Selingkuh macem-macem motivasinya. Ini dari beberapa pengamatan saya dan kejadian yang  saya alami. (Eh ngemeng-ngemeng karena saya masih single, saya tidak pernah berselingkuh dong ;) Ada yang sekedar iseng, cuma pingin have  fun, ngeseks doang, sedang ada masalah dengan pasangannya, nostalgia jaman dulu alias CLBK -- Cinta Lama Belum Kelar, atau benar-benar terpagut panah asmara beneran.


Waktu saya  mau menulis topik ini, teman yang pernah "terperangkap" dengan  SLI bilang begini. "Tambahi ya dalam tulisan, saat melakukan  SLI, rasanya benar dan wajar karena  cinta itu datang  sendiri. Pakai bawa Tuhan segala, kenapa mempertemukan  dan menganugerahi cinta. Padahal itu semua  bisa diatasi dengan logika dan kesadaran.  Saya sudah mengalaminya." Saya tahu teman ini sampai berdarah-darah keluar dari belenggu perselingkuhan ini. Apakah akhirnya berlalu? Melalui latihan kesadaran,  sekitar enam bulan, saya menyaksikan jejak "rasa sesaat" itu pudar dan lambat laun lenyap. Kalau semula dia masih bingung jika sang tambatan hati masih menelpon, menyapanya, maka dengan cuma menyadari obyek itu, perasaan itu hilang. 


Saya termasuk orang yang tidak percaya kalau perasaan cinta seseorang itu tidak bisa hilang. Apalagi setelah Buddha bilang  cinta itu sumber penderitaan. Sangat benar. Orang yang mau terperangkap di dalamnya, karena dia bersedia memilih menderita. Cinta sejati, yang tanpa menilai, yang diperoleh dari batin yang bebas barulah yang tak mendatangkan  penderitaan. Bagi mereka yang belum pernah melatih kesadaran mungkin ini sulit dipahami. Bagaimana mungkin cinta adalah sumber penderitaan. Kan cinta mendatangkan kebahagiaan? Wah kalau topiknya sudah kesana bisa melebar kemana-mana.


Jadi kembali ke topik selingkuh saja, ya? Subuh-subuh tadi pagi, ada teman yang tengah ke luar negeri curhat. Dia  jatuh cinta dengan seorang tampan. yang begitu perhatian padanya. Jelas, dia sudah menikah dan punya anak.   "Kenapa aku gampang jatuh cinta. ya, Mbak? Saya kerap mendapat curhatan seperti ini. Nasihat saya pun standar, termasuk kepada teman-teman lain yang terjebak pada perselingkuhan. Perasaan cintanya itu ndak salah. Wong dia hinggap, mak bedunduk.  Dan panah asmara itu pun datang menghinggapi kita. Ini  kayak busur yang dilepaskan dan mencari satu obyek. Ketika obyek itu mengena, lhaaa....begitulah yang terjadi. Kan nggak mungkin satu panah bisa mengenai obyek lebih dari satu. Menancapnya kan cuma pada satu obyek saja.


Yang salah itu, kalau kita menanggapinya membabi buta. Maksudnya? Ya terseret ke dalam perasaan itu, melekatinya. Ini yang membuat orang bisa tidak jernih mengambil keputusan, tidak sadar dengan apa yang dia lakukan. Saya  bertanya pada dia, sebelum dia memutuskan melanjutkan atau tidak hubungan ini. "Kalau suami mengkhianatimu, mau nggak? Dia jawab,"Nggak mau." "Ya sudah, berhenti," kata saya. . Ada juga saudara yang mengalami tergila-gila dengan mantan kekasihnya. Tai kambing rasa coklat, deh pokoknya. Diberi nasihat tidak mau ya sudah.Saya bilang, mencintai orang yang bukan pasangan, berarti siap-siap menderita. Kalau mau meneruskan menderita dan kamu mampu menjalaninya. Ya, monggo saja.


Ada pula teman lain, yang  selingkuh sampai jadi kebiasaan. Suatu kali dia tanya kepada saya, apa batasan amanmu  biar selingkuh itu ndak jadi masalah. "Jangan tidur sama pasanganmu." Bila perlu, tidak  bersentuhan fisik. " Kata dia: Yiaaaaa....mana bisa? Saya jawab," Ya sudah." Jangan mengeluh ya kalau nanti ada apa-apa. Emang kamu nggak pernah ngapa-ngapain? Saya jawab: "Sama pacar resmi saja saya nggak mau tidur, apalagi sama selingkuhan yang  ending ceritanya sukar dipastikan."  Hehehe.


Saya enggan menghakimi siapapun  teman, saudara yang sudah terbelit dengan urusan perselingkuhan. Itu kebebasan mutlak pada tiap  pribadi.  Saya pun tidak pernah akan pernah  bilang. "Jangan atau tidak", setelah beberapa tahun lalu, panah asmara saya jatuh pada seseorang. Tak terduga datangnya. Lagipula, tak selamanya hasil akhirnya  buruk. Ada misteri hidup yang sulit bisa diterima akal sehat, ketika mengalaminya.Ya sudah. Terima saja keadaan itu. Tidak melekati, tidak menolak, dan tidak menghindari. Cukup menyadarinya. Dan langkah  pun  jadi ringan.



Yogyakarta, 11 Februari 2012.

]Pukul 10.34.

Anggrek Ungu Kiriman dari Brazil


Sesaat setelah menemukan saya di blog, teman dari Brazil mengirimi saya anggrek warna ungu. Cantik sekali. Dia tahu saya suka bunga. Maka, dikirimi saya anggrek itu.  Teman saya ini suka berkebun. Katanya koleksi tanamannya ada 100. Wah. buanyak itu. Saya punya beberapa pot  tanaman, itupun hampir gundul karena  ditotoli dipatuk) ayam. :( 


Dia bilang ini sudah dekat hari Valentine dan bunga ini bisa direferensikan untuk menemani saya.  Hihihi. Saya nyaris lupa kalau tidak diingatkan. Bagi dia yang pekerja kantoran,  mengurus tanaman bisa menghilangkan stres dan kejenuhan. Saya mengangguk. Memang begitulah. Tapi ngomong-ngomong, saya ndak punya tanaman anggrek. Kalaupun saya memosting foto itu dari tanaman milik teman.


Belum punya  rumah sendiri membuat saya berpikir ulang untuk punya koleksi tanaman banyak. Angkut-angkut potnya, itu lho. So...hari Valentine nanti saya cukup memandangi anggrek, menyeruput coklat, dan menonton  VCD yang sudah saya siapkan. Saya akan memilih  tiga film kesukaan saya. Serendepity, Before Sunrise, Before Sunset, dan  AADC dong. Tapi saya paling  suka film Before Sunset di bagian akhirnya.Ketika sang juwita menyanyikan lagu, dan si lelaki memandanginya. Hanya memandang saja. Hihihi. Keren.Happy Valentine buat yang merayakannya. 


Yogyakarta, malam sebelum Valentine Day

Kayak anak SMA aja ah.

:)

Hujan, Coklat, dan Bernada

hujan, coklat, dan (B)ernada


B is brilliant, becoming, blissful, bold, beautiful. Weeew. Jingkrak.

Tema postingan ini : Hari ini boleh nyampah ya?  :)

Sabtu, 11 Februari 2012

Kematian ( bagian 1)

Ketika menyebut  kematian, spontan saya teringat beberapa peristiwa. Jatuhnya pesawat Mandala di Medan, Afriyani, pengemudi Xenia yang melindas 9 orang meninggal, dan  tabrakan beruntun di Puncak yang menewaskan  14 orang. Kematian datang tak terduga itu semua orang tahu. Di alkitab sendiri mengatakan. Kematian itu datang seperti pencuri di malam hari. Pendek kata, tak ada yang tahu waktunya kapan dengan cara apa.


Kematian tidak bisa kita pilih, kecuali memutuskan sendiri lewat bunuh diri. Ada segelintir  orang yang memutuskan  bunuh diri karena dengan sadar memilih cara kematiannya.  Ernest Hemingway, sang peraih Nobel, contohnya.  Kebebasan memilih keliru bagi sebagian besar orang, tetapi tidak buat yang menjalankannya. Lantas, jika merujuk kasus kematian mendadak  karena kelalaian manusia seperti yang  dilakukan Afriyani dan sopir bus, apakah kematian itu adil bagi para korban?


Dulu, waktu saya kecil, sering dinasihati orang tua begini. "Hati-hati di jalan, nduk, biar nggak celaka. Jangan minger." Hati-hati nduk, waspada. Ingat kanan dan kiri." Bertahun-tahun itu menjadi pegangan.  Tapi ketika sudah dewasa, saya menyaksikan  sendiri, betapa  kehati-hatian  pun tak menjamin kita bebas dari kematian. Kita berhati-hati, tetapi bagaimana jika orang lain tidak? Siapa yang mengira bahwa anak-anak yang berada di trotoar, baru beberapa menit sebelumnya masih main bola, tiba-tiba harus meregang nyawa ketika Afriyani yang baru saja "menguntal' ekstasi melaju dengan kencangnya dan menabrak mereka? 


Atau siapakah yang mengira, saat seseorang tengah pasif di rumah, tidak melakukan aktivitas apapun di luar rumah, tiba-tiba kematian menjemputnya ketika sebuah pesawat Mandala berisi  ribuan durian jatuh dan menimpa rumah si korban? Demikian pula karyawan tukang bakso dan pengunjung yang tengah menyantap bakso harus meregang nyawa karena serudukan bus Kurnia Bhakti di Puncak? 


Salah satu alasan saya menyukai awan adalah menyaksikan perubahannya yang begitu cepat. Dalam sekian detik dia begitu cerah, menit berikutnya  mendung dan tak berapa lama hujan.  Memandang awan, memberi kesadaran pada saya bahwa nasib kematian kita bisa seperti itu. Tak terduga.


awan dari kereta perjalanan jogja-jakarta ketika badai matahari
 Suatu siang, teman saya, Ayu, mengobrol di BBM. "Ya ampun, puanasnya. Eduan tenan." Dia tak sengaja tertidur. Pukul 15.00, dia terbangun dan mendapati jemurannya sudah basah kuyuk,kerja sehari sia-sia. "Gila ya, kita tuh ndak pernah menduga bahwa sejam lalu, puanasnya setengah mati, dan tiba-tiba hujan diserta angin kencang." Menyaksikan peristiwa kecil-kecil yang ada di depan mata, kami berdua sama-sama sepakat, kematian yang tak terduga itu seperti kita melihat tanda-tanda alam di sekitar kita. Tak terduga. Penutupnya. "Berbuat kebaikan, kini dan sekarang ini, memang cuma itu yang bisa kita lakukan." Kelak, ketika  kematian menjemput kita, bagaimana pun caranya,  yang tak mampu kita pilih, maka diri ini sudah siap. 


Sebagai referensi artikel berjudul Hidup dan Mati dalam sekejab buku : Revolusi batin adalah revolusi sosial by J. Sudrijanta, S.J mungkin bisa menjadi referensi kita semua. Selamat hari Minggu.



Yogyakarta, 11 Februari 2012

Pukul  13.30.

Sabu-sabu

sabu-sabu pating blasur
Pagi cerah. Saya memasak sabu-sabu. Teman saya memberikan resepnya. Dia saya undang ke rumah dan memberi instruksi, bumbu apa saja yang perlu dimasukkan, dan cara memasaknya. Ternyata gampang banget. Apalagi ada bumbu siap saji kikkoman yang dituang ke dalam mangku begitu kuah kaldunya sudah dibuat.


Kalau membayangkan namanya, kelihatan susah cara membuatnya. Eh...ternyata gampang banget. Bumbu shabu-shabu cuma bawang putih, jahe keduanya dikeprek, merica ditumbuk,  dan garam. Sudah. Direbus, tanpa digongso terlebih dulu. Ini memang menu sehat bagi orang yang diet. Untuk rasa kaldunya tinggal pilih, daging, ayam, udang. Karena saya tidak mau  daging dan ayam, saya pilih udang.


Nah, untuk sayurnya, tinggal pilih, brokoli atau sawi hijau, pokcai. Suka-suka. deh. Sayur hanya dimasukkan ketika kita mau menyantap shabu-shabu. Jadi, meski sudah dipanasi berhari-hari, sayuran yang kita santap tetap segar.


Pas saya bikin pertama, hahhaha...kok rasanya pating blasur ya. Pating blasur itu artinya ndak jelas,  ngalor ngidul. Tapi ya sudahlah. Tetap saja saya santap. Begitu  udang utuh  masuk ke mulut....hiii..tetap enak, kok.  Mau?


Yogyakarta, Minggu, 11 Februari 2012

Pukul  11.25