Sabtu, 11 Februari 2012

Ngintip Blog

Setelah jadi blogger (busyet kedengarannya kok gagah ya) saya suka intip-intip blog teman-teman. Mengintip blog itu asyik lho. Bukan untuk membanding-bandingkan tulisan sih. Tapi  lebih tertarik, cerita dia hari ini apa ya? Isi kepala beda, aktivitas berbeda, maka yang ditulis juga pasti beda. Senang sekali dengan warna warni hidup ini.


Dari intip-intip itu belanjaan kita jadi banyak. Ya belanja ilmu, wawasan, dan keunikan pribadi. Dari mengintip blog saya juga tahu bahwa ada banyak hal-hal sederhana yang sering terlewatkan karena kebiasaan. Misalnya peran ibu rumah tangga. Menjadi ibu itu buanyak banget kerjaannya.


Tapi sejauh ini blog yang saya intip masih sedikit sekali. Maklum lagi sakau dengan blog sendiri. Kayak anak kecil yang dapet mainan baru :)Tiap hari saya  semangat banget update blog. Sampai-sampai beberapa temen bilang,"Gila! Produktif banget." Saya memang tengah mempertahankan ritme menulis saya yang setahun belakangan  kacrut. Nah, begitu sudah "on" maka saya tahu tidak akan berhenti menulis. Ibarat motor yang akan dipakai pertama kali, perlu pemanasan. Hehehe. Semoga tetap konstan ya. Pekerjaan saya menulis. Kalau mati gaya, mau makan apa? :( 



Dari intip-intip blog ini, ada blog temen saya di http://episodediri.blogspot.com berjudul ibu rumah tangga yang cukup membuat saya diam sejenak. Jadi ibu rumah tangga itu ndak sesederhana yang saya  bayangkan. Perlu banyak energi. Dan kalau tak menyadari peran itu, saya pikir jadi ibu rumah tangga bisa cuma abal-abal doang.


Jadi ibu rumah tangga yang sukanya mengeluh atau menyerahkan sepenuhnya tugas kepada asisten rumah tangga. Tapi mengingat banyaknya pekerjaan itu mulai dari membangunkan anak-anak mereka, memandikan, memasak,mencuci piring, hingga melayani suami, sampai dia sendiri bekerja, saya jadi bertanya-tanya pada diri  ini,  bisa nggak ya melakoni rutinitas ini. Wowww...luar biasa jadi ibu rumah tangga.


Saya jadi inget sahabat saya Ine, pemain teater  yang kini sutradari. "Sehebat apapun perempuan, mau jadi pejabat, sutradara, aktris, di rumah dia tetap mengurus anak." Secara naluriah, anak juga akan lari ke ibunya, bukan ke bapaknya untuk urusan printil-printil seperti memakai baju, mau makan, mandi. Kalaupun ada anak-anak yang minta pertolongan ke bapaknya, jarang banget.  Saya menyaksikan sendiri kala saya berkunjung ke teman atau sanak saudara momen-momen seperti ini betapa repotnya para ibu-ibu.


Suara teriakan  di pagi hari meminta anaknya bangun, mandi, sarapan kayaknya jadi  rutinitas ibu-ibu seluruh dunia deh. Sahabat saya saking kencengnya "bengok-bengok" dengan tiga putera puterinya, dijadikan keisengan sang suami.  Konyol dan lucu juga. Suaminya merekam raungan sang istri di pagi hari. Begitu putera puteri mereka sudah berangkat sekolah, sang suami  menyodorkan hasil rekamannya ke sang istri. "Coba dengar suaramu." Teman saya keki berat, tapi juga tersipu-sipu malu.  "Weleh, suaraku tibake melengking  yo," kata sang istri tersipu-sipu malu. "Tapi kalau ndak teriak begitu, mereka bisa-bisa ndak sekolah," kata teman saya membela diri di depan suaminya.


Kisah lain diceritakan teman saya  SMA. Saya tahu, dia sangat pendiam, nyaris tak bersuara di bangku SMA. Cerita lantas bersambung ke dunia anak-anak. Dia bercerita betapa setiap pagi dia harus senam mulut teriak-teriak ke anak-anak karena mereka susah bangun, males mandi, males makan. Ada saja yang membuat para ibu harus teriak-teriak.  Sampai-sampai dia bilang, "Kamu cek aja suasana  pagi ibu-ibu di seluruh nusantara, pasti  mereka senam mulut." Hahaha. Saya ngakak.Kesimpulan saya, jangan pernah remehkan peran ibu rumah tangga ya? Peran mereka tak ada bedanya dengan para pekerja kantoran.


Kembali ke soal intip-intip blog, kemarin saya tergelak membaca postingan sepupu di http://indahnyahariku.blogspot.com yang lucunya minta ampun. Polos, lugu, dan pelupa. Yang terakhir sifat pelupanya  mirip saya haha.  Di blognya, dia bercerita ketinggalan kacamata minusnya di rumah dan harus beli kacamata tembak. Dari blog ini saya jadi thu ada kacamata minus yang dijual Rp 30.000. murah amat yak. Nggak kebayang kan? Soal bagaimana kelucuannya, silahkan baca sendiri, deh.


Dari intip-intip blog itu, cerita sederhana peristiwa  keseharian memberikan warna bagi saya. Menyadarkan kepada saya bahwa setiap manusia membawa keunikannya sendiri.  Tulisan yang tanpa bermaksud menggurui, hanya sekedar mencatat, menceritakan, mereportasekan yang dilihat dan diamati. Seru rasanya.


Yuk, ngeblog.

Yogyakarta, 10 Februari 2012

Sudah hampir tengah malam nih.

Jumat, 10 Februari 2012

Perayaan Cap Go Meh, Untuk Siapa?

Imlek di Ambarukmo Plaza tahun lalu
Serbuan "naga" yang mengolet dengan atraktifnya di Titik Nol Kilometer menjadi puncak acara Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) VII. Bertajuk  "Jogja Dragon Festival" warga Yogyakarta umpel-umpelan memadati kawasan sepanjang Jalan Malioboro, Senin,(6/2). Termasuk saya yang malam itu tergopoh-gopoh pingin menyaksikan  naga terpanjang 130,6 kilometer. Lebih dari itu saya ingin menjadi bagian peleburan warga pribumi dan Tionghoa dalam pesta rakyat ini. Pastilah menyenangkan.


Serbuan naga  di titik sentral Kota Yogyakarta itu,  menandai malam perayaan Cap Go Meh atau tanggal 15 bulan pertama, Tahun Baru Imlek  yang sekarang jatuh sebagai Tahun Naga. Menurut Wikipedia, Dialek Hokkien  secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama (Cap = Sepuluh, Go = Lima, Meh = Malam). Ini berarti, masa perayaan Tahun Baru Imlek berlangsung selama lima belas hari.



Meriah betul malam  itu, kawan. Karena saya tidak mau berangkat gasik,  jelas pintu masuk Malioboro sudah ditutup. Semula saya pingin menyaksikan di titik Malioboro Mall, biar bisa melihat ular naga panjangnya, teringat lagu  kala saya masih anak-anak. Saya melipir ke Hotel Melia Purosani. Wah....sudah penuh juga.
Saya kemudian merapat ke jantung tempat berlangsungnya acara. Titik Nol kilometer. Parkir di kantor Pos Besar  yang seperti biasa membayar karcis motor 200  persen lebih  tinggi dari hari biasa, saya masih merasa beruntung mendapat  tempat parkir. Terlambat sedikit saja, mungkin saya cuma gigit jari.


Di tengah-tengah titik itu, panggung cukup besar, duduk Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Saya liat teman-teman  wartawan berada di area itu. Wah enak. Bisa lega. Malam ini saya penonton yang berjubel bersama puluhan ribu warga Yogyakarta. Keringetan. Leher terjulur-julur sampai pegal. Beruntung, badan saya cukup tinggi. Jadi masih bisa menyaksikan atraksi naga Hoo Hwan  Wee. Naga warna warni itu meliuk-liuk, berputar-putar, melompat ke sana kemari.  Wah, hebat. Berapa lama yah mereka latihan hingga tercipta harmonisasi gerakan yang  begitu  sedap dipandang?


Tapi di tengah berlangsungnya acara, saya merasakan ada keganjilan. Ke mana saudara-saudara warga Tionghoa yang  merayakan Cap Go Meh ya? Kok, tidak tertangkap mata saya dalam radius puluhan meter? Panggung VIP?  Kalaupun ada, jumlahnya  puluhan saja.  Panggung tak mungkin memuat ratusan tamu undangan. Mereka menjadi  pemain barongsaikah?  Iya, memang. Tapi berapa banyak? Oh mungkin mereka di titik lain? Tapi mosok, sih, mereka cuma terpusat di satu titik?  Salah satu alasan saya tergopoh-gopoh mendatangi  festival ini karena membayangkan cairnya kebersamaan warga Tionghoa dan pribumi lainnya. Pasti asyik juga ya, melebur bersama  warga Tionghoa yang merayakan. Pesta rakyat ini benar-benar ada di pelupuk mata saya.


Apa daya, yang saya bayangkan berbeda dengan kenyataan. Lantas saya membatin. Perayaan semeriah ini sebenarnya untuk siapa ya? Kata-kata pembauran yang digembor-gemborkan pembawa acara itu, sungguh indah. Tapi kenyataannya? Mosok sih sudah tujuh tahun peringatan, belum kelihatan hasilnya pembauran itu. Tapi meski ada pertanyaan mengganjal, tetap saja hati ini bahagia. Saya  pulang lebih awal, karena takut tak bisa bergerak. Ular naga panjangnya juga tidak bisa saya saksikan. Begitu pula pesta kembang api sebagai penutup acara.  


Saya sudah puas menyaksikan  replika kapal Laksamana Cheng Ho yang mengawali kirab. Juga replika Naga Laut Hai Long Wang membagi-bagikan kue-kue keranjang kepada penonton yang berdiri di tepi jalan. rakyat berebutan. Tentu karena tempat saya jauh, kue keranjang tak saya dapatkan.

Yogyakarta, Jumat, malam minggu kecil 9 Februari 2012

Pukul  19.10

Kamis, 09 Februari 2012

Salah Sambung

TNI AU latihan pesawat tempur di atas langit Jogja
 Berapa jam kesadaran yang kita miliki dari 24 jam sehari. Saya yakin seperempat hari saja kita memiliki kesadaran syukur Alhmadulilah. Saya termasuk orang yang ndlenger. Kalau di-Indonesia-kan apa ya artinya? Nggak fokus. Hilang konsentrasi. Lantaran  sudah menganggap ini masalah serius maka saya belajar sadar setiap saat. Meditasi salah satu latihan kesadaran itu. Pengaruhnya cukup  ampuh buat saya, meski belum bisa 100 persen. 
Seberapa parah sih, ndlengernya? Ini kejadian beberapa tahun lalu. Ketika saya masih bekerja di Jakarta, komunikasi dengan narasumber kerap menggunakan telepon. Tapi dengan catatan, saya mengenal dengan baik nara sumbernya. Nah, penyakit  saya adalah terburu-buru. Ndelalahnya, kerapkali  saya memasukkan nama narasumber itu  dalam telepon seluler dengan kode-kode jabatan dan nama yang seringkali malah lupa.


Lha masalah muncul ketika nama orang itu sama, di instansi yang sama, tetapi beda  seksi. Kadang-kadang sebuah kebetulan itu memang tak terduga, bukan? Katakanlah nama si nara sumber ini Subardi. Begini dialognya percakapan kami


Saya: Selamat pagi Pak Bardi.
Subardi: Selamat pagi Mbak Rurit.
Saya: Sehat, Pak?
Subardi: Oh sehat. Tumben telepon. Ada apa?
Saya: Begini lho Pak, saya mau menanyakan bla bla bla...kalau tidak salah pesawat latih TNI yang jatuh.  Saya jelaskan peristiwa 5 W 1 H.Sampai berbusa-busa...Kira-kira butuh 5 menit menjelaskan. Saat dialog terjadi...saya mulai menyadari kok si nara sumber  ah... uh ...eh ...oh...saja ya?
Saya : Maaf, pak. Ini benar Pak Subardi kan?
Subardi : Iya, Mbak. Pak Bardi.
Saya: Kok suaranya agak berbeda ya?
Subardi: Saya memang sedang batuk dan pilek.
Saya: Oh...makanya kok suaranya berbeda. (tapi saya terus saja kepikiran, "Kok ini bukan suara Pak Bardi yang saya kenal ya?) Nah, saya lanjutkan, Pak. jadi bagaimana Pak, Apa penjelasannya soal  peristiwa itu?
Subardi: Saya kan bukan pejabat yang berwenang menjelaskan ini? Coba di bagian ini (dia lantas menjelaskan instansi yang di maksud).
Saya: Lho ini bukan Pak Bardi yang di instansi ini? (Saya sebutkan nama bagiannya).
Subardi: Bukan, Mbak. Saya Subardi di bagian lain.
Saya: Waduh...maaf Pak. Namanya sama.

Weladalah....sudah ngguambleh 15-an menit. Salah sambung pula. Tepuk jidat 100 kali. Hiks....


Kasus lain yang bikin saya lemas juga karena salah sambung. Tapi kali ini bukan telepon tetapi SMS. Kali ini "korban" saya, pejabat paling tinggi di Kopassus, jenderal bintang dua. Saat itu ada kejadian bencana di Aceh kalau tidak salah dan  darurat militer masih diberlakukan.   Ndelalahnya, ketika saya SMS-an untuk menanyakan beberapa hal kepada yang bersangkutan, si pejabat sedang main golf. 


Waduh...nurani saya langsung bergejolak. Saya kebetulan punya teman yang bekerja di stasiun televisi. Saya curhat sama dia dan memberikan informasi ini melalui SMS. Kira-kira begini bunyinya. "Tahu nggak,  negara lagi susah, ada perang dan bencana,  sempat-sempatnya si bapak main golf?.Payah." Dan karena ndlenger itu tadi,  bukannya memasukkan nomer teman saya tadi, eh terkirim di nomer si pejabat. Hanya beberapa menit setelah saya memeroleh informasi kalau yang bersangkutan main golf.

Hiyaaaaa.....menyadari kekeliruan itu, dengkul saya sampai lemas. Bisa membayangkan bagaimana perasaan saya waktu itu? Ngomongin orang, eh yang  diomongin saya kirimi  SMS.Mau memberikan klarifikasi kok malah aneh. Sampai panik saya menghubungi teman ini. Setelah salah sambung  nomer telepon itu, saya tiarap untuk beberapa waktu. Ndak berani tunjuk muka. Hiiiii.....tatut. Pernah mengalami peristiwa seperti saya?

.
Yogyakarta, 10 Februari 2012. 

Pukul 10.00

Salah Eja


Teknologi memang mempermudah kita berkomunikasi dengan siapa pun. Ada blackberry, WhatsApp, ipad.. Tinggal milih teknologinya dan punya  budget berapa? Mempermudah komunikasi, jelas. Tapi apakah dengan  teknologi  yang maju ini, kita lantas luput dari kesalahpahaman dengan teman, pacar, suami atau istri, atasan, bos besar eh kalau itu istilahnya Angie ding, si trending topic di twitter beberapa hari terakhir.


Saya kok yakin, pasti di antara kita ada yang selip soal ini. Kok bisa? Salah  eja dalam menulis huruf salah satunya. Ini bisa terjadi lantaran antara  tangan dan pikiran  tidak klop. Tangan terlalu  cepat, sementara pikiran sudah langsung kadung menekan tombol send.

Contoh kesalahan yang terjadi antara kakak dan saya beberapa hari lalu.

Saya: Mbak, jadi pesan tas?
Kakak: Jadi.
Saya : Warnanya nggak ada yang hitam je, gimana?
Kakak:  Warna ndak papa  beda asal model sama dengan punyamu.
Saya: Oke deh, aku pilihkan yang ping bagus. Ini fotonya ya
Foto terkirim. Kok tidak ada jawaban.
Saya memutuskan sendiri. Memilih warna yang sesuai selera saya. Tidak berapa lama kemudian.
Kakak : Gimana sih mosok warna pink. Orang tua kok disuruh pakai pink.
Saya: Itu warna fotonya coklat, mungkin  buram. (grrr saya sudah mulai nggondok). Saya masih mengira hasil kesimpulan warna pink itu dari gambar yang terkirim.

Kakak: Pokoknya kalau pink aku nggak mau, nggak mau ganti.
Saya: Lha yang milih warna pink itu siapa?
Kakak pun memngirimkan dialog saya sebelumnya. Oke deh, aku pilihkan yang ping bagus. Inikan kamu bilang warna pink.Saya:  Maksudku bukan ping. Tapi plng. Plng = paling. Hahahaha.


Contoh kedua. Masih dengan kakak saya.

Kakak :Jadi kesini nggak? Kalau jadi jam  13.30. Acara kelar jam segitu.
Saya: Jadi. Nanti aku kesana.
Kakak: Oke deh. Ekang nanti juga datang. Jadi bisa ketemu sekalian.
Saya:  Oh sudah kontak-kontakan sama Pekan to?
Kakak : Iya. Cu.

Ketika datang ke TKP.Muncullah si Elang.
Saya: Pekang mana? Katanya mau datang?
Kakak : Lho siapa yang bilang Pekang datang?. Elang yang datang. Aku heran kok kamu bilang Pekan. Siapa itu?.


Kami berdua terus cocok-cocokan dialog dalam WhatsApp. Sudah tahu kan dimana salahnya? Kakak saya menulis nama Elang jadi Ekang. Kebetulan kami berdua punya teman namanya Pekang. Nah, saya juga salah mengeja nama Pekang jadi Pekan. Kesimpulannya, kami berdua kalau dalam bahasa Jawa sama-sama pating blasur. Kalau orang Betawi bilang  Joko sembung  bawa golok deh. Nggak nyambung komunikasinya.


Kesalahpahaman yang sederhana ini sebenarnya bisa jadi masalah besar kalau kedua belah pihak sama-sama emosi. Tapi kalau disikapi dengan dingin, yang ada justru bikin kami berdua terbahak-bahak. 


Soal  salah eja mengeja ini, tentu tak hanya dalam teknologi. Teman-teman yang membaca blog ini, beberapa diantaranya, memberi masukan agar blog ini dibaca berulang-ulang. Soalnya sering salah ejaan jadi kerap mengganggu proses membaca. Duh, maaf ya. Kalau saya lagi buru-buru pingin menyelasaikan tulisan sementara harus pergi, saya memang kerap tidak cek ulang. Jadinya begitu deh. Apalagi kata-kata yang mesti di underline karena tidak baku, waduh, malesnya. Belum lagi SPOK dan DM - MD-nya.


Kadang-kadang saya agak ngeles-ngeles menjawab pertanyaan ini. "Ini artinya kalian peduli kalau tulisanku sering salah eja." Atau "Ah aku pingin bebas mengekspresikan diri. Jadi ndak perlu lagi mikir DM - MD sih." Sejujurnya memang alasannya rada-rada males sih. Tapi jangan dicontoh deh, untuk alasan satu ini.


Sebenarnya, paling gampang belajar menulis dengan benar ini ada kuncinya. Saya melakukannya ketika menjadi wartawan baru. Setiap hari tulisan asli dan hasil editan redaktur saya  print dua-duanya. Dari kata perkata saya pelajari mana yang salah, mana yang benar. Hasilnya? Setidaknya pada masa itu, ejaan jarang ada yang salah. Meski tidak pernah sempurna, bahkan saat saya menulis ini sekalipun. Hehehe. (Gunanya editor apa dong? Begitu selalu pembelaan diri saya). Lha kalau blog ini salah eja gimana? Kan ndak ada editornya? Jawaban saya: Kan kalian bisa menulis di komentar hehehe.


Yogyakarta,  9 Februari 2012.

Pukul 17.38.

Selasa, 07 Februari 2012

Panggung

Beberapa waktu lalu publik infotainment (hehehe) dihebohkan hubungan Krisdayanti-Raul  Lemos-dan istri Raul. Berminggu-minggu pemberitaan di infotainment ramai. Kalau saya, sih tahunya dari portal hehe. Habis ndak pernah nonton televisi je.


Apa bedanya kisah KD  dengan Angelina Sondakh yang artis itu? Kalau KD dituduh merebut suami orang, sementara Angelina yang artis dituduh korupsi. Nah, ini dia bedanya. Kalau orang mencecar si artis ke dalam pemberitaan nasional, tak hanya infotainment, ini karena ada uang rakyat yang digarong. Jadi bukan semata seorang artisnya, lho, tetapi kasus ini menyangkut kepentingan publik.


Nah, dua tahun lalu, saya menuliskan kisah ini di facebook. Bagi yang sudah, dilewatkan saja ya. Kalau yang belum, ya sudah dibaca saja. Tulisan ini juga termuat di http://mengoceh.blogspot.com


KD, Raul,dan Saya


Ketika KD melakukan jumpa pers beberapa hari lalu, puluhan SMS mampir ke handphone saya. Macem-macem bunyinya. Tapi ada satu SMS yang cukup menggelitik sehingga mendorong saya menulis note ini. Bunyi SMS ini: "KD udah ngaku pacaran sama Raul. Masih mau ditahan juga tuh foto yang dijepret Rurit?



Apa hubungan KD, Raul, dan (saya)? Ini bermula ketika saya mendapat tugas meliput di negeri bekas provinsi ke-27 negara kita, Timor Leste, akhir Desember tahun lalu. Pertemuan itu tak sengaja. Saya diajak oleh Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao untuk hadir dalam acara ulang tahun Presiden Timor Leste Ramos Horta. Penawaran Pak PM hanya sesaat setelah usai wawancara selama dua jam setengah jam dari satu jam yang direncanakan.


Salah satu tugas dari kantor yang mesti saya lakoni adalah mewawancarai Pak Ramos Horta. Acara dadakan ini jelas di luar rencana saya. Tapi mendapat kesempatan tak terduga untuk wawancara Pak Ramos jelas seperti mendapat durian jatuh. Maklum, saya belum sempat memasukkan surat permohonan wawancara lantaran libur Natal kantor pemerintahan tutup.


Pak PM menjanjikan akan mengenalkan saya pada Pak Ramos untuk kepentingan wawancara tersebut. Pertemuan itu terjadilah. Sebelum acara peniupan lilin , kami bertiga bertemu. “Transaksi" permintaan wawancara kepada Pak Presdien berjalan mulus, cuma butuh waktu lima menit. Saya diterima Pak Presiden, pukul 10.00 tanggal 27 Desember, keesokan harinya, tanpa birokrasi yang ruwet. (Ah andai Indonesia seperti ini. Mungkin nggak ya?)




Pak PM, Pak Presiden, dan saya kemudian berpisah. (Ya jelaslah, saya, kan bukan first lady-nya?) Mereka kemudian ngobrol bersama tamu yang malam itu berjumlah tak lebih 150 orang.


Begitu sendirian, saya celingukan. Mata saya menyapu pada tamu undangan yang hadir, siapa tahu ada yang saya kenal. Saat itulah saya menangkap dua sosok yang begitu dikenal di Indonesia. Christine Hakim dan salah satu diva Indonesia, Kris Dayanti. Dari obrolan teman-teman dan media portal yang kadang saya baca, KD panggilan akrabnya, tengah menjadi perbincangan hangat karena terlibat kisah asmara dengan pengusaha asal Timor Leste, Raul Lemos. Menurut pemberitaan, Raul masih terikat hukum perkawinan dengan istrinya . Tapi kalau benar, kok berani betul ya Raul mengajak KD dalam acara resmi presiden yang pasti dihadiri oleh banyak tamu penting di negara itu. (Apalagi dari informasi yang dengar di TL, istri Raul, keponakan bekas Perdana Menteri Marie Alkatiri)


Malam itu, KD terlihat anggun dengan rambutnya yang disanggul. Dia mengenakan batik warna coklat tua. Wajah KD tak hentinya mengulum senyum. Bungah itu jelas terpancar dari matanya yang bersinar.


Tentu KD tak sendirian. Sesosok lelaki tinggi tegap, berkulit coklat, dan dandy, menemani KD. Lantaran belum pernah melihat wajahnya, saya hanya menduga dia Raul. Tapi apa peduli saya? Memikirkan harus menyiapkan wawancara dengan Pak Presiden keesokan harinya saja sudah membuat saya nervous. Jadi, mana sempat ngurusin yang begituan.




Merasa sesama Indonesia, saya menyalami Christin Hakim, dan memperkenalkan diri sebagai wartawan Tempo. Agak sok akrab memang. Tapi rasanya garing juga kalau saya cuma diam mematung. CH kelihatan cuek. Sebaliknya, KD menyapa dengan ramah. Kami pun ngobrol.


Kepada KD, pertanyaan saya datar, kapan tiba di Dili, ngapain datang ke acara ini, atas undangan siapa, berapa lama tinggal di Dili, apa komentar dia tentang Dili? Saya bahkan tak menanyakan nama pria yang terus digandeng KD sepanjang acara itu. Tapi KD sempat menyebut “Pak Raul” sebagai pengusaha Timor leste yang berpotensi memajukan Timor Leste. Dalam wawancara singkat kami, KD juga bercerita tentang album barunya bersama Siti Nurhaliza, penyanyi asal Malaysia.


Selama kami berbincang, sesekali KD melayani beberapa fans yang minta tandatangannya. Kadang-kadang ditengah obrolan kami, Raul membisikkan sesutu ke telinga KD. Begitu pula sebaliknya, ketika KD ingin berbicara dengan Raul, maka tubuhnya yang pendek berjinjit menjangkau kuping Raul. Sungguh serasi dan berseri-seri.


Tak lama setelah itu, cara di mulai. Untuk Pak Presiden, KD menyanyikan dua buah lagu, satu lagu Timor, dan lagu Barat berjudul When You Tell that you love me.


Sebelum acara selesai, saya pamit pulang lantaran sudah dijemput. Tapi saya minta di foto bersama KD atas permintaan kakak dan teman jika bertemu public figure. Penata rias KD yang khusus dia bawa dari Indonesia-lah yang menjepret pose kami.


Dengan profesi wartawan, mestinya saya punya banyak koleksi foto para artis, aktor, maupun pejabat. Tapi saya kurang menaruh minat. Satu-satunya public figure yang saya “ngotot” minta berfoto adalah bersama Wakil Presiden Boediono, yang sempat saya wawancara ketika masa kampanye. Saya mengagumi ketenangannya, kesantunannya, dan kecerdasannya.


Usai kami bertiga foto bersama, saya ijin menjepretkan kamera kepada mereka berdua. KD tak menolak, sebaliknya Raul agak keberatan. Kepada saya, KD berujar,“Ini eksklusif lho.Ini baru pertama kalinya foto kami berdua di depan publik yang dijepret wartawan.” Saya pun dengan polos bilang, “Wah beruntung dong saya.” Tapi Raul buru-buru menyela. “Fotonya jangan dijual ya.” Saya membalas pernyataan Raul. “Saya kan bukan koran gosip,” saya menjawab sekenanya. Maksud saya, bukan posi media tempat saya bernaung untuk membuat pemberitaan semacam ini. Ada yang lebih pas, yakni tabloid dan infotainment.


Kami lantas berpisah. Tak terduga, saat pulang ke Indonesia, kami satu pesawat. Begitu turun dari pesawat, saya berada dalam bus transit yang sama. KD-lah yang menyapa duluan. “Hei mbak ketemu lagi.” Dari cerita teman-teman dan artis yang pernah saya wawancara, KD dikenal orang yang ramah pada siapa saja. Dalam dandanan yang santai, KD jauh lebih terlihat segar. Rambutnya yang sebelumnya disanggul dibiarkan tergerai. Satu hal yang sama dengan pertemuan sebelumnya dia hangat dan selalu menyunggingkan senyum.


Begitu masuk bandara Bali, semua orang harus mengantri cap paspor. Padahal antrian sudah mengular. Ketika bermaksud mengantri, Raul menawarkan bantuan. “Sekalian saja kita urus.” “Wah kebetulan,” dalam hati saya. Paspor saya pun berpindah tangan dan diuruskan oleh orang Raul di bandara.


Selama kurang lebih 40 menit, saya mengobrol dengan KD. Raul hanya sesekali menimpali, itupun kalau saya tanya. Setelah urusan paspor kelar, kami berpisah. Kepada saya, KD bilang akan bertahun baru ke Hongkong bersama kakaknya yang lebih dulu berada di sana. Cerita pertemuan antara KD-Raul dan saya selesai sudah. Tapi ternyata tidak dengan urusan foto.



Begitu tiba di Indonesia, saya langsung liputan harian. Liputan Dili sempat saya lupakan. Tapi cerita KD soal album barunya, saya kirimkan untuk Koran.


Tak dinyana, seminggu setelah pemuatan di Koran pada bulan Januari, ada teman dari sebuah tabloid menanyakan apakah saya memiliki foto KD. Soal, bagaimana dia tahu kalau saya bertemu KD, saya duga dari tulisan yang sudah terbit. Saya berterus terang kalau memang memiliki foto KD. Dia berniat membeli foto yang menurut dia belum ada satu pun media yang memuatnya. Saya menolak karena berbagai alasan.


Dia mencecar saya dengan berbagai pertanyaan, antara lain alasan saya enggan memberikan foto itu. Saya sempat menjawab, “Karena memang bukan urusan saya.” Sang temen mash tetep ngotot. Dalam “perdebatan” itu, lama-lama, kok saya merasa menjadi korban intimidatif dia ya? Dia bilang soal jurnalisme, soal wartawan senior, dan bla bla bla. Waduh, kok malah saya yang jadi korban.


Teman saya “ngotot” memakai foto KD-Raul sebagai alat bukti yang menguatkan liputan mereka. Tapi di sisi lain, saya paham, mungkin dia mendapat tekanan dari kantor tempat dia bekerja, agar dengan cara apapun mendapat foto itu.




Tapi saya tetap tidak bersedia memberikan foto mereka berdua. Saya memang sempat memberikan tawaran, silahkan ambil foto, asal ijin KD, tapi dia menolaknya.


Setelah itu, tidak ada cerita lagi. Saya berpikir urusan ini selesai. Saya juga tak tertarik “berjualan” meski saya tahu nilai keeksklusifan foto KD-Raul. Hingga tiga bulan berjalan, tepatnya tiga minggu lalu, teman yang sama mencoba menghubungi saya kembali. Selain dia, ada teman media lain yang berminat terhadap foto itu tetapi tidak terlalu serius memang. Berbeda dengan tabloid teman saya yang memang benar-benar membutuhkan foto itu.

Dia meminta saya mempertimbangkan kembali pemuatan foto KD-Raul dan berkonsultasi dengan kantor Jakarta. Saya berkontak dengan redaksi di Jakarta dan mengatakan tidak akan memberikan foto itu. Rupanya urusan foto belum selesai. Pemimpin redaksi tempat dia bekerja, mengontak atasan saya, meminta koleksi foto KD. Bisa ditebak, urusan ini melebar. Bagian foto tak pernah menemukan foto itu lantaran tidak pernah saya laporkan di bagian pendataan foto. Atasan saya yang semula tidak tahu menjadi tahu.





Namun, teman dari Jakarta dan Biro menjelaskan duduk permasalahannya dengan para “petinggi” media kami. Beruntung, media tempat saya bernaung masih menghargai sikap saya . Mereka satu suara soal foto KD-Raul, menjadi hak saya untuk mengedarkan atau tidak, menjual atau menyimpan foto eksklusif itu.

Ada beberapa alasan saya keukuh tidak ingin mengedarkan foto itu saat semua media mencari foto mereka berdua. Pertama, urusan itu tak berdampak kepada publik. Sebagai contoh, kasus korupsi, penyelewengan jabatan dan kekuasaan dll. Kalau misalnya, KD atau Raul terlibat kriminal atau mereka terkena kasus korupsi yang melibatkan pejabat, bisa jadi foto itu saya edarkan. Tetapi untuk persoalan pribadi, itu bukan ranah saya.


Kedua komersialisasi industri infotainment sudah demikian mengerikan. Bombardir pemberitaan yang ditayangkan berulang-ulang terhadap satu kasus, membuat saya miris. Sebaliknya, masyarakat tak mendapat apapun, kecuali tontonan yang kurang mendidik.


Memang, jika foto itu tayang di tabloid, tak sedahsyat bila tayang di infotainment. Tapi bagaimana jika hasil jepretan di tabloid itu lantas dipakai oleh infotainment dan ditayangkan secara bombardir. Bukankah saya juga turut mendukung komersialisasi ini terjadi di depan mata?



Karena pemberitaan yang bombastis, orang bahkan lupa lagu-lagu yang dinyanyikan penyanyi, termasuk KD bisa menghibur kita yang tengah jatuh cinta, lara, bahagia. Saya tidak terlalu ngefans- amat dengan lagu-lagu KD. Cuma, kalau berkaraoke, saya tak pernah lupa menyanyikan dua buah lagunya, Menghitung hari dan Penantian.


Saya tidak pernah menyesal, foto itu hanya menjadi bagian koleksi pribadi semata. Meski ganjarannya, saya jelas tidak mendapat apa-apa, uang ataupun popularitas. Saya dengan sadar memilih itu. Alasan mendasarnya, saya ingin menyisakan ruang pada diri saya yang akhirnya saya bagikan juga di sini: secuil hati nurani yang belum mati. Saya percaya nurani tidak akan pernah mati, jika kita terus berusaha menjaganya.


Tanpa mengurangi rasa duka yang mendalam peristiwa Tanjung Priok, semoga sekeping kisah ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.

Yogyakarta, 15 April 2010

Senin, 06 Februari 2012

Si Artis


Panggung politik saat ini sedang tertuju pada Angelina Sondakh yang dijadikan tersangka Komisi Pemberantasan Korupsi. Panggung akan kembali gegap gempita jika si artis yang mantan puteri Indonesia ituditahan. Belum ditahan saja,  informasi di televisi sudah "meraung-raung" tiada henti. Bikin saya sumpek. Kenapa? Sudah kadung pol-polan beritanya...eh endingnya...begitu-begitu aja. Maka dalam dunia perpolitikan, saya lebih suka menyebutnya panggung. 



Yuk,   ke http://mengoceh.blogspot.com

Minggu, 05 Februari 2012

Tulisan Lawas

dok: istimewa
Badan saya sedang tak enak. Tapi karena saya tidak ingin ada yang kecelek, maka saya postingkan tulisan note di face book beberapa  waktu lalu. Meski cerita lama,semoga tetap enak untuk  dinikmati.


 Sensasi Tersembunyi

Masihkah Kalian Punya  Sensasi Yang Belum Terwujud?

Saya punya. Mungkin buat orang lain bukan sensasi,  tetapi buat saya ‘iya’.  Memang sih  sensasi saya  norak. Tapi namanya juga angan-angan,  nggak ada salahnya kan? Siapa tahu mewujud .   Pertanyaan itu diajukan oleh salah satu kawan ketika kami “nyangkruk “ bertahun lalu. Sembari menyeruput coklat, minuman kegemaran saya, kami menghabiskan  cerita sensasi ini sampai berbusa-busa.

Tadi malam,  obrolan sensasi  juga terjadi kala saya dan seorang kawan menyeruput coklat. Kali ini saya yang memulainya. Tak jelas bagaimana awalnya, tahu-tahu  obrolan sensasi menghangat.  Terbersitlah ide menuliskannya dlam note.  Nggak penting, mungkin.

Tapi akhir-akhir ini saya  mesti banyak menulis guna  menciptakan atmosfir menulis setelah saya padamkan selama empat bulan.  Apa alasannya, tidak penting untuk diceritakan. Terlebih kawan saya menagih tulisan  ini pagi tadi. Wah saya memang perlu diingatkan, biar nggak “nggambleh”. Jadi mari kita bahas sensasi  impian saya.

“Saya ingin berciuman dengan  orang yang saya cintai  di lift yang angka lantainya lebih dari 25,” kata saya kepada dia.  Saya berhenti sejenak,  menyeruput cuklat  bertabur keju di depan saya. Hemmm nikmatnya.  Mata teman saya terbeliak. “Hah? Nggak biasa ini?,” katanya.  “Ya namanya juga sensasi, pasti  agak anehlah,”  jawab saya buru-buru.  “Sensasinya dimana?,” tanyanya lagi. “Berciuman di lift yang punya  lantai di atas angka 25 itu butuh waktu agak lama, lho?. Setidaknya 10 menit bolak balik. Belum lagi kalau di tiap lantai ada yang tiba-tiba masuk. Nah deg-degannya itu yang  pasti bikin sensasi tersendiri. Antara menikmati ciuman itu sendiri dan harus berkonsentrasi jika “ting …ting” tanda ada orang masuk. Gugup pastilah, apalagi kalau ketahuan orang.

Teman saya manggut-manggut.  Ekspresinya  sulit saya ceritakan.  Tapi kurang lebih “Wong aneh tenan ki koncoku.” hihihihi. Memandanginya, saya cuma  cengar cengir dan mengulum senyum.

Cerita tentang gugup itu sendiri, bukan perkara sederhana untuk saya.  Gugup , buat saya adalah sensasi  yang  menggetarkan.  Coba kalian ingat, kapan terakhir kali gugup.  Gugup yang saya ceritakan bukan  karena ketahuan korupsi lho. Dalam konteks ini,  gugup yang sedang saya bincangkan  ketika kita sedang bersuka-suka dengan  teman,  pacaran  baru tetapi masih malu-malu, ketemu temen baru, atau ya gugup karena tidak ada  alasan. (aih kalau ini nggak mungkin).  Pendek kata, getaran  kegugupan itu sendiri,  sensasinya juga tak terjemahkan.  Bikin gagu, jantung berdegup lebih kencang,  ngomong salah-salah, atau bertindak juga jadi kacau. Nah, begitulah.  “Bikin hidup lebih hidup,” kata  sebuah iklan.

Nah, dalam kitannya  mewujudkan sensasi  itu, percaya tidak, saya pernah sampai mengamati dengan detil,  gedung mana saja yang memiliki lantai di atas 25 tingkat. Karena  dulu saya tinggal di Jakarta,   apalagi kerap melakukan tugas jurnalistik, saya  jadi tahu  gedung-gedung mana saja yang memiliki lantai di atas  25 tingkat. Jam berapa  kantor itu padat pengunjung, jam berapa sela. Benar-benar niat ya?

Tapi  seperti  cerita bersambung, kisah  impian sensasi ini belum berakhir.  Bisa ditebak bukan?  Saya belum pernah melakukannya, meski  saya  punya pacar dalam beberapa masa.  Ehem.

Sensasi  kedua yang ingin saya lakukan adalah bersama yang tercinta  menyaksikan kembang api di Singapura.  Lalu apa sensasinya? Ini sebenarnya kisah yang  sempat saya  simpan rapat. Alasannya, sederhana, takut orang punya pikiran yang tidak-tidak. Tapi  sudah  saya buang persepsi itu karena  tidak ada yang perlu ditakutkan.

Kejadiannya tahun 2002. Saya melancong  ala backpacker dengan dua sahabat saya Zara dan Siska.  Pada waktu itu, saya hanya  memberikan budgjet Rp 3 juta dlam perjalanan ke ke tiga negara  Singapura, Malaysia, dan Thailand.  Selama  dua minggu perjalanan itu,   keuangan sudah menipis di Thailand.  Dua sahabat saya memutuskan naik   pesawat dari Thailand ke Indonesia. Saya ngotot tinggal. Alasannya sederhana. Saya ingin membuktikan  Rp 3 juta itu bisa nggak sih keliling ke tiga negara?

Saya naik perjalanan darat dari Thailand ke Singapura sendirian. Hehehe cukup heroiklah. Satu malam di bus, bener-bener  garing.  Dari Singapura perjalanan mestinya berlanjut ke  Batam menuju  Jakarta  dengan  pesawat.

Dasar  naluri petualangan saya, duit  tak sampai  Rp 500.000 masih ngotot tinggal semalam  di Singapura. Ya…hari itu tanggal 31 Desember,  saya  menginjakkan kaki  kembali di Singapura.   Biar agak keren (norak  betul) saya pingin  bertahun baru di Singapura. Aih…rasanya  waktu  itu agak keren juga ya kalau pas lagi nongkrong  sama teman-teman, ditanya,” Tahun baru kemana?”  Lalu saya jawab “Singapura.” Yeksss… ingat itu saya jadi malu. Norak norak. Saya pingin mauk ke got  kalau ingat kenorakan  itu.  hiiii.

Jadi begitulah. Saya memutuskan, biar badai topan melanda, saya harus bertahun baru di  Singapura. Pesta kembang api-lah yang menjadi magnitnya.   Ini karena saya dengar, pesta kembang api di Singapura keren banget.  Kembang api seperti nafas hidup saya. Saya suka sekali.  Kesenangannya sulit dilukiskan.

Nah, Inilah awal cerita sensasi  itu.  Di stasiun MRT  Jurong (saya agak lupa) saya melihat bule yang lagi  bengong.  Tampangnya kelihatan baik. Saya menyapanya.  Dia bilang mau cari motel.  Keinginan kami sama.  Dasar sok tahu, saya bilang, saya punya referensi hotel yang biayanya murah antara lain daerah Tanjung Katong.  Ketika kami telepon, hotel penuh semua.  Saya memang  konyol, malam tahun baru di negeri yang menjadi tujuan wisata, belum pesan hotel. Waduh…saya mulai panic. 

Atas rekomendasi dari warga Singapur, kami diminta ke Little India. Di kawasan itu, menurut cerita mereka, ada banyak  pilihan hotel yang harganya miring. Dan tibalah kami  di hotel, ketika petang menjelang.  Begitu tiba di hotel, astaganaga. Saya hampir pingsan.   Mahal amat. Jelek amat.   Nggak ada  pendingin, puanasnya minta ampun, kumuh. Yang bikin saya melotot, kok bisa ya kawasan   kayak gini bisa jadi jualan  wisatanya Singapura. Halah. Indonesia jauh-jauh lebih asyik dan menarik deh.  Saya sudah mau balik badan, cabut dari tempat itu. Tetapi Tobias, nama turis Jerman itu, melarang saya. Dia bilang, “Kan cuma untuk tidur sebentar saja.  It’s oke-lah,” katanya.

coba tebak gambar apa hayooo
Dan yaelah astaganaga. Harga kamarnya waktu itu   35 $ dengan kurs  Rp 5500. Sial, sial, sial. Bener-bener negara seiprit yang nggak yeye banget soal kemahalannya.  Sebagai perbandingan, saya menginap di Thailand dan Malaysia dengan tarif  Rp 125.000 hotel sudah AC dan dapat makan pagi.  Di Hotel Khaosan Road, kami lebih gila lagi, nginep Cuma Rp 20.00 semalam, tetapi jauh lebih manusia ketimbang kamar yang saya masuki di Singapur. Nggondok buanget.

Tobias sendiri juga terlihat  kaget dengan tarif  untuk hotel sejelek itu. Lantaran si backpacker ini  sudah menghabiskan uangnya  sebesar Rp 120 juta untuk keliling dunia, maka kondisi keuangannya juga sudah menipis.  Singapura adalah tujuan terakhirnya ke Asia. Selanjutnya dia akan mengunjungi Australia dan kembali ke Jerman.  Dengan duit yang makin cekak,  dia mengatakan  harus mengirit perjalanan.

Tak terduga, yang bikin saya melotot, dia berujar pada pemilik hotel. “Boleh nggak saya menginap di atap hotel ini.”  Saya terbeliak. Hah edan. Backpacker ya backpacker sih,  tapi saya ndak seedan itu, menginap di atas atap. Hiii.   Tapi saya diam saja.  Jelas saja si pemilik hotel tak memperbolehkan.  Tobias garuk-garuk kepala. Hemmm…sedetik kemudian,  dia bilang pada saya. “Hemmm…kamu keberatan tidak kalau kita share sewa kamar?  Mata saya melotot. Mungkin dia menangkap kecemasan saya. Dia bilang, “Kamu akan baik-baik saja,  kita hanya  sharing biaya kamar.” Sedetik saya berpikir. Tapi jujur, matanya terlihat  baik,  dan bukan tipe yang aneh-aneh.

Wadeuww….saya tolah toleh…Gugup….nah gugup memang sensasi  yang  asyik,kan? Si Tobias bilang, dia akan tidur di lantai kalau memang  tempat tidurnya hanya satu, meskipun harga kamar dibagi dua.  Hihihihi… Akhirnya saya mengangguk  setuju. Ternyata, tempat tidur kami  bersusun kayak jaman tanksi perang.  Bahannya bukan kayu, tetapi dari besi. Kalau kejedot kepala, lumayan juga tuh.  Dan saya bener-benr kejedut malam itu. Tobias mengambil tempat tidur  di atas, saya di bawah. Saya yakin aman, karena  untuk naik dan turun ke tempat tidur agak susah.

Rupanya  Tobias juga ingin menyaksikan pesta kembang api. Begitu tiba di hotel, dia  mencari informasi ke Orchard Road.  Saya memilih di hotel, mandi, dan istirahat. Tobias datang  2,5 jam kemudian.  Rupanya, dia jalan kaki dari Little India. (pantesan lama banget sampai hotel). Lokasi pesta kembang api itu di pinggir laut, Marina Bay.  Katanya  yang paling ramai dan  terbesar pada perayaan Tahun Baru.  Dari little India,  Tobias mengajak saya jalan kaki.  Katanya dekat. Tapi ternyata  1,5  jam  perjalanan. Gempor kaki saya. Alamakjan.  Jalan sama bule memang  doyannya pake kaki.

Dalam hati saya, jangan sampai  pulang jalan kaki lagi. Saya bilang ke dia. “Naik taksi deh, saya bayar nggak papa pulangnya.”  Tobias cuma  tertawa kecil. Dan begitu  sampai, lautan manusia sudah memenuhi kawasan Marina Bay. Untung kami tak terlewat gara-gara jalan kaki itu. Seperti yang  saya tebak, hampir sebagian besar orang berpasangan.  Duduk  di pinggir laut, angin cukup kencang bikin saya agak masuk angin. Saking asyiknya ngobrol, tak terasa jam sudah  menunjukkan  pukul 23.30. Dan ledakan api nan indah itu tibalah….wowww…saya bahkan masih mengingat keindahannya  hingga  sekarang.

Pesta kembang api   yang agak bikin  bibir saya menganga  adalah pesta kembang api  di halaman mall  Lippo Karawaci  tiap akhir pekan beberapa puluh tahun silam.  Tapi alamakjan, kembang api Singapura  benar-benar istimewa.  Kembang api itu  diluncurkan dari tengah laut. Langit  bersih…dan siiiiiiiuttttttt  duaaarrrr. Bulat bertingkat, ada yang  seperti kerucut,  ada yang seperti ekor naga.  Saya seperti anak kecil yang baru dapat mainan baru. Wow…wow…indah sekali.  Seolah-olah sayalah yang menikmatinya sendirian.  Saya bahkan lupa  ada Tobias  di sebelah saya.  

Saya benar-benar terhipnotis dengan pesta kembang api itu.  Tiba-tiba Tobias berteriak pada saya. “Ini sangat cantik, di negara saya saja, saya belum pernah menyaksikan yang seindah ini,” katanya.  Dalam hati saya mengatakan. “Wah syukur deh berarti aku nggak terlalu udik,  mengagumi  pesta kembang api ini. Dia yang dari negara  maju saja terkagum-kagum  hihi.”  Tobias tak henti-hentinya memotret  ke langit bertaburan kembang api.

Setengah jam diluncurkan…dan inilah saat menjelang detik pergantian  tahun. “10,9, 8, 7,6,5,4,3,2,1,” teriak massa.  Dan kembang api itu meluncur dari tengah laut seperti rentetan  mesiu jaman perang.  Bersaut-sautan.  Ledakan-ledakan api yang membentuk api indah  begitu membius saya.  Tempik sorak  dari lautan manusia terdengar. Happy new year…. Langit Marina Bay terang benderang oleh api yang bermacam-macam bentuknya.

Dan ketika dongakan leher kami terlepas dari langit, segera kami tersadar dengan pemadangan  di sekeliling kami.   Kami berdua   terkurung di antara pasangan-pasangan yang saling berlumatan bibir. Hanya beberapa inci dari tempat kami berdiri.  Clap clup clap clup, bercipokan menyambut tahun baru. Mereka mengepung kami dari depan, tengah, belakang.  Saya dan Tobias sama-sama  getir.  Kami berdua  sama-sama  jengah. Tetapi juga nggak bisa apa-apa.  Saya misuh-misuh dalam hati.  “Jangkrik, kelamutan kabeh.”  Tempat sudah benar,  suasana mendukung,  malam  kian melankolis, tetapi  orang di sebelah saya, bukan kekasih,  hanya orang asing. Ah, sedih betul, kawan.

 Saking gugupnya Tobias dengan pemandangan di sekitar, dia mengulurkan tangannya ke saya. Tapi lebih mirip kayak teletabbies itu lho, yang suka bilang “Berpelukan.” Nah, seperti itulah.  Dan saya menyambut pelukan itu.  “Bernada, happy new year,” katanya.  Matanya yang baik hati itu terlihat tulus. Lalu dia mencium pipi saya. Hihihihi..Tahun baru dengan orang asing,  dengan kepungan  pasangan  berciuman sungguh tak enak, kawan. 

 Sambil memandang langit  dimana kembang api  masih muncrat dengan indahnya,  saya berucap dalam hati. “Suatu saat saya akan ke sini,  menikmati kembang api, di malam tahun baru, berlumatan, jika perlu sampai pagi dengan orang yang tercinta.” Jadi begitulah…sensasi yang saya impikan itu.

Dan hem… bisa ditebak yang kedua kalinya.  Impian sensasi itu belum terwujud.  Sudah  beberapa kali  mengunjungi  Singapura, tetapi tidak  tahun baru, juga tidak dengan pacar. Aih….

Ending:

Tapi meski itu pengalaman manis dan getir,  setidaknya ada  beberapa hal berharga  yang bisa  saya bagikan.  Satu, laki-laki  dan perempuan dalam satu kamar, tidak  selalu harus “begituan” kata anak muda jaman sekarang.  Kedua, tiada taksi, tiada bus malam, apalagi ojeklah yauw (dalam hati saya bersyukur  tinggal di  Indonesia punya tukang ojek. Sumpah).  Malam itu, meski kegembiraan saya begitu berwarna seperti kembang api dan  kegetirannya  seperti menelan pil pahit, saya tak punya pilihan lain untuk jalan kaki. Hem…1,5  jam.  Lengkap sudah malam pergantian tahun itu.    Ketiga, percaya tidak,  meski kami melewatkan malam tahun bersama, kami sama-sama  tak meninggalkan alamat   email, nomer telepon, atau apapun itu.  Bahkan nama belakang keluarganya saja saya tak tahu sampai sekarang.  Jam 3 pagi kami  sampai hotel,  pukul 05.00 saya  mengendap-endap keluar dari hotel. Sebelumnya kami sudah berpamitan.  Tobias masih mengantuk. Matanya keriyip-keriyip. Tapi dia masih  turun dari tempat tidur, memeluk saya. “Goodbye,” katanya.  Saya juga menjawab pendek.”Goodbye.”


Yogyakarta, 17 Juli 2011