Sabtu, 04 Februari 2012

Brokoli Udang

Ca brokoli udang dengan nasi hitam. Maknyus
 Sudah berbulan-bulan ini saya tak memasak. Siang  ini ketika melihat postingan temen di blognya, ndelalahnya, saya punya bahan  sayur itu. Brokoli,  wortel, dan udang. Yiaaaa...Asyik. Bumbu dan bahan saya siapkan, bawang merah, bawah putih, lada hitam, garam, gula putih sedikit, margarin,dan minyak kiriman kakak dari Portugal.


Brokoli saya potong kecil-kecil, demikian pula wortelnya. Untuk udang, kepala, buntut, dan  sisiknya saya buang, jadi tinggal dagingnya saja. Setelah siap, bumbu saya oseng-oseng, lalu memasukkan udang, dan selanjutnya sayur wortel dan brokoli.


Sesaat saya biarkan sampai setengah matang, lalu saya icip. Wealah, enaknya. Padahal biasanya ngalor ngidul. Saya jelas nggak  ge-er kenapa  oseng-oseng brokoli saya terasa enak. Udang-lah penyebabnya.  Berbagi buat teman-teman yang belum bisa masak atau ndak pede masakannya tidak enak. Cobalah memasukkan udang di dalamnya. Ditanggung enak banget.


Itu sebabnya sampai sekarang  saya belum bisa vegetarian. Kalau ndak makan ayam sama daging, tiada masalah. Tapi kalau udang. Duh, berat, jek....Untung saja, saya tak kerap membeli udang. Kandungan kolesterolnya hiiiiii seram. Untuk orang  subur seperti saya, mestinya udang sudah dihindari. Tapi untuk akhir pekan ketika cuaca cerah seperti siang ini, sekali-kali bolehlah. Hehehe....



Yogyakarta, 5 Februari  2012

Waktu makan siang, 12.26.

Ayam dan Kucing

 
Selamat pagi....
Karena ini akhir pekan, maka saya akan memposting foto yang bercerita tentang ayam dan kucing. Tempat saya tinggal sekarang punya peliharaan  kucing dan ayam.  Sebenarnya saya tidak suka keduanya. Mereka kerap di depan pintu kamar saya. Mentotoli (mematuk) tanaman saya hingga  gundul di bagian bawah tanaman. Sementara si  puss suka kecing di depan kamar saya. Jengkel. Tapi mau bagaimana lagi.


Di depan kamar saya ada beranda. Kadang-kadang kalau saya masak dan menyantap makan di beranda itu, mereka datang tergopoh-gopoh.  Tentu, berharap mendapat sisa  rempahan makanan untuk si kukuruyuk dan  puss. Entah kenapa, meski ini  tak baik, saya selalu memberikan rempahan  nasi atau tulang sebelum kelar menyelesaikan makanan itu.  Dua jenis binatang yang berbeda menyantap makanan bersama. Hemmm. Pemandangan ini agak ganjil. Suka saya. Kelihatan rukun. Tapi ternyata tidak juga. Jika mereka sama-sama menyantap  remah, rukun banget. Tapi, kalau si ayam sudah kehabisan sisa rempahan, maka dia merebut  makanan milik si puzzy. Di totol-lah kepala si puzzy.  Tol ....tol...tol, kasian. Saya yang melihat  tingkah itu, buru-buru menghardik si kukuruyuk....Hus...hus...hus.

mematuk pusss


Nah, biasanya  si pussy yang mengejar-ngejar ayam, kan? Itu betul kalau masih piyek (anak-anak). Lha, ayam yang saya lihat sudah  besar, sementara  si kucing masih imut. Siapa paling besar, maka dia menyerang yang tak berdaya. Mirip orang yang punya kekuasaan. Apapun dilakukan jika punya kuasa. Jadi....kalau kelakuan mereka seperti ini, kesimpulannya  mirip apa hayo? Hehehehe....



Yogyakarta, 5 Februari 2012.


Pukul  08.20

Blog, Gaptek, dan Statistik

Sudah beberapa lama saya ngeblog, saya baru tahu kalau kita bisa melihat statistik asal negara yang datang ke blog kita, URL perujuk, dan berapa banyak  teman-teman yang masuk ke blog ini. Ndeso sekali ya saya ini. Kadang-kadang, saya agak malu dengan kegaptekan yang saya punya.


Bukannya ndak bisa, sih. Saya sengaja tidak mau belajar. Pembenaran dirinya. "Lha kalau apa-apa aku bisa,  nggak butuh orang lain dongi." Saya tahu, kadang-kadang diri ini naif. Belakangan, biar nggak parah-parah banget,  saya mencoba belajar yang  dasar-dasarnya saja. Tapi bahkan hal-hal mendasar saja, saya  tetap nggak paham-paham kalau menyangkut teknologi. Perkataan,"Duh, kamu tuh kok gaptek banget, sih." kerap mampir di kepala saya. Beberapa teman malahan mengeluh karena mesti berulang-ulang menjelaskan, tetapi tetap juga  bloon. Jadi, maaf ya teman-teman kalau saya kerap merepotkan dan bikin kalian ndak sabar.


Saya  pingin menceritakan pengalaman  paling mengerikan ketika saya baru punya BB. Seseorang menanyakan nomer PIN BB melalui pesan pendek. Saya menjawab begini. "Wah, kotaknya ada di rumah, je, ndak kubawa. Nanti kalau sudah sampai kukasih ya." Ndelalah, kawan ini kok ndak menjelaskan jika pin BB itu otomatis ada di profile kita. Sementara saya berpikir, nomer pin BB  itu cuma nempel  di kotak doang. Parah banget, kan?  Hiiiii kalau ingat itu, muka saya merah.


Kembali  ke soal  blog dan statistik, beberapa waktu terakhir, keinginan menulis di blog makin menggelora. Apa sebab? Ya, karena statistik ini. (catatan- semoga saya tidak terjebak  ala rating stasiun televisi) Dari intip-intip di statistik ini,  ternyata  baru menyadari bahwa saya punya banyak teman yang tersebar dimana-mana.  Dari catatan blog ini, teman-teman yang berkunjung dari Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Belanda, Maldives, India, Brazil, Uni Emirate Arab, Jerman, Belgia, Malaysia, Australia, dan tentu dari Indonesia. Mata saya mengerjab. Takjub. Mungkin saya kenal mereka karena sedang berada di negara itu, bisa juga teman baru.dari blog ini. Saya kirimkan salam hangat dan salam kenal untuk teman-teman. Senang sekali rasanya blog ini menemani dari jauh.  Mungkin kalian pas lewat saja, atau tidak sengaja memeroleh alamat blog ini. 


Oh ya...rata-rata kunjungan blog disini lumayan naik turun. Kalau saya tak memposting, hanya sekitar 50-an pengunjungnya.  Tapi kalau saya menulis aktif, rata-rata kunjungannya di atas 200 orang. Saya tidak tahu apakah ini jumlah kunjungan ini banyak atau sedikit. Yang terpenting, blog ini sempat terbaca. Terimakasih ya, teman-teman. Cupz. Tapi, mbok kalau kalian punya blog, saya dibagi alamatnya.


Semangat blog itu sendiri saya buat untuk  berbagi cerita  dan  mencatat peristiwa yang  saya temui sehari-hari. Sederhana dan ringan temanya. Terpenting dari semuanya,  tanpa bermaksud menggurui dan tak terjebak pada narsisme.  Semoga semangat menulis ini terus terjaga dan teman-teman yang berada di belahan manapun ikut memberikan masukan, jika memang ingin. Jika, teman-teman merasa artikel di dalamnya bermanfaat, saya berharap bisa diteruskan ke teman yang lain. Tapi kalau tak merasa perlu, ya sudah, dinikmati sendiri. :) :)


Sttttt saya juga baru tahu lho kalau  artikel bisa di setting untuk beberapa hari ke depan dalam blog ini....Ahhhhhhhhhh. Dan oh ya...mungkin teman-teman bertanya...kenapa blog ini begitu sederhana.  Cumaa gambar capung dan tak ada tagline. Jawaban saya juga sederhana. Saya benar-benar tidak tahu membuatnya. Blog ini saja, sepupu saya yang membuatkan hehehe. Terimakasih sepupuku.  Yang sudah sabar mentetor dari jarak jauh Jakarta-Yogyakarta. Harus buka laptop bersama dan mengajari pelan-pelan. Terakhir, selamat weekend teman-teman. Salam hangat dari tanah air Indonesia, tepatnya di Kota Yogyakarta. Sekarang hujan lebat...Dan saya berharap ada beberapa tulisan  yang bisa hasilkan malam ini.

Yogyakarta, 4 Februari 2012

Pukul  18.29.

Jumat, 03 Februari 2012

Puisi dari Sahabat (Lanjutan topik Kisah Tentang Sahabat)

dok: istimewa by prillia
Setelah kami membuat puisi bergantian, sahabat saya Ray, punya ide lagi. Puisi yang sudah kita  buat secara bergantian, dihapus dan diganti puisi sendiri.  Ray mengerjakannya hanya sehari. Sementara jujur, sampai hari ini cuma memandanginya berulang-ulang. Makin ngeper ketika membaca puisi lengkapnya dia. Hiks saya ndak berbakat bikin puisi, kawan.


Karena itu, saya akan mempublikasikan milik dia lebih dulu. Semoga saya mampu menyelesaikannya :)

Yogyakarta, 4 Februari 2012





Jalan Pulang

Sendiri disini,
Antara ombak dan rembulan..
Aku termangu, terpecah
Antara mengisi dan berbagi..

Dalam kenangan tentangmu, tentang kita
Dan waktu yang seperti membeku,
Menampar kesadaran
Membuatku bertanya dalam diam....

Adakah kau sedang terpana pada bulan yang sama?
Terkadang kesenyapan melumpuhkan
Dan mematrikan khayalku,
Di bebatuan dimana kuukir nama kita dengan tangan telanjang....

Kutau,gema hatiku telah sampai
Menyerumu agar kembali,rengkuh aku..
Bersama  nikmati malam
Berharap satu bintang tak lupa bersinar

Dan menuntun kita pada jalan pulang
Agar dapat kutanami lagi,sudut hampa di taman itu..
Dan,
Setelah sekian lama,sendiri tak lagi sepi

Tak lagi kita bergulat
Dengan gulana dan nestapa
Satu genggaman dalam kata
Dan kau.Dan Aku. Menjadi juara.

(Waidhan,16 Jan 2012 19:40)

Kamis, 02 Februari 2012

Isaias Banyu Martani


Perkenalkan ini Te Lulit, ibumu membahasakan itu padamu.   Tante akan memanggilmu Isaias, Banyu, atau tole, pada tulisan ini selanjutnya. Umurmu baru  tujuh bulan pada 17 Januari nanti.   Pada usia ini,  cerita ibu, kamu sudah mampu mengambil empeng dot, meminum sendiri  gelas  juice, dan berguling-guling kesana kemari.  


Kamu  dilahirkan di  Rumah Sakit  PGI, Menteng, Jakarta,  17 Juli 2011 bersamaan dengan tempat bintang  sohor Indonesia Dian Sastro melahirkan. Kok ya kebetulan ya, sayang. Jangan-jangan  kamu nanti  ketularan tersohor.  Ah ya…sebagai intermezzo saja,  hari lahirmu hanya berselang  satu hari dengan seseorang yang pernah singgah di hati tante. Tante menyebutnya lelaki di bulan Juli.  Sekarang kami berteman dan saling menyemangati satu sama lain. Tidak lebih. Soal siapa dia, ibu pasti akan bercerita kepadamu suatu  nanti.


Kamu adalah sejarah panjang bagi tante, ibu, dan ayah.  Di cerita ini, kelak ketika kamu besar nanti dan kamu bisa membacanya, mungkin saja   akan menjadi  sekelumit catatan hidupmu. Hanya untuk mengetahui  sejarahnya saja. Tidak lebih, tidak kurang.  


Ayahmu Ignatius Kristanto adalah teman  Tante di Jakarta. Ibumu, Yoseptin Titin Pratiwi  adalah sahabat ibu juga.  Kami sama-sama dari universitas  yang sama di Kota Surabaya, meski berbeda jurusan.  Ibu  dan tante pernah satu kos.  Ibumu cantik sejak dulu dan  digandrungi banyak laki-laki. Kemana-mana selalu ada pria yang mengintai. Hahaha.  


Bukan berarti  persahabatan kami mulus, Banyu. Persahabatan kami juga kerap diwarnai  pertikaian, meski tak berpanjang-panjang. Mungkin awetnya persahabatan tante lantaran  kami menyadari bahwa  setiap manusia unik adanya. Tante punya kekurangan, demikian pula ibu.  Bukankah kita semua  membawa karakter  yang berbeda.  Pendek kata, kami berusaha tak menonjolkan kekurangan yang kami miliki.  


Suatu hari dalam sebuah penelitian  dimana Tante ada di dalamnya,  ayahmu datang ke Surabaya.   Tante mengenalkan   ibu pada ayah.  Ayahmu mungkin terpesona dengan  kerlingan  ibu yang menggoda itu hahahaha….seperti  yang tante punya, kata teman-teman lho.  Ayah  jatuh cinta pada  ibu. Tapi ibu belum. Kesabaran  ayah yang punya hati seluas samudera-lah yang kemudian membuat ibu luluh. Mereka pun berpacaran, meski sempat jarak jauh. Setelah berpacaran  sekitar  empat tahun, mereka memutuskan menikah.  Tante hadir di Lumajang, tempat  lahir ibumu.


Senang rasanya menyaksikan kebahagiaan  ayah dan ibu. Tahun berlalu.Tapi belum juga ada buah hati mereka.  Rasa-rasanya tante tidak pernah bertanya-tanya kenapa  ibu belum memiliki  bayi. Hingga suatu hari ibu bercerita kandungannya bermasalah. Bukan berarti ibu mandul (ah tante sebenarnya tidak suka sebutan mandul) tapi hanya perlu sedikit usaha. Usaha yang memerlukan kesabaran dan biaya besar tentu saja. 

Pada tahun ke-5 pernikahan, ibu memutuskan untuk serius mendapatkan buah hati. Tahun-tahun panjang penuh kesabaran itu ibu lalui. Karena Tante sudah pindah ke  Jogja, maka komunikasi hanya melalui teknologi. Dan beruntungnya  teknologi ini tak membuat kami jauh secara hati. Meski dalam banyak hal seperti saat ibu harus menjalani operasi untuk mendapatkanmu, tante tidak hadir di sana, tapi Tante hadir lewat doa. 


Ibu menjalani program inseminasi  buatan. Begini  penjelasan sederhana proses inseminasi buatan itu menurut cerita Ibu kepada Tante. Sel telur dimatangkan dulu. Setelah hari ke -13 setelah mens dicek pakai USG. Nah kalau ada yang matang, besoknya sperma diambil dan dimasukkan  ke rahim  pakai jarum panjang.  “Nggak nyaman banget," kata Ibu. 


Isaias sayang, hidup ini sungguh-sungguh misteri. Ada sebagian orang setengah mati mendapatkan bayi seperti ibu, tetapi di belahan yang lain ada orang tua yang harus membuang anaknya. Ada pula yang mematikan kehidupan sebelum mereka sempat menghirup mafas. Panti asuhan masih bertebaran dimana-mana. Tapi begitulah hidup, Banyu. Hidup ini pilihan. Memilih menjadi baik, atau memilih sebaliknya. Tante, ibu, dan ayah tentu berharap kamu memilih yang terbaik.


Setelah menunggu bertahun-tahun, kesabaran itupun membuahkan hasil. Suatu sore...saat tante sedang membaca buku, ibu menelpon Tante. "Nduk, aku hamil." Tante bengong beberapa saat. Mata tante berkaca-kaca. Gembira yang tak terlukiskan. Sembilan usia tahun pernikahan, dan lima tahun perjuangan pulang pergi ke rumah sakit, antri hingga tengah malam itu tak sia-sia. 


Karena Tante suka kembang api, Tante umpakan ledakan perasaan itu mirip kembang api. Dimuntahkan ke udara, dan ketika byaarrrrr  meledak,   api dengan aneka bentuk yang  mendatangkan  keindahan. Begitulah rasanya.   Kelak ketika dewasa kau akan bisa merasakan bahagia ayah, ibu, dan  Tante menyambut kehadiranmu. 


Namamu pun tersemat di pundakmu. Isaias Banyu Martani. Nama yang sangat romantis. Isaias  nama lain dari Nabi Yesaya yang dikenal sebagai nabi pengajar. Ibumu-lah yang memberikan nama itu. Sementara Banyu Martani berasal dari ayahmu. Banyu  artinya air. Martani  diambil dari  ki juru Martani, penasehat  kerajaan Mataram yang tersohor itu.  


Kata ibu dan ayah, Ki juru Martani juga disebut-sebut  Machiavellinya Jawa. Dia hidup sejaman dengan Machiavelli penemu trias politika. Martani juga berarti pencerah. Jadi Banyu Martani Air Pencerah. Jika digabungkan maka berarti, anak yang mengajarkan pencerahan. Seperti Sang Buddha. Ingatlah makna di balik  arti nama yang dtersanding  ke dalam dirimu. Jika kau berpijak dari nama itu saja, maka Tante yakin  kelak hidupmu  tak akan keluar dari  rel, kejahatan, keserakahan, kesombongan. 

Beberapa hari lalu, Tante mengunjungimu. Ayah dan ibu bekerja. Kau tidur. Tante agak kecewa. Jangan-jangan tak bisa menggendongmu. Kata suster, kau bisa tidur sejam-an. Di luar hujan. Sambil minum kopi, Tante memandangi hujan dari  pintu rumah Ibu. Romantis sekali. Ah...mungkin kau tahu Tante sungguh ingin menggendongmu. Belum setengah  jam kau sudah bangun. Suster bilang, kau akan menangis kalau digendong orang tak dikenal. 


foto terbaikmu karena sulit mendapat senyum semanis ini,


Kau tahu apa yang terjadi, ketika kau kugendong tak sedikitpun kau menangis.  Kau pasti ingat ketika masih di perut ibu, Tante sering menyapamu. Itu sebabnya kau tahu bahwa Tante bukan orang lain untukmu. Setelah kamu mengolet sebentar, Tante menggendongmu di pangkuan.  Kita berdua sama-sama menikmati hujan. Wow....tole...seperti tante kau juga suka hujan rupanya. Matamu terbelalak, seperti takjub. Senangnya....Dan berlatar hujan, Tante meminta suster memotret kita berdua. Hujan dalam kenangan bersama kau, Banyu Martani di Picardie, tempatmu yang sekarang semoga terus kau ingat. Seperti Tante mengingatnya dalam tulisan ini.


Yogyakarta, 3 Februari 2012.


Pukul  12.49.

Tentang Cinta

Karena ini bulan Februari yang konon disebut bulan cinta (karena perayaan Valentine? Oh...no) , maka saya mencoba menulis topik tentang cinta. Saya harus mulai dari mana ya? Sepertinya kisah cinta saya biasa-biasa saja. Eh jangan-jangan luar biasa ya? Pertama sampai seusia begini belum merit-merit juga. Yang selalu bikin saya agak kerepotan kalau sudah ditanya kenapa belum menikah juga? Dari mulai serius menjawab sampai  harus mengarang-ngarang jawaban biar si penanya ndak bertanya-tanya lagi hihihi.Kedua, sebenarnya hati saya ini milik siapa?


Karena bingung harus memulai dari mana, saya mencoba bercerita atas pertanyaan yang sering diajukan ke teman-teman saya. Siapa laki-laki yang paling kamu cintai dari sekian pria yang pernah singgah di hatimu? Jawaban saya begini : Saya selalu mencintai laki-laki dengan penuh ketika saya bersamanya. Hari ini sepenuh-penuhnya karena saya tidak tahu apakah besok  masih bersamanya. Kalau dia tidak lagi bersamamu?  "Saya tidak mau seperti keong. Penuh beban. Jalannya lambat. Menggenggam masa lalu itu saya ibaratkan keong yang selalu membawa rumahnya kemana-mana.


Pernah patah hati? Pernah dong. Berapa hari nangis? Cuma sehari paling lama. Dari pagi sampai pagi lagi cuma di tempat tidur. Bangun. Nangis. Bobok lagi. Bangun. Tetap nangis lagi. Sampai berhenti sendiri. Besoknya bangun sudah segar. Nggak langsung hilang sih. Biasanya masih kebayang-bayang sedikit. Setelah itu juga hilang lagi.Kadang-kadang sempat ngiri dengan orang yang bisa mencintai kekasih hatinya sampai berdarah-darah meski sudah berpisah. Kok bisa ya? Apa saya ini nggak manusiawi? Ndak berperasaan?


Saya tidak pernah melekati seseorang begitu dalam. Dia bisa datang cepat dan pergi juga cepat. Kalau sesekali bayangan seseorang melintas seperti hari ini, kok ya rasanya nikmat-nikmat perih ya? :) :) Btw, percaya nggak sih, ketika seseorang sedang melintas di kepalamu, maka kita, entah saya atau dia sedang memikirkan yang bersangkutan.  Maka, kalau seseorang itu kerap muncul, maka batin saya berbisik. "Ayo dong, ndak usah diinget-inget lagi." Kalau tetap saja muncul saya kembali berbisik, "Maunya apa, sih?


Tapi  dari sekian yang lelaki yang singgah dalam hati ini,  kenapa ya  mesti bertemu laki-laki pengecut yang cuma  memendam perasaan cintanya. Sampai-sampai saya berpikir begini, "Pasti aku mirip singa, sampai bikin orang keder, mau ngucapin cinta aja susahnya minta ampun." Hiks. Atau mungkin ada pria berkategori aneh yang menginginkan perempuannya yang mengungkapkan cintanya duluan. Waduh...Minta maaf deh...ndak bakalan saya lakukan. Hihihi.


Pertanyaan terakhir? Kepada lelaki seperti apa saya "takluk"?  Yang bisa "memegang" saya. Kapan membiarkan saya  melenggang pergi, tetapi mencengkeram dengan kuat ketika saya sudah kebablasan. Ada lagi? Tanggung jawab. Kriteria punya tanggungjawab ini saya dapatkan ketika dinasihati oleh ibu sahabat saya. "Rurit, carilah lelaki yang punya tanggungjawab." Karena cinta suami istri itu pada dasarnya cuma enam bulan saja. Setelah itu  mereka diikat oleh tanggung jawab. Oh begitu ya? Benar nggak sih? Jawab dong buat yang sudah menikah hehe.



Sebelum saya posting tulisan ini, saya baca dari awal sampai akhir, kok tulisan ini rada aneh ya?  Sepertinya saya kurang berbakat dalam urusan cinta. Hahaha....Pantesan kisah cinta saya nggak semulus jalan tol hihihi. Selamat malam deh.


Yogyakarta, 2 Februari 2012.

Pukul 19.29

Di antara deadline.

Rabu, 01 Februari 2012

Belajar Memasak Spagetti ala Chef Ine

spagetti sudah  siap santap. hemm enak.
 Memasak spagetti dalam bayangan saya susah banget. Setelah saya melihat proses memasak spagetti di rumah sahabat saya, Ine, baru tahu kalau masak spagetti itu  mudah, ndak rumit. Semudah bikin oseng-oseng kangkung hehe. 


Mudahnya, lantaran  bahan siap pakainya sudah tersedia, sih. Daging gilingnya sudah ada. Bahan sausnya juga sudah tersedia. Pula spagettinya tinggal direbus. Cemplung-cemplung dengan tambahan  bumbu bawang bombay, lada,  garam, plus keju,  jadi deh spagetti. 


Kegagalan memasak spagetti biasanya terasa kaku ketika sudah dalam hidangan. Nah, menyiasatinya tambahkan minyak atau mentega saat  hampir mateng. Lalu menjelang ditiriskan juga ditambahin olesan keju. Ine sendiri memasak spagetti atas permintaan putrinya Fa. Pada akhir pekan, dia memasak ini sebagai bonus untuk putera puterinya yang liburan. 


Karena  kesukaan putera puterinya beda-beda, maka dia juga memasak beraneka jenis masakan yang berbeda. Seperti pagi ini, sang puteri Fa dan Amanina pingin spagetti. Sementara puteranya,  Zyen pingin burger. Jadilah pagi itu,  Ine berjibaku di dapur demi memenuhi keinginan putera puterinya. So sweet banget ya. Ihwal memasak itu sendiri, sudah beberapa waktu, Ine memasakkan sendiri makanan pagi untuk putera putrinya, termasuk bekal mereka ke sekolah. Karena kesukaan mereka tidak sama, bekal ke sekolah pun juga tiga warna... Eduan.


Ada satu kata-kata di sela-sela obrolan kami di dapur ketika saya menyaksikan dia memasak. "Perempuan sehebat apapun dia, mau jadi sutradara, pejabat, artis, pengusaha, ketika di rumah dia tetap mengurus anak." Karena saya masih singgle :) jadi belum tahu bedanya. Tapi jelas obrolan ini bekal kalau saya kelak jadi ibu hehehhe. (siapa yang jadi pasangan saya ya?) 


Dari pengamatan menyaksikan dia menyiapkan spagetti, ini dia cara memasak spagetti ala chef Ine. Mudah banget.


Spagetti direbus.
Berikan mentega atau minyak agar saat disantap tidak keras atau kaku.
Potong bawang bombay sesuai kebutuhan.
Bawang bombay dan garam dioseng-oseng, tambahkan daun salam.
Tak berapa lama, daging direbus bersama bumbu.

Setelah beberapa saat, masukkan bumbu saus diudak-udak bersama keju.
Angkat jika merasa bumbunya sudah pas.
Hidangkan deh. Gampang, ya?

Pontennya: Maknyus, pemirsa :)


Yogyakarta, 2 Februari 2012 

Pukul 09.44